Kritik 'Nalar' Kekerasan Atas Nama Agama
Cari Berita

Advertisement

Kritik 'Nalar' Kekerasan Atas Nama Agama

Selasa, 30 Juli 2019

Oleh: Syamsurijal Al-Gholwasy

Agama diciptakan untuk manusia dan kemaslahatannya, bukan untuk tuhan dan kemaslahatannya. Karena memang Tuhan tidak beragama, dan sama sekali tidak memerlukan agama. Idealnya agama itu sepenuhnya damai dan tidak mengenal kekerasan. Akan tetapi, kita banyak menyaksikan tindakan dan aksi kekerasan berlandaskan agama.

Menurut Karen Amstrong, semua agama bersentuhan dengan kekerasan. Bahkan, agama yang mengidealkan keseimbangan kosmis, seperti Buddha, kata Caldwell. Begitupun, kristen dan Islam yang ngajarkan tentang cinta kasih dan keadilan, komentar Collins, Ahmad, dan Adonis. Seolah-olah kekerasan menjadi DNA dari agama itu sendiri. Sebagaimana menurut Ikhwan dalam tulisan yang berjudul 'Sakralisasi Kemanusiaan, Religionisasi Perdamaian', bahwa membayangkan agama tanpa kekerasan adalah utopia, sebagaimana membayangkan dunia tanpa kekerasan.

Buktinya cukup banyak, dalam sejarah agama-agama kita sudah sangat mengenal perang Salib, perang-perang berlandaskan dalil-dalil agama di dalamnya. Di Indonesia ada bom Bali 1 (2002), bom Bali 2 (2005), bom Bali 3 (2018), pembakaran masjid di Tolikara, dan terakhir adalah pengeboman gereja di Surabaya. Bahkan kejadian-kejadian tersebut melibat anak-anak. Belum lagi pelanggaran-pelangaran kemanusiaan di dunia Internasional (Palestina, Syuria, Filipina, dan lain sebagainya). Artinya agama dan keyakinan atas ajarannya sangat rentan disalahpahami, sehingga menimbulkan aksi dehumanisasi.

'Dehumanisasi' yang berdalih agama dan keyakinan sudah ada sejak lama. Di Eropa terjadi pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan gereja terhadap para ilmuwan, seperti Copernicus, Galileo-Galilei, Bruno, dan Rene Descartes. Mereka dihukum secara tidak manusiawi akibat menolak otoritas, absolutistik, dan monopoli kebenaran dengan dalil agama. Begitupun, dalam sejarah Islam terjadinya kekeerasan fisik dan bahkan pembunuhan terhadap khalifah Utsman dan Ali adalah akibat dari kesalahpahaman terhadap ajaran agama. Dalam pandangan mereka terhadap orang yang berbeda dan bertentangan dengan mereka adalah ketidaklayakan statusnya sebagai manusia. Bagi mereka tidak hanya sekedar fasik, kafir, dan murtad, bahkan halal darahnya. Menyeramkan!

Menurut Cak Nur, tindakan kejahatan atas nama agama dan bersikap absolutistik terhadap penafsiran dan pemahaman keagamaan adalah pemberhalaan diri. Menurut Musdah Mulia, sikap tersebut menyalahi dan penentangan terhadap ajaran Tauhid. Pemahaman oposisi biner- aku benar yang lain salah adalah sikap frontal dan sesat. Sikap ini perlu diluruskan agar tidak merambat dan menjadi benalu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam menangkal tindakan agamaisasi kekerasan ini, Akhsin Wijaya menulis sebuah buku 'dari Membela Tuhan ke Membela Manusia', mengisaratkan bahwa perjuangan manusia adalah mengaktualisasikan nilai ibadahnya terhadap Tuhan dengan menolong dan melindungi manusia sebagai manifestasi Tuhan. Merujuk kepada pemikiran seorang sufi legendaris Ibnu 'Arabi, mengatakan bahwa manusia adalah manifestasi Tuhan dan lokus dimana Tuhan menunjukkan keberadaannya. Bahkan dalam diri manusia itu ada ruh Tuhan (QS. Al-Hijr : 29).

Dalam Al-Qur'an juga menyebutkan bahwa Allah sangat memuliakan anak Adam/manusia (QS. Al-Isra' : 70). Demikian pula membunuh satu manusia, setara dengan membunuh semua manusia, dan menyelamatkan satu manusia setara dengan menyelamatkan semua manusia (QS. Al-Maidah : 32). Begitu pula dalam hadis Nabi, 'Kasihanilah mereka yang ada di bumi, maka akan mengasihi kalian apa yang ada di langit (HR. Thabroni).

Dari sebagian kecil dalil-dalil Al-Qur'an dan hadis tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Dan, menjadikan kepentingan manusia sebagai sasaran utama dalam menurunkan agama. Dalam kajian maqasid asy-syari'ah, Yusuf Qardhawi dalam bukunya 'Membumikan Syariat Islam', mengutarakan bahwa agama memberikan perlindungan secara maksimal terhadap kepentingan manusia; baik jiwa, fisik, harta, kehormatan, dan keluarganya. Begitupu Jasser Auda dalam bukunya 'Maqashid asy-Syari'ah, menekankan bahwa suatu ketentuan ajaran agama, harus berdasarkan pertimbangan kemaslahatan manusia. Hal senada juga disampaikan Mohammad Hasyim Kamali dalam bukunya yang berjudul 'Membumikan Syari'ah', Umar Shihab dalam bukunya 'Kapita Selekta Mozaik Islam', dan Abdullah An-Na'im dalam bukunya 'Dekonstruksi Syari'ah'.

Dari penekanan Nash dan komentar para tokoh di atas penulis menyimpulkan bahwa agama tidak pernah mengajarkan kekerasan, apalagi sampai pada tataran membunuh. Kesalahpahaman terjadi akibat dari tidak tuntasnya memahami teks dan kacamata dalam membaca teks. Kesalahan para pembaca teks yang paling sering adalah ketidakmampuannya mengaitkan teks dan konteks yang benar. Pembacaan teks harus dilakukan secara teliti dengan merekonstruksi sosio-historis dan sosio-cultural terhadap kemunculan teks, serta relevansinya dengan zaman dimana teks itu hidup sekarang. Semua mufassir mutaakhkhirin menekankan hal yang demikian; seperti Fazlur Rahman dengan teori double movement-nya, Nasr Hamid Abu Zaid, Syahrur, Khaled Fadl Ebou dengan masing-masing corak teori hermeneutikanya.

Gubuk Peradaban, 15 Juli 2019