Pakar : Parpol Pendukung Prabowo Harus Tetap Menjadi Penyeimbang
Cari Berita

Advertisement

Pakar : Parpol Pendukung Prabowo Harus Tetap Menjadi Penyeimbang

Selasa, 02 Juli 2019

Profesor Juanda (kiri) dan Mardani Ali Sera dalam diskusi 'Demokrasi Pancasila, Rekonsiliasi Tak Kenal Oposisi' di Parlemen Senayan Jakarta Selatan, Senin, (01/07/19).
Indikatorbima.com - Pakar Hukum Tata Negara, Profesor Juanda menyampaikan bahwa dalam sistem Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 tidak mengenal istilah oposisi, namun fungsi-fungsi oposisi itu tetap dijalankan oleh partai-partai yang bukan pendukung pemerintah.

Menurut Juanda, partai oposisi penting dalam negara demokrasi Pancasila dimana kontrol atau pengawasan dari social societ sangat dibutuhkan.

“Jika tinggal dua partai PKS dan Gerindra sebagai oposisi, maka saya kira ini tidak Balance, karena prosentase 20-80 itu memang tidak seimbang,” kata Juanda dalam diskusi empat pilar MPR di Parlemen Senayan Jakarta Selatan, Senin, (01/07/19).

Kata Juanda, prosentase 20 persen oposisi melawan 80 persen pemerintah memang kurang tepat, karena kekuatan 20 persen tersebut tidak akan kuat.

“Jika kekuatan menumpuk di dalam satu tangan, itu adalah tirani, maka otoriter absotlute pun akan terjadi,” ungkapnya.

Selain itu, Juanda menilai kondisi demokrasi pasca pilpres 2019 tidak sehat, dikarenakan elite politik belum juga menunjukkan sikap konsisten dalam rangka mengambil kebijakan.

Untuk itu dirinya berharap parpol-parpol pendukung Prabowo -Sandiaga tetap konsisten menjadi penyeimbang. “Saya kira sangat elok untuk pendidikan politik generasi kita selanjutnya,” pungkas Juanda. (DIS).

Editor : Subhan