Membangun Kebersamaan dalam Kontestasi Politik Pilkades (DAMAI)
Cari Berita

Advertisement

Membangun Kebersamaan dalam Kontestasi Politik Pilkades (DAMAI)

Selasa, 24 September 2019

Penulis : Subhan, S.Hut (Baju Biru-Tengah)
Bangsa Indonesia yang sadar di desa Rupe tentunya berharap agar memperkuat tali persaudaraan dan kebersamaan menyongsong pemilihan kepala desa.

Pilar kebersamaan memang menjadi mimpi yang sulit menjadi nyata jika terus digerogoti oleh para provokator yang menularkan anarkisme, mengajak praktik politik tidak santun, menyebar virus intoleransi, menyebarkan isu provokatif, hingga membisiki kalimat-kalimat hujatan.

Sehingga semuanya perlu saling mengingatkan bahwa bingkai kebaikan kepada semua elemen bangsa penting dan hal utama untuk ditegakkan dan diperkuat, karena ragam kekerasan itu merefleksikan runtuhnya kebersamaan, sebab diyakini segala manuver provokator bisa diredam bersama jika kebersamaan ditegakkan dan kokoh.

Setiap tindakan harusnya dipertimbangkan dampaknya bukan hanya bagi diri sendiri atau kelompok karena kebersamaan mampu merawat toleransi.

Semua calon kepala desa dalam berkompetisi di pesta demokrasi Pilkades Rupe tentunya akan menyebarkan bahwa nilai kebersamaan itu penting, dengan hal ini maka masyarakat perlu melihat dengan benar dan cerdas mana calon pemimpin yang mampu membangun kebersamaan itu untuk orang banyak (bukan saja kelompok), hingga pada akhir perjuangannya dalam membangun dan mengedukasi masyarakat.

Memang diakui membangun kebersamaan ditengah-tengah masyarakat penting juga didukung dengan pengalaman, ilmu, pengetahuan dan ide/gagasan yang dilaksanakan dengan konsep yang bisa diterima masyarakat.

Mahasiswa, generasi muda, kaum millenial di desa Rupe yang mampu memikirkan bagaimana pahitnya orang tua yang telah susah payah bekerja keras agar seorang generasi menjadi berilmu dan berpengatahuan sehingga memiliki pengalaman, tentu memiliki kemampuan memanajemen bagaimana menyatukan bangsa untuk membangun, karena jelas, hal tersebut sudah menjadi pekerjaan utama mereka dalam berhimpun, agar menjadi "orang", hal ini dibuktikan dengan niat baik salah satu generasi terbaik desa Rupe Jafrin, S.Pd (kemeja putih) yang memberanikan diri maju dalam kontestasi politik desa Rupe.

Mengutip yang disampaikan Jafrin, S.Pd, ia mengatakan bahwa, "saya memiliki seribu bahkan segudang ide/gagasan untuk membangun desa Rupe, tapi hal itu tidak ada nilainya jika tidak didukung, tidak bisa diterima masyarakat, tidak ada do'a dari orang tua, dengan kebersamaan yang kuat. Kita juga harus bisa menyesuaikan dengan keadaan masyarakatnya".

Pernyataan ini artinya, menyatakan dengan tegas bahwa nilai kebersamaan itu hal yang sangat penting dan utama dalam mendorong suksesnya ide/gagasan untuk membangun desa yang berkemajuan. Apalagi, Calon Kepala Desa Nomor Urut #Satu ini berniat membangun desa dengan konsep #DAMAI (Demokratis, Adil, Makmur, Amanah & Indah). Musyawarah mufakat seluruh elemen masyarakat wajib dilakukan.

Mahasiswa dan pemuda, sebenarnya dikenal dan disegani karena memiliki ide/gagasan serta konsep jitu untuk membangun bangsa dan negara, bukan karena ia memiliki sekarung emas atau memiliki banyak uang, apalagi hanya bisa menyebar isu-isu propaganda, bukan!!!, ya memang karena mereka memiliki ide-ide brilian.

Dengan begitu, sangat disayangkan seorang generasi muda telah menyampingkan soal ide/gagasan, apalagi jika dalam memilih seorang pemimpin dan memutuskan sikap politik kepada calon-calon pemimpin yang tidak memiliki ide dan gagasan baru, saya pun sebagai generasi muda berharap tidak ada generasi seperti itu, karena mungkin saja, seseorang menjadi calon pemimpin tentunya memiliki ide/gagasan.

"Senyum manis saja ☝️"

Penulis : Subhan, S.Hut