Mantap! Sarasehan Pesisir, Ngaji Bangsa Dari Desa
Cari Berita

Advertisement

Mantap! Sarasehan Pesisir, Ngaji Bangsa Dari Desa

Sabtu, 08 Juni 2019

Foto: Suasana Diskusi
Indikatorbima.com - Dengan tajuk "Ngaji Bangsa Dari Desa", Ditengah ramainya pengunjung pantai Desa Sangiang, Puluhan mahasiswa dan pemuda menggelar Sarasehan Pesisir, Sabtu (08/06/19).

Sembari menikmati senja dan gemercik suara ombak kecil di pesisir pantai Desa Sangiang, Puluhan pemuda dan mahasiswa duduk berdampingan mendengarkan materi diskusi dari dua pembicara dihadapannya.

Diskusi santai yang dipandu oleh Rahimun, M.Said tersebut, dihadiri oleh dua pembicara sekaligus yaitu, Muh. Akbar A direktur Akar Institut dan RN. Walidaini.

Dalam penyampaian materinya, RN. Walidaini mengatakan bahwa, kultur masyarakat sudah berubah seiring berjalannya waktu. Sementara mahasiswa hadir dalam keadaan tidak tahu apa-apa, yaitu hadir sebagai kaum-kaum yang konsumtif.

"Kultur dan karaktek masyarakat desa yang ramah dan terbuka akan hal baru telah berubah menjadi budaya konsumsi sengaja di konstruk dengan tujuan ingin memisahkan manusia dari lingkungn sosial, Mahasiswa dari desa ke kota menimba ilmu tapi ketika kembali ke desa kita terapkan budaya baru yaitu konsumeris," Terangnya.

Sementara itu, Muh. Akbar A menjelaskan bahwa, antara kota dan desa yang paling beradab adalah desa sementara kota tidaklah beradab.

"Cara mengerti negara berangkat dari desa/baduya yang berarti beradab simpulnya beradab ada di desa dan temukan kebiadaban di kota, desa beradab, kota biadab," Jelasnya.

"Ekonomi era soekarno di sebut ekonomi sosialisme, Bung hatta menyebutnya kerakyatan atau ekonomi lumbung, pada era soerharto ekonomi kapitalis asing, akses penanaman modal asing terbuka lebar, banyak hal mesti di gali dari desa. Kuat kokohnya negara mulai dari desa pemerintah dalam hal ini pembangunan mulai dari desa, dalam banyak pemberitaan media desa mulai jadi ladang cari makan oleh pemerintah desa." Lanjutnya.

Sarasehan pesisir berlangsung cukup khidmat. Diskusi tersebut, tidak hanya diikuti oleh pemuda dan mahasiswa, namun pengunjung juga dapat menyaksikan jalannya diskusi tersebut secara langsung.

Reporter: Irdan
Editor: Furkan