Premanisme Intelektual; Mahasiswa Tidak Pernah Mati
Cari Berita

Advertisement

Premanisme Intelektual; Mahasiswa Tidak Pernah Mati

Senin, 24 Februari 2020

Foto: Nilam Sari, Penulis
Penulis: Nilam Sari

DIHELA dinding-dinding langit kamar, sinar mentari menyentuh lembut kelopak mata yang sangat lelap menyimpan berbagai rasa karena ditempa oleh waktu sehingga terukir menjadi bagian dari takdirku membuat diri terbangun lalu sadar bahwa keadilan untuk pejuang sejati telah di bungkam dan di dzolimi oleh representatif dari makhluk yang begitu ta’at tetapi ingkar. Api amarah begitu memanas membakar seluruh keraguan yang ada, menolak dengan tegas ketakutan yang hadir dan meyakinkan hati serta pikiran untuk berjuang mempertahankan marwah sebagai pejuang yang seharusnya tidak pantas di kendalikan oleh uang dan jabatan yang mengikat dalam diri sang pepimpin (katanya).

Suara mulai gentar bergemuruh dimana-mana, bendera berkibaran kokoh dengan lambang yang berbeda bagaikan pelangi,yang berkumpul dalam tempat yang satu sehingga menyatu dalam garis perjuangan dan jalanan di penuhi oleh warna kebanggaan (Almamater) sebagai bentuk legalitas premanisme intelektual (Mahasiswa) bukan premanisme badui yang sengaja dihadirkan oleh seorang pemimpin intelektual katanya, sama sekali tidak mencerminkan diri sebagai pemimpin intelektual menciptakan konspirasi yang hina untuk menindas pejuang keadilan. Terik matahari pun mulai menyengat, kulit seolah terbakar, keringat mulai bercucuran dan suara-suara di tengah jalanan semakin gentar bergemuruh begitu semangat karena kekecewaan dan pilu yang mendalam terhadap apa yang di lakukan oleh pemimpin intelektual sebagai tauladan yang di banggakan kini layaknya benalu.

Lelah dalam diri tidak lagi di hiraukan, rasa sakit yang menghampiri ditelan mentah-mentah bagaikan bara api menggerogoti tubuh seperti menikmati gula yang larut dalam kopi, suara ledakan dimana-mana, anak peluru seharusnya tidak sembarang digunakan kini berkeliaran dengan mudah, bebatuan jatuh seperti hujan batu menyentuh kaca bangunan dan gas air mata berterbangan di alam bebas seperti oksigen saja. Suara gentar bergemuruh semakin menyengat dalam gendang telinga, senjata ditodongkan semaunya tanpa mengenal belas kasih lebih-lebih mengenal Hak Asasi Manusia (HAM) dan Try Dharma yang mereka junjung tinggi, almamater sebagai identitas kebanggaan tergeletak di tanah bahkan tersentuh oleh pisau dan api, jalanan pun dipenuhi keringat dan darah bercucuran di atas aspal sekaligus menjadi saksi bisu kericuhan karena ego dan kepentingan pihak.

Di segala arah saling berbenturan, tangan kosong melawan senjata aparatur negara sekaligus pengawal masa aksi yang membabi buta. Aspirasi-aspirasi begitu gentar di suarakan di anggap sebagai racun yang membunuh pemimpin intelektual (bajakan) terhadap dunia sehingga uang dari pejabat angkat bicara dengan mudah memberikan ruang untuk menghentikan gerakan sang pejuang dan mulai nampak siapa sebenarnya pejuang sejati bukan yang menjual gerakan untuk kepentingan serta sentimen yang lahir dari ego sang aparatur keamanan katanya.

Tubuh bergetar, tidak gentar untuk mundur sebagai pejuang sejati karena perjuangan tidak mengenal mati sebab gugur dalam perjuangan adalah takdir terindah. Satu persatu pejuang lari menemukan hela-hela untuk menghirup sedikit udara yang tidak di cemari oleh gas air mata, sebagian lari ketakutan melihat aparat seperti sang Jibril, ada yang lari berhamburan seperti kambing ketika ditodokan dengan senjata dan ada pula yang memberontak dan tak takut dengan apapun sekalipun diseret seperti hewan untuk berada di balik jeruji besi Meski sang pejuang gugur karena jahatnya yang berkuasa tanpa mengenal apa yang harus dilakukan dan tak semestinya dilakukan, tetapi hati yang niatannya suci atas nama perjuangan tidak akan pernah gugur dan darah itu akan mengalir sampai keadilan yang sesungguhnya itu nyata terwujud.

Penulis: Nilam Sari adalah mahasiswa jurusan Kimia STKIP Bima.