Selayang Pandang Kurujanga "Londo Awa La Due" (Bagian 4)
Cari Berita

Advertisement

Selayang Pandang Kurujanga "Londo Awa La Due" (Bagian 4)

Jumat, 16 Agustus 2019

Penulis : Drs. H. Ruslan H. Idris
Pertumbuhan penduduk di Butu Kalendo dan perkembangan zaman, maka weki ro lenga berfikir turun pindah ke tanah dataran rendah dikaki gunung Kalendo di So La Due.

Keluarga besar dari Butu Kalendo menjadikan tempat itu sebagai tempat tinggal dan diberi nama Kampo La Due. Begitu pula dengan perpindahan itu, menjadikan pula penambahan istilah jabatan pimpinan NCUHI berubah nama “DARI TAPU”, pimpinannya berasal dari pangkal pokok buah (Tapu Wua Haju; tapu wua ponda, tapu wua Niu).

Dapat dikatakan, bahwa Dari Tapu: Turunan dari sebelumnya Turunan Ncuhi.

Cikal Bakal Kurujanga

Menjadi keharusan setiap rumah keluarga, beraktifitas berternak ayam (Ntadi Janga). Dapat dibayangkan betapa riuh rendahnya (Nggari) kampo ro mporo dengan suara kotek-kotek dan kokok ayam rumah penduduk yang dibuat Uma Ri’i Paa Sakolo berkolong (wombo) dijadikan tempat kandang (Kuru) ayam.

Disitu pula disediakan tempat-tempat bertelurnya induk ayam (Jura). Tiap pagi diberikan pakan (pani) dari dedak (ku’u) padi, jagung, gandum.

Kegiatan hidup keseharian masyarakat, selalu bergelut dengan Kuru ro Janga, terungkap sebutan Kurujanga nama Kampo La Due menjadi Rasa “Kurujanga”.

Caha Ro Mihi Dou Kurujanga

1. Kanggihi Ro Kanggama.

Andalan pokok mori ra woko masyarakat Kurujanga, tidak lain adalah Ngoho Oma. Sebagai masyarakat yang terbiasa tradisi musyawarah dan kekeluargaan, apabila tiba saatnya berhuma-ladang, yaitu Mbolo Kasama Weki:
a) Musyawarah (Mbolo) penentuan lokasi Ngoho
b) Membagi-bagi (Cengga Dana) di lokasi Ngoho secara musyawarah dipimpin oleh seorang ketua atau Panggawa So Oma.
c) Pembabatan (ngoho), mempersiapkan diri dengan alat-alat dan kebutuhan makan minum, seperti;

  • Peralatan : Cila mboko, ponggo, wadu ramba, lapi cila wanga, sadopa huri maju, jongko jura.
  • Makanan : oha/kabaho oha, ponda wila oi nono, uta karamba ntari, mbohi kase’e/kapenci sia dungga.

d) Setelah pembabatan (ngoho), penentuan hari pembakaran oleh Panggawa, yaitu hari Ka’a Oma secara serentak.
e) Sisa pembakaran Ka’a Oma, dirampungkan dengan kegiatan Ma’a Oma
f) Waktu tanam (Ngguda) ditentukan oleh Panggawa.
Tanam dengan sistem

  • Tanam perorangan (ngguda ndai) atau ceperima.
  • Tanam gotong royong oleh siwe-mone sampela, mone bertugas sebagai pelubang tanah (caki), dan siwe bertugas sebagai penabuh bibit (puri), sambil berpantun (patu lo’o) muda mudi.

g) Pembersihan/penyiangan (Hui)
Pembersihan tumbuhan pengganggu (lalondu, masaki).
h) Do’a Kalosa Cu’a bersama oleh Penggawa So.
i) Masa tunggu/penjagaan dari musuh tanaman, kera siang hari, babi malam hari. Dibuat Salaja Santawo dipinggir ladang.
j) Waktunya panen raya (Pako Oma).

  • Para lelaki sibuk ke gunung mencari bambu untuk tali ikat (Oo Konci) dan Oo Katongga
  • Para perempuan sibuk menyiapkan ani-ani (Kentu) dan bahan makanan (Oha fare bou), sayur (uta mbeca bue), ikan (karaba ntari, uta tela bangkolo).
  • Para bapak (Ama) sibuk membuat tempat menyimpan padi (fare pako) yaitu kayu cabang berbambu panjang (jala randa), ikatan padi (kapi fare: todo, kapi, kelo, wuwu,jala) dan membuat tempat menyimpan padi ikat (fare kapi: sanggopa/lulu fare).

k) Akhir masa ladang (Londo Oma)

  • Do’a bersama dan penentuan hari turun ladang. Disiapkan : karodo/kalo jawa, janga sanggapi, oha bura, oha santa leke, oha witi/latu leke, doco ringa/doco paranggi.
  • Pengangkutan padi (lemba kalondo fare) dengan kerja angkut/pikul sendiri (lai ndai) dan angkut/pikul bersama-sama (lai ndece).
  • Tradisi setelah satu bulan turun dari ladang, akan naik kembali untuk mengambil atau memetik tanaman: memetik kapas (poke wunta), memetik terung (kadui tarende labo kadui paranggi), memetik timun (wua mbolo), memotong wijen (dompo ringa).


2. Muna To Medi

Pekerjaan rumah tangga oleh ibu-ibu dan siwe sampela yang merupakan kegiatan industri rumah tangga, yaitu tenunan kain (muna ro medi).
a) Bahan pokoknya hasil tanaman diladang yakni kapas (wunta).
Proses kegiatan ibu/ siwe sampela sbb:

  • Lili wunta, penyisihan biji kapas (linci) dengan alat penggiling
  • Boe wolo, kapas yang tersisih bijinya, diperhalus dengan cara dipukul-pukul diatas kulit menjangan (kapa maju)
  • Mbenti wolo, kapas diperhalus lagi semacam induk anak panah didalam wadah jura wolo
  • Medi wolo, pemintalan kapas menjadi benang dengan alat (janta). Biasanya pekerjaan ini dilakukan oleh siwe-siwe sampela pada malam hari, besamaan saat datang pemuda (kakaro).
  • Alat penerangannya, biasa mengumpulkan kayu, tempurung kelapa dibakar sebagai penerang.

b) Bahan setengah jadi, dilanjutkan ke proses tenun (muna)

  • Ale kafa, benang pintalan medi, digulung dengan alat penggulung Ale
  • Pengecatan (lo’i kame’e kai ro’o dau)
  • Penguraian benang dengan alat pemutar (langgiri)
  • Penguraian benang langgiri ke alat ngane
  • Penenunan dengan peralatan :tampe, lira, teropong, sisi, cau, taliri tandi
  • Kain siap dipakai baik dalam bentuk sarung, celana dll.


Penulis : Drs. H. Ruslan H. Idris
Editor    : Adi Wahyudin, S. Kom