Re-Reading Qur'an
Cari Berita

Advertisement

Re-Reading Qur'an

Selasa, 30 Juli 2019

Oleh : Syamsurijal Al-Gholwasy

Membaca ulang Al-Qur'an adalah sebuah wacana banyak tokoh-tokoh penggiat kajian Islam mutaakhirin, seperti Mohammed Arkoun, Shorous, Nasr Hamid Abu Zaid, Abdullah Saed, Khaleed Abu Fadl, Fatima Mernissi, Asma Barlas, Amina Wadud, Farid Esack, Muhammad Al-Ghozali, dsb. Bahkan di Indonesia seruan untuk membaca kembali Al-Qur'an kerapkali diserukan oleh sejumlah tokoh seperti Nasaruddin Umar, Komarudin Hidayat, KH. Husein Muhammad, Musdah Mulia, Ulil Absar Abdallah, Amin Abdullah, Ahmad Fudhaili, Nur Rofi'ah, dan Zaitunah Subhan.

Mereka melihat bahwa kekerasan, subordinasi, penindasan, alienasi serta ketidakadilan, akibat daripada kekeliruan dan tidak lengkapnya pembacaan Al-Qur'an. Kekeliruan tersebut menyebabkan terjadinya miss-understanding terhadap makna-makna Al-Qur'an yang humanis.

Pemahaman yang keliru tersebut merambat kemasyarakat dengan cepat, kemudian dilegitimasi menjadi "agama" bagi mereka. Banalitas pemahaman keagamaan di masyarakat menjadi faktor utama merambatnya pembacaan yang keliru ini. Ditambah lagi minimnya stok ulama "kontemporer" yang akan meng-counter dan mendelegitimasi "kekeliruan" tersebut. Masalahnya menjadi semakin rumit dan membahayakan.

Dari sinilah, kekerasan dan penindasan sering terjadi dengan menggunakan panji-panji agama sebagai legitimasi.

Biasanya, kesalahan dan ketidaklengkapan membaca Al-Qur'an banyak mengorbankan perempuan sebagai "objek". Bahkan dalam khutbah-khutbah jum'at dan ceramah agama, seringkali perempuan dianggap central enemy bagi sekawanan manusia berjenis kelamin laki-laki. Sandarannya hadis-hadis Nabi dan bahkan ayat-ayat Al-Qur'an ditafsirkan secara misoginis. Pembacaannya memiliki kecenderungan tekstual dan provokatif. Bahkan di dalamnya terdapat mitos, alibi, dan rekaan untuk memperkuat argumentasi kelirunya.

Mulai dari soal mitos tentang kejatuhan Adam dari syurga yang disebabkan hasutan hawa, sampai isu kepemimpinan. Arogansi serta ambisius jenis kelamin terlihat, tetapi mereka tidak mampu memperlihatkan sportivitas. Menurut Fatima Mernissi, bahwa mereka dibaluti ketakutan dan traumatik atas sejarah.

Sedangkan, Asma Barlas melihat bahwa mereka menjadi ganas terhadap perempuan akibat naluri kekuasaan dan mempertahankan status quo. Lanjutnya, tidak tanggung-tanggung, mereka menggunakan penafsiran patriarkis dan ambisius dalam melumpuhkan perempuan.

Relasi laki-laki dan perempuan mengalami kekacauan, ketimpangan, dan tidak merata, akibat daripada kekeliruan memahami agama sebagai acuan bergaul. Al-Qur'an menempatkan manusia secara merata tanpa membedakan suku, golongan, bangsa, dan jenis kelamin, yang dilihat adalah ketakwaannya pada Tuhan (QS. Al-Hujurat : 13). Semuanya harus saling tolong menolong dalam kebaikan (QS. Al-Maidah : 2). Tidak saling merendahkan satu sama lain, baik laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, ataupun laki-laki dan perempuan (QS. Al-Hujurat : 11). Semuanya satu dan berasal dari yang satu (QS. An-Nisa : 1).

Al-Qur'an tidak pernah membeda-bedakan maanusia, semuanya dimuliakan (QS. Al-Isra : 70) dan diberikan kesempatan yang sama untuk mengakses kemuliaan syurga, baik laki-laki atau perempuan (QS. An-Nisa : 124). Adapun QS. An-Nisa ayat 34 bukanlah menjadi alasan untuk membedakan posisi laki-laki dan perempuan secara absolut. Makna kalimat "Qauwwam" bukan berarti pemimpin dan menindas, tetapi justru memberikan perlindungan hak-hak perempuan yang kadang-kadang dibiarkan dan bahkan ditelantarkan secara sengaja. Laki-laki memiliki kewajiban untuk memperjuangkan kelayakan hidup kaum perempuan yang merupakan saudaranya.

Namun, bila ditelisik lebih jauh QS. An-Nisa ayat 34 ini menjadi senjata ampuh bagi pihak laki-laki untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap perempuan, apalagi di dalam kehidupan rumah tangga. Kekeliruan seperti ini menjadikan kaum-kaum modernis mengupayakan pembacaan kembali terhadap teks-teks Al-Qur'an sebagai upaya penerapan Al-Qur'an "Shalih li Kulli Zaman wa Makan". Al-Qur'an diyakini sebagai teks yang hidup, bukan pada zaman Rasulullah dan sahabatnya, tetapi sampai akhir zaman. Al-Qur'an adalah mukjizat yang tidak kaku, sehingga dia akan tetap eksis sampai kapanpun dan dalam situasi-kondisi apapun.

Gubuk Peradaban, 28 Juli 2019