Minimnya Akses Internet Berdampak Bagi Pembelajaran Daring di Pedesaan
Cari Berita

Advertisement

Minimnya Akses Internet Berdampak Bagi Pembelajaran Daring di Pedesaan

Senin, 18 Januari 2021

Foto Penulis: Nurul Faizah

Oleh: Nurul Faizah (Mahasiswa Jurusan Akutansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang)


BERAWAL dari penyakit menular yang dikenal sebagai covid-19 yang masuk ke Indonesia pada 2 Maret 2020. Korban jiwa yang diakibatkan oleh adanya virus covid-19 ini terus bertambah, hingga akhirnya pada 16 Maret 2020 pemerintah mengambil keputusan untuk mengeluarkan kebijakan, dimana semua masyarakat harus melakukan kegiatan di rumah saja dan juga melakukan pembelajaran secara daring untuk meminimalisir penularan covid-19.  


Kebijakan untuk melakukan kegiatan di rumah saja cukup bagus untuk meminimalisir penularan covid-19, namun disisi lain bagi para pelajar yang bertempat tinggal di wilayah pedesaan cukup sulit untuk melakukan pembelajaran secara daring, dikarenakan minimnya akses internet. 


Pada tahun 2020 tercatat 64% wilayah di Indonesia yang telah terkoneksi internet. Sehingga masih ada 36% wilayah di Indonesia yang belum memiliki koneksi internet. Hal ini membuat sebagian besar dari wilayah Indonesia kesulitan menjangkau informasi.  


Internet merupakan akses yang mempermudah masyarakat dalam segala kegiatan mulai dari pencarian informasi, hiburan, pembelajaran, hingga digunakan untuk mencari penghasilan. Berdasarkan data pada Juli 2020 Indonesia menempati urutan ke-4 pengguna internet terbesar di dunia. Meskipun begitu masih banyak wilayah di Indonesia yang belum mendapatkan akses internet, utamanya bagi wilayah pedesaan. 


Pada masa pandemi ini internet sangat dibutuhkan bagi para pelajar, utamanya yang sedang melakukan pembelajaran daring. Selaras dengan riset sebelumnya terkait penyebaran akses internet yang tidak merata memicu kurang pahamnya pelajar akan materi yang disampaikan oleh tenaga pendidik, sehingga berimbas terhadap hasil penugasan dan juga menyebabkan kurangnya keikutsertaan pelajar dalam pembelajaran daring. Dengan begitu, pembelajaran daring ini tidak dapat dilakukan dengan maksimal layaknya seperti pembelajaran luring.


Terkait dengan sulitnya bagi para pelajar untuk memahami materi yang disampaikan, akan ada baiknya jika tenaga pendidik meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam merancang pembelajaran daring, sehingga lebih mudah untuk dipahami oleh para pelajar. Semoga kedepannya akses internet di Indonesia penyebarannya segera merata sehingga dapat mempermudah kegiatan masyarakat. (*).