Relawan Kemanusiaan Bima Minta Tenaga Kesehatan di Rapid
Cari Berita

Advertisement

Relawan Kemanusiaan Bima Minta Tenaga Kesehatan di Rapid

Jumat, 24 April 2020

IST/IB - Rangga Babuju, Penanggungjawab 'Babuju Care Centre' (BCC) Bima, yang merupakan salah satu Pekerja Kemanusiaan di Bima dan Dompu.
KOTA BIMA - Wabah Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) adalah wabah yang kini menjadi Pandemi Global. 197 Negara terjangkit oleh virus yang muncul di Kota Wuhan China ini. Vaksin anti virusnya masih diteliti dan diuji coba oleh para Pakar diseluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.

Data kasus Covid-19 yang diumumkan Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19, Achmad Yuriato, Kamis 23 April 2020, masyarakat Indonesia yang terkonfirmasi Positif 7.775 orang, ada 647 orang yang sudah meninggal dunia. Sementara yang sembuh mencapai 960 orang. Tak terkecuali tenaga Medis.

Tidak sedikit para Tenaga Medis (Dokter, Perawat, Bidan hingga Cleaning Service RS) ikut diserang oleh Virus ini. Ada puluhan tenaga medis yang meninggal dan lebih dari 100 orang Tenaga Kesehatan terpapar positif Covid-19. Di NTB pun demikian. Termasuk di Kabupaten Dompu, 3 Dokter dan 1 perawat di salah satu Puskesmas dinyatakan reaktif Positif Rapid Diagnostic Test (RDT). Sehingga untuk sementara Puskesmas tersebut ditutup sementara waktu.

Di RSUD Kota Bogor pun demikian, 51 Tenaga Medis dinyatakan Positif Covid-19 dan langsung dikarantina khusus. Akibatnya pelayanan Umum di RSUD Kota Bogor dihentikan sementara waktu.

Sebab itu, para Penggiat Kemanusiaan Bima Dompu meminta kepada Pemerintah daerah untuk segera melakukan RDT terhadap para Tenaga Kesehatan (Nakes) ini. Lebih khusus yang berhadapan langsung dengan pasien terkonfirmasi Positif dan yang RDT nya Reaktif Positif yang tersebar diberbagai Puskesmas.

Rangga Babuju, Penanggungjawab 'Babuju Care Centre' (BCC) Bima, salah satu Pekerja Kemanusiaan di Bima dan Dompu mendesak Pemerintah daerah untuk melakukan RDT terhadap para Pekerja medis. "Melihat Kondisi terkini, kami khawatir para Nakes di Bima Dompu terpapar Covid-19, setelah 3 hari terakhir jumlah Pasien Positif Covid-19 langsung 'meledak'. Mohon menjadi perhatian pemerintah," tuturnya saat ditemui di kediamannya Kelurahan Santi, Kota Bima, Kamis 23 April 2020 malam.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa para Relawan Kemanusiaan Bima Dompu ini, sudah melakukan advokasi di sejumlah wilayah. Misalnya di Puskesmas Bolo, 9 orang yang dikonfirmasi positif hasil swab pada 21 April lalu, hingga hari ini, tidak ada satupun Nakes yang di Rapid. Di RS Pratama Manggelewa Dompu maupun di Puskesmas Kilo pun demikian.

"Pemerintah imbau warga untuk social distancing, perketat penjagaan batas wilayah, pemberlakukan jam malam, akan sia-sia jika Para Nakes yang berhadapan langsung degan ODP, PDP dan Pasien Positif ini tidak dijaminkan keselamatannya. Kecolongan di PKM Dompu Kota harus dijadikan pelajaran dan pengalaman kita bersama. 3 dokter dan 1 orang perawat reaktif Positif RDT," ungkapnya.

Lebih lanjut, lelaki yang cukup aktif diberbagai kegiatan kemanusiaan dan kebencanaan ini, menyatakan bahwa, alasan minimnya alat RDT tidak masuk akal, "Kalau alasan unit RDT sangat terbatas dan minim, itu uang miliaran rupiah untuk penanganan Covid-19 jangan diproyekin buat yang tidak prioritas," Sambungnya sembari menunjukan hasil advokasi penanganan Penyebaran Covid-19 di Bima Dompu yang dianggapnya keliru.

Penanganan Covid-19 di Bima, jika Nakes tidak dijaminkan keamanan dan keselamatannya, maka sia-sia upaya bersama dalam memutuskan mata rantai penyebarannya. Menurutnya, baru menghadapi Gelombang I, entah sampai kapan. Serangan Gelombang II akan semakin parah karena bersamaan dengan terjadinya Transmisi Lokal dan Mutasi genetika virus. 

"Pikirkan keamanan dan keselamatan para Nakes yang berhadapan dengan Carrie Covid-19 dengan menyediakan APD lengkap dan dilakukan RDT secara berkala kepada mereka. Jika tidak, Yach Wassalam semua usaha bersama ini menjadi sia-sia," tutupnya. (Han/indikatorbima.com).