Selayang Pandang Kurujanga "Asal Usul Kurujanga" (Bagian 2)
Cari Berita

Advertisement

Selayang Pandang Kurujanga "Asal Usul Kurujanga" (Bagian 2)

Sabtu, 03 Agustus 2019

Penulis: Drs. H. Ruslan H. Idris
Dou Ma Mai Ta Ese Doro Na'e

Pemukiman:
Dalam kurun yang lama, kelompok moyang di Patua menyebar turun ke daratan rendah, salah satunya kelompok hidup yang tinggal di Doro Butu Kalendo.

Mata Pencaharian (NGUPA RA DEI):

  • Bercocok tanam (Kanggihi ra Kanggama), berladang Oma di doro Pana.
  • Ternak (Ntadi ro Ntedi): ternak kambing (ntadi Mbe’e), ternak Ayam (ntadi Janga).
  • Berburu (Nggalo): Berburu rusa di Doro Pana.
  • Nelayan (Ngepe): Ngepe Sori: duna, kapanto, kambo’o, kada. Ngepe moti: kera kaluka, dodo salaja, hee ewo, hee keu, uli tangiri, kapenci, huu kasee, kili nganda, nggilo duna, keu, kadiki, kasii, uta.


Kepercayaan/Agama: Animisme, dinamisme dan Hindu.

Tradisi dan budaya:

  • Pembuatan rumah : Uma Ngguwu, Salaja Panta nindi ati mpori, tota Oo Kalaba.
  • Pembuatan Sampan: Luna haju rope - sampan wese.
  • Peralatan penangkapan ikan; Keranjang ikan: Wosa, Bodo, Katotu, Sai.
  • Peralatan pertanian : Alat bajak ( Rawi ro haba); Nggala, Cau, Oka, Na’o, Ai Pehi.
  • Peralatan Kesenian : katongga Oo, Jalitu mila, Sarone, Kafoa, Babende, Kabu Sii Gali, Saronto Oo.Lesung: kandei, nocu, aru.
  • Pandai besi (Pande Ndede): cila, piso, cu’a, ponggo.
  • Peralatan dapur (Riha ro Roa): Sendok (Cedo Koha), Kerucut (Ro’o Salunga),Gelas (katoo ni’u), keranjang (jura cedo),Piring (Kale’a), keranjang beras (katepa bongi), tabung bambu (poo-oo), parutan (saworu).
  • Peralatan tenunan (Mura ro Medi). Pemintalan benang (Medi): Lili wunta boe wolo, mbenti wolo, janta medi, ale kafa, langgiri ero, ngane ero. Tenunan (Muna): Tampe, dapu tampe,lira, taropo, taliri, sisi.


Dou Ma Mai Ta Awa Moti

Kedatangan pelaut pulau seberang:

Pendatang dari pulau seberang melewati lautan lepas, terbawa arus masuk Asa Moti Langgudu pertama tiba di Sarae Tolo Toro Todu So Sido Langgudu.

Apa itu Sarae Tolo, Toro Todu dan So Sido?

  • Sarae Tolo, yaitu hamparan pasir putih sejauh mata memandang, diatas pantai ada bekas sawah diantara gunung Toro Todu dengan gunung Mambe Kangento Langgudu.
  • Toro Todu: Toro yaitu belokan/tikungan tepi pantai. Todu artinya Tudung yang menjunjungi dari tiupan angin laut Asa Langgudu.
  • So Sido: teluk kecil sebelah barat Toro Todu yang dirasa aman untuk berlabuh.


Jadi Toro Todu adalah tempat yang dinilai aman untuk berteduh bagi pelaut atau nelayan setelah melewati arus gelombang (mbere moti) di Mangga Langgudu dan masuk berlabuh istirahat di teluk Sido.

Pemukiman Pelaut Pulau Seberang:

Pelaut yang melewati selat di Nisa Sobu akan tertarik oleh arus ke selat Mangga Langgudu, sudah pasti terbawa masuk laut Asa Langgudu.

Masa istirahat di Toro Todu yang lama, menjadikan pelaut pulau seberang memilih bermukim dan mencari hidup disitu.

Sebagai penguatan anggapan, pelaut pulau seberang itu tinggal mukim di Toro Todu:

  • Bekas kehidupan di Doro Todu tanahnya rata, ada pecahan guci keramik (tobe muja).
  • Bekas sawah tadah hujan (Oma/Tolo Mango).


