Pena Kehidupan
Cari Berita

Advertisement

Pena Kehidupan

Rabu, 26 Juni 2019

Arrahma, Ketua Umum Korps HMI-Wati (KOHATI) Cabang Bima
Penulis : Arrahma

Iman tanpa ilmu bagaikan lentera ditangan bayi, namun ilmu tanpa iman bagaikan lentera ditangan pencuri.

Kita sering merasakan kebimbangan, kebingungan dan ketidaktahuan dalam menjalani kehidupan ini.

Kondisi ini sering timbul tenggelam seiring dengan dinamika kehidupan, kita tidak berkuasa atas apa yang terjadi dalam diri.

Sebenarnya disitulah bukti kuasa Tuhan atas diri kita. Setiap kehidupan tidak akan pernah lepas dari kesalahan ataupun kekhilafan.

Setiap diri pasti akan mengalami saat-saat sulit. saat-saat dimana hati dan pikiran sedang tidak terarah, hati yang bingung dan bimbang karena persoalan hidup.

Hal itu datang silih berganti, kadang kita optimis dan terkadang kita pesimis. Saat itulah kita harus intropeksi diri bahwa hanya Allah lah yang Berkuasa, Maha membolak-balikan hati dan perasaan hidup kita, yang mengatur segala hidup manusia dengan caranya sendiri. Ia menjamin setiap makhluk yang hidup mendapat ganjaran sebagaimana yang dibuat.

Sebagaimana seorang bayi yang tidak bisa berlari kencang seperti orang dewasa, demikian juga orang dewasa tidak bisa juga harus terlentang atau bersikap sebagaimana anak kecil.

Jika semua sudah diatur oleh yang Maha kuasa, kenapa kita sendiri sering mempersulit diri dengan membesar-besarkan masalah. Terlalu sering mendramatisir persoalan kita sendiri dengan menganggap persoalan kecil kita sebagai persoalan yang berat seolah tidak akan terselesaikan.

Bahkan kita sering melibatkan orang lain, dengan alasan tidak sefaham, hal itulah yang sering merusak Amal-amal yang kita kerjakan selama ini.

Jika kita hidup untuk beribadah kepada Allah, maka hilangkan dengki, hilangkan semua penyakit hati didalam diri kita. Iri, dengki, pendendam dan keinginan menang sendiri. Inilah penyakit hati yang sering menggerogoti keImanan kita.

Bagi kita yang sedang berprofesi sebagai pendakwah, marilah kita berikan yang terbaik buat sesama. Mari bangkitkan semangat mereka yang sedang terkikis oleh jaman, mari kita gandeng mereka yang sedang bingung, sedang sedih, sedang marah. Jadikanlah diri kita sebagai lentera yang dapat menyinari kegelapan saudara-saudari kita.

Saya tertarik dengan Syair islami yang mengatakan; "Maka iman seperti hakikatnya cinta suci yang menghujam dalam ketakwaan tersemai indah karna hati nan pasrah kepada-Nya, para sufi beribadah semata mencintai Allah maka dari mereka, mendamba ridha dan kasih sudah lebih dari cukup.

Shalat itu percintaan penuh kebahagiaan Antara hamba dengan sang Penciptanya, betapa syahdu dan indah maka hati kian jernih selalu jangan sampai ada titik noda dalam diri karena hati ini adalah kaca yang bening dan keburamannya tergantung kita.

Maka debu-debu tepiskan, gosok selalu dengan hatimu dengan doa dan dzikir kalimat suci mulia dengan kelembutan hati dan kesadaran cahayanya karena iman.

Insan pun kembali dari petualangannya, bertaubat dari segala dosa meniti jalan lurus penuh keninsyafan. Maka ditinggalkannya jalan zig-zag yang berbelok kedalam lorong gelap karena hakikat iman adalah cahaya yang terus menerangi hati dan jiwa hingga terang benderang seperti bintang berkilauan menjadi pandu menuju hidup hakiki".

Begitulah sepenggal makna keimanan yang tertuang dalam bait2 sajak yang tersuguh indah, mari tingkatkan keimanan serta ketaqwaan kita kepada Sang pemberi hidup yang senantiasa menjadi satu kesatuan didalam kehidupan kita. Sebagai muslim yang bermakna berserah diri kepadanya, maka ringankan segala aktivitas untuk kembali mengingat Allah Swt.