New Normal Life ; Akankah Kembali Normal Atau Justru Abnormal?
Cari Berita

Advertisement

New Normal Life ; Akankah Kembali Normal Atau Justru Abnormal?

Kamis, 11 Juni 2020

NEW NORMAL

IndikatorBima.Com- Akhir-akhir ini jagad sosial media dihebohkan dengan kebijakan  baru Pemerintah “New Normal Life”. Wah senangnya, siapa yang tidak mau untuk hidup normal? Rasa-rasanya seluruh penduduk Indonesia sudah rindu dengan kehidupan seperti sedia kala sebelum adanya pandemi virus Corona. Tapi, benarkah kehidupan normal akan benar-benar dirasakan?

Pemerintah menerbitkan protokol baru dalam lingkungan pekerjaan ketika sudah masuk bekerja. Perusahaan diminta mengatur jarak antarpekerja minimal 1 meter. Hal itu tertuang dalam Surat Edaran Menteri Kesehatan Nomor HK.02.01/MENKES/335/2020 tentang Protokol Pencegahan Penularan Corona Virus Disease (Covid-19) di Tempat Kerja Sektor Jasa dan Perdagangan (Area Publik) dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha (Detiknews.com, 25/05/2020).

*Bagaimana Pendapat Para Pakar?*

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra, mengaku tidak sepakat jika kebijakan the new normal dilaksanakan dalam waktu dekat. Sebab, kata Hermawan, Indonesia belum mencapai puncak pandemi virus corona (Covid-19). "Kalau kami melihat dari sisi kesehatan masyarakat dan juga pakar kesehatan, kondisi kita saat ini memang belum melewati puncak krisis, belum melewati puncak pandemi, dan belum terkendali secara terpadu," kata Hermawan kepada Okezone, Rabu (27/5/2020).

Pakar Epidemilogi, Laura Yamani mengingatkan agar pemerintah memenuhi beberapa persyaratan. Laura mengatakan dalam penerapan kehidupan New Normal pasca-pelonggaran PSBB harus didukung kondisi yang aman dari penyebaran virus corona mulai melandai. "Kondisi yang aman, terjadi penurunan kasus yang konsisten minimal 14 hari atau bahkan sampai satu bulan," katanya kepada Okezone, Jumat (29/5/2020).
Pakar epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono menyebut pemerintah harus mengubah strategi penerapan protokol kesehatan dalam keadaan normal baru di tengah pandemi virus korona (covid-19). Penerapan protokol kesehatan tak bisa lagi mengandalkan aparat. "Tidak mungkin sebanyak-banyaknya polisi, satpol PP, tidak mungkin mengawasi seluruh Jakarta yang luas," kata Riono kepada Medcom.id, Sabtu(23/5/2020).

*“New Normal Life” Trend Global*

Inggris dan Amerika Serikat adalah dua negara Barat yang tengah bersiap melaksanakan new normal. Dikutip dari rmol.id (26/05/2020), Inggris melalui Menteri Luar Negerinya, Dominic Raab mengingatkan, saat angka kasus mereda dan wabah virus mulai melandai, orang-orang akan kembali kepada kehidupan normalnya lagi. Tak berbeda jauh dengan yang terjadi di Amerika Serikat (AS). Dikutip dari liputan6.com (26/05/2020), pemerintah AS telah melonggarkan lockdown sejak beberapa waktu lalu untuk membangkitkan kembali perekonomian yang sempat menurun.

*Normal Atau Abnormal?*

Wacana “New Normal Life” ini nampak memberi secercah harapan bagi masyarakat. Tapi apakah sudah tepat? Harusnya sejak awal, pemerintah melakukan lockdown untuk daerah-daerah yang menjadi zona merah dalam waktu singkat, sehingga daerah lain yang masih zona hijau bisa terhindar dari penularan. Sementara untuk saat ini, angka positif Covid-19 di Indonesia masih membumbung tinggi. Angka penambahan pasien positif saja masih pada kisaran ratusan, hingga adakalanya beberapa kali hampir menyentuh angka 1.000. Karenanya, tentu cita-cita normal baru sebagaimana yang berlaku di dunia Barat tadi sebaiknya disimpan dulu hingga waktu yang belum dapat ditentukan.

Namun jika tetap memaksa pemberlakuan “New Normal Life”, maka wacana tersebut tak ubahnya sekadar membebek pada tren global. Seolah-olah negara ini sudah benar-benar siap menghadapi tantangan berikutnya, termasuk peluang gelombang kedua corona. Pemerintah selaku pejabat dengan pengamanan berlapis mungkin tidak merasakan, tapi rakyat dan para tenaga kesehatan (nakes) adalah pihak yang berjibaku langsung dengan penyebaran Covid-19. Dengan demikian, wacana dan tindakan “new normal life” semacam inilah yang justru abnormal.

Apakah kehidupan normal baru yang ternyata membebek kepada dunia Barat ini patut untuk diikuti dan layak menjadi panutan dunia Islam? Bukankah Islam memiliki pedoman tersendiri dalam menghadapi pandemi yang super lengkap dan telah tercatat oleh sejarah tinta emas. Seandainya kita ingin benar-benar kembali hidup normal, maka pilihannya adalah menjadikan Islam sebagai sumber aturan kehidupan termasuk dalam menghadapi wabah.

_Wallahua’lam bi ash-showab_



Penulis : Ners Lenny Aprilianty (Akademisi dan Pemerhati Sosial)