Asal muasal kampung halaman para pelaut, bukan dari satu tempat asal dan atau satu suku. Sebagai bukti sampai sekarang, bilamana perahu yang lewat laut lepas dari selatan ujung Langgudu maupun dari utara Asa Moti Langgudu ketika angin kencang dan bergelombang besar, sudah tentu terbawa arus Nisa Sobu dan Mangga Langgudu. Para nelayan atau pelaut pulau seberang itu, sebagai penopag hidupnya, bekerja sebagai:

  • Berladang dan bersawah di Sarae Tolo.
  • Berburu rusa di doro Langgudu.
  • Mencari ikan dengan panah (fana uta), moti siput, mencari jejak kura-kura (he’e dolu fonu).


Namun satu hal yang menjadikan sulitnya di Toro Todu, yaitu air tawar. Sumber mata air hanya ada di Mada Oi Sido jauh diatas gunung Sido. Kalaupun usaha menggali sumber air sumur, diSarae Tolo dan So Sido, airnya asin dan pahit.

Perpindahan Pelaut Pulau Seberang.

Kondisi yang demikian, membuat para pendatang berpikir untuk mencari tempat sepanjang pesisir pantai dari Toro Sido, Toro Lamba Eri, Toro Parangga jara, Toro Rao, Toro Mboro, Toro Sedu menyeberang ke Toro Nuntu dan berlabuh di doro To’i.

Pemukiman Baru Pelaut Pulau Seberang.

Doro To’i di Soro Kurujanga menjadi tujuan hidup para pendatang di tanah seberang. Dalam kelompok itu ada yang berasal pulau seberang suku Bajo, karena itu di doro To’i ada hamparan batu cadas (kalate) tepi laut diberi nama kalate Bajo.

Sebagaimana lazim, pendatang baru yang masuk diwilayah kekuasaan suku setempat, oleh kelompok pendatang bertemu dan melapor (Ropo) izin tinggal di doro To’i kepada Ncuhi Kalendo. Dengan senang hati, Ncuhi Kalendo menerima kedatangan mereka, dan menjadi warga Ncuhi Kalendo.

Penduduk Ncuhi Kalendo merasa senang dan bersaudara dengan pelaut tanah seberang, sebab:

  • Pendatang tanah seberang datang dengan perahu yang besar dan bagus, untuk dijadikan contoh pembuatan perahu.
  • Pencarian ikan, membuat perangkap ikan yang bagus, untuk dipasang di laut yang dalam Katotu Moti,panah ikan dengan berkacamata, Tee Sai Moti, kesenian gambus (Kobi Gambo).


Mendapat izin dari Ncuhi, pendatang tanah seberang bermukim di atas Doro To’i langsung sebagai tempat labuhan perahu (soro) ditepi timur doro To’i.

Kedatangan pelaut tanah seberang itu dalam tempo yang tidak lama terjadi pengaruh tradisi baru terhadap pemukiman asli Rasa Doro Kalendo, antara lain:

  • Seni Gambus(pengaruh bugis)
  • Pembuatan rumah (pengaruh bugis)
  • Pembuatan perahu layar (pengaruh bugis)
  • Peralatan penangkapan ikan, dan lain sebagainya.


Hal yang menguatkan, bahwa pendatang suku Bajo dari pulau seberang:

  • Ditemukan kuburan tua dipinggir pantai Doro To’i pada tahun 1970-an berisi cerek keramik, tengkorak kepala manusia.
  • Pengaruh pembuatan rumah Paa Sakolo, perahu layar, seni gambus dan penangkapan ikan.


Bergabung dengan Penduduk Asli.

Pendatang tanah seberang, pindah bergabung dengan penduduk Doro Kalendo, jumlahnya 500 meter dari Doro To’i. Alasan pindah naik ke Doro Kalendo, karena di Doro To’i, kalate Bajo tidak aman. Disitu merupakan lokasi kehidupan buaya (Rewo Mba’i) dari So Ropa Leke, So Doro To’i, So Ropa Nanga La Due, So Ropa Nanga No sampai sekarang.

Bersambung.........!

Penulis : Drs. H. Ruslan H. Idris
Editor    : Adi Wahyudin, S.Kom