Membentuk Karakter Anak Melalui Pembelajaran Sastra
Cari Berita

Advertisement

Membentuk Karakter Anak Melalui Pembelajaran Sastra

Selasa, 25 Juni 2019

Foto: Penulis
Ketika di hadapan kita tersaji berita carut-marutnya kehidupan berbangsa ini yang tiada habis-habisnya, baik lewat pemberitaan televisi, internet, surat kabar, maupun media massa yang lain, kita mungkin setuju bahwa keadaan itu semua lebih disebabkan oleh kurang mengenanya pendidikan karakter anak bangsa.

Lembaga pendidikan yang seharusnya berada di ujung tombak selaku penjaga ketangguhan karakter, bahkan tidak jarang menampilkan sosok yang lebih mencerminkan kurangnya status berkarakter itu. Belum lagi berbagai kasus yang kini menimpa para pelaku kerah putih seperti kejahatan makelar kasus perpajakan dan perbankan.

Sebenarnya masalah-masalah kurang baik yang terkait dengan karakter tersebut bukan hanya dialami oleh bangsa Indonesia, melainkan juga bangsa-bangsa lain di dunia.

Tidak berlebihan jika masalah pendidikan karakter untuk membentuk karakