Mengembalikan Citra Teks Suci
Cari Berita

Advertisement

Mengembalikan Citra Teks Suci

Kamis, 11 Juli 2019

Syamsurijal Al-Gholwasy
Banyak 'kejahatan' yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan teks suci agama (baca: Al-Qur'an). Kasus kekerasan fisik maupun psikis, terorisme, KDRT, dan subordinasi suatu kelompok atas kelompok lain, dan banyak lagi kejahatan-kejahatan lainnya. Namun, yang saya ingin tekankan dalam tulisan ini adalah terjadinya ketimpangan relasi antara perempuan dan laki-laki.

Diskursus jender memang sudah banyak dibahas secara gambang oleh para tokoh-tokoh Barat, Timur, maupun tokoh-tokoh Indonesia seperti; Shaciko Murata, Nasr Hamid Abu Zaid, Khalid Abou El-Fadhl, Asma Barlas, Fatima Mernissi, Aminah Wadud, Nasaruddin Umar, Zaitunah Subhan, Musdah Mulia, Nur Afriyani Febrianti, KH. Husen Muhammad, Nur Sinta Nuryah. Dan yang paling mutaakhkhirin saya baca Disertasi yang sangat menarik dari Faqihuddin Abdul Kodir, berjudul Qiraatul Mubaddalah.

Dari semua karya tokoh-tokoh yang mengangkat isu-isu jender di atas menyimpulkan bahwa adanya kekeliruan para penafsir dalam memahami teks dan konteks. Para penafsir terlalu didominasi oleh budaya patriarki dalam melihat teks-teks suci tersebut (Rujuk buku Muslimah Reformis, Musdah Mulia). Asma Barlas berpendapat, bahwa patriarkis dan misoginis bukan bersumber dari teks suci, tetapi bersumber dari komentator-komentator Islam.

Menurut Arkoun, kerancuan-kerancuan yang terjadi antara Al-Qur'an dan tafsirnya sudah lama terjadi, tepatnya dimulai sejak masa klasik Islam ketika para mufasir pada masa itu tidak sadar akan bahasa tekstual modern dan teori tafsir yang mengasumsikan korespondensi antara Al-Qur'an dan tafsirnya (Rujuk buku Believing Women in Islam, Asma Barlas).

Di antara tokoh-tokoh perempuan yang sangat keras mengkritik adalah Fatima Mernissi. Ia menyatakan bahwa, ketakutan laki-laki terhadap perempuan disebabkan ketakutan mereka terhadap sejarah, yang terus direkonstruksikan melalui tafsir-tafsir misoginis. Mereka ingin meruntuhkan sejarah kelamnya orang Arab Jahiliyah (secara teks maupun psikis), yang menyembah Latta, Uzza, dan Manna yang merupakan sosok perempuan (Rujuk Jurnal Titik-Temu). Asma Barlas, menilai bahwa perbuatan ini adalah bagian dari politik tekstual yang berkembang dalam sejarah penafsiran dan masih berlaku hingga sekarang (rujuk buku : Believing Women in Islam, Asma Barlas).

Dalam teks suci (Al-Qur'an) manusia memiliki posisi, kewajiban, dan hak yang sama. Mereka tidak dibedakan berdasarkan jenis kelaminnya, sukunya, warna kulitnya, status sosialnya, yang membedakan mereka hanya tingkat ketakwaannya (QS. Al-Hujurat : 13).

Mereka juga diciptakan dari jenis yang sama (QS. An-Nisa : 1). Serta diciptakan dengan tujuan yang sama, yaitu untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat : 56). Dengan demikian secara eskatologis, manusia secara egaliter akan diberikan ganjaran yang sama antara laki-laki dan perempuan, sesuai amal perbuatannya (QS. An-Nahl : 97). Artinya, manusia secara universal memiliki, hak, kewajiban, dan kesempatan yang sama atas kehidupan tanpa dibedakan, apalagi karena alasan jenis kelamin.

Dalam bukunya Perempuan, Quraish Shihab mengutarakan perasaan geramnya terhadap orang-orang yang membedakan perlakuannya terhadap orang lain, akibat perbedaan jenis kelamin. Sebab, perempuan dan laki-laki tidak boleh dibeda-bedakan, kecuali terhadap hal-hal yang lazim, misalnya struktur dan bentuk tubuh antara keduanya. Menurut Syaikh Muhammad Syaltut, bahwa perempuan dan laki-laki hampir dikatakan dalam batas yang sama. Demikianlah, harapan seorang filosof dan sastrawan Mesir Anis Manshur dalam bukunya, Min Awwal Nazhrah fil al-Jins wa al-Hubb wa az-Zawaj, agar laki-laki tetap dianggap laki-laki dan perempuan tetap perempuan, naamun diberikan kesempatan yang sama.

Ketidakadilan harus berhenti disini. Serta penyetiran teks-teks suci sebagai landasannya diberhentikan, karena sangat merugikan banyak pihak, terutama pihak perempuan. Dari penyempitan makna-makna teks tersebut menimbulkan suatu kesimpulan dan sekaligus merambatnya tradisi-tradisi 'keliru' yang terjadi di masyarakat.

Adanya anggapan, bahwa perempuan hanya berhak dalam aktivitas domestik, juga merupakan bagian daripada konstruksi tafsir-tafsir patriarkis. Mereka cenderung melupakan peran-peran perempuan sejak Adam sampai datangnya 'Islam' yang dibawa Nabi Muhammad, dan bahkan sampai hari ini.

Perkembangan peradaban tidaklah lepas dari jasa bersama antara dua jenis kelamin ini (rujuk buku Sejarah manusia Arnold Toynbee, Sapiens dan Homo Deus; Yuval Noah Harari, Guns, Germs, & Steel dan Collapse; Jared Diamond). Penistaan, penghinaan dan merendahkan perempuan dengan menggunakan dalil agama (teks suci) adalah suatu upaya merusak citra teks suci itu sendiri.

Oleh : Syamsurijal Al-Gholwasy