Khawatiran Orang Tua Terhadap Pembelajaran Di Desa
Cari Berita

Advertisement

Khawatiran Orang Tua Terhadap Pembelajaran Di Desa

Kamis, 07 Mei 2020

Foto : Penulis
IndikatorBima.com-Khawatiran Orang Tua terhadap Lumpuhnya Proses Pembelajaran di Desa Wabah Covid-19 di Indonesia telah melumpuhkan semua aktivitas di berbagai bidang. Tak terkecuali di bidang pendidikan. Setelah Indonesia ditetapkan sebagai negara darurat corona, maka berbagai regulasi dicanangkan untuk menanggulangi meluasnya penyebaran serta penularan virus corona tersebut. Tidak ketinggalan pula dari Kementrian Pendidikan yang mengeluarkan surat edaran yang ditujukan kepada seluruh stakeholder lembaga pendidikan. Mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Surat edaran dengan Nomor3696/MPK.A/HK/2020 perihal pembelajaran daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) tersebut, diharapkan sebagai langkah cepat dari Kementerian Pendidikan dalam memutus mata rantai Covid-19.

Surat edaran dari Kementerian Pendidikan tersebut juga diikuti oleh setiap daerah untuk meliburkan atau memindahkan proses pembelajaran di rumah dengan sistem daring (online). Tak ketinggalan pula Kabupaten Bima. Setelah melakukan pertemuan dengan gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) serta seluruh bupati dan walikota di Mataram pada 15 Maret 2020, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bima meliburkan semua lembaga pendidikan dari TK, SD, hingga SMP. Dengan tenggang waktu belajar di rumah selama 14 hari. Terhitung mulai dari 16 Maret 2020 hingga 29 Maret 2020. Namun akibat dari semakin menyebarnya wabah corona, maka masa belajar di rumah diperpanjang dengan waktu yang belum ditentukan.

Pemberlakuan belajar daring disambut baik oleh setiap lembaga pendidikan. Mereka mengeluarkan surat edaran kepada semua civitas sekolah untuk memberlakukan sistem daring. Mulai dari pelayanan akademik sampai pada proses belajar mengajar. Di wilayah perkotaan, kita menyaksikan kesibukan orang tua, guru dan murid dalam menyiapkan segala penunjang pembelajaran daring tersebut. Namun berbeda dengan sekolah yang berada di desa-desa di wilayah Kabupaten Bima. Selama masa pandemi, para siswa dibiarkan berkeliaran tanpa diberikan pembelajaran melalui sistem daring oleh pihak sekolah. Saya menyaksikan anak-anak yang sudah berbulan-bulan tidak mengikuti proses belajar. Hal itu membawa kekhawatiran orang tua siswa. Para pelajar yang masih belia tak diberikan bekal pendidikan dan pembelajaran selama wabah corona ini. Mereka mengkhawatirkan nasib anaknya pasca wabah Covid-19 ini. Anak-anaknya sudah lupa materi-materi yang didapatkan di sekolah. Sehingga memerlukan pengulangan dari dasar karena rentang waktu penghentian proses belajar yang cukup lama, kemampuan kognitif para pelajar tak diasah dengan baik. Di tengah pandemi ini, di satu sisi menurut hemat penulis kita tidak bisa menyalahkan pemerintah, guru, orang tua, maupun siswa. Namun guru dan wali siswa harus bekerja sama dalam proses pembelajaran di rumah. Guru menjalankan tugasnya sebagai pengajar dengan melakukan pembelajaran dengan sistem daring yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Sementara orang tua melaksanakan tugasnya di rumah sebagai pengontrol aktivitas belajar serta menyiapkan segala media sebagai penunjang dalam proses pembelajaran daring tersebut. Karena orang tua tidak bisa menyerahkan sepenuhnya proses belajar anaknya kepada guru maupun pihak sekolah.

Proses pembelajaran di tengah pendemi ini memerlukan keharmonisan antara elemen pendidikan. Baik dari orang tua, guru, maupun masyarakat. Hal ini tentu saja tidak hanya berlaku saat pandemi. Namun dapat berlaku kapan pun dan di mana pun. Apabila guru di desa-desa di Kabupaten Bima gagap dalam penggunaaan media pembelajaran elektronik, maka ini harus menjadi perhatian serius Dinas Pendidikan setempat. Dinas dapat memberikan pelatihan khusus. Jika kondisi saat ini tidak memungkinkan proses belajar secara daring, maka pembelajaran dengan melakukan tatap muka juga perlu dilakukan. Dengan syarat tetap jaga jarak.  Pembelajaran tatap muka ini dilakukan dengan membentuk kelompok belajar. Hal ini dilakukan guna menghindari kevakuman, tetap mengasah otak anak dalam mengingat materi yang didapatkan, menyegarkan pengetahuan para siswa, serta mengurangi anak bermain. Terlepas dari kondisi di Kabupaten Bima, penulis berharap tidak hanya berfokus pada penanganan Covid-19. Dinas Pendidikan harus memperhatikan bagaimana kondisi sekolah-sekolah serta proses belajar mengajar di beberapa desa selama masa pendami ini. Caranya dapat dilakukan control secara rutin dan serius.

Penulis : Nur Hasanah, Mahasiswa Magister Study Islam Universitas Islam Indonesia (UII Jogjakarta)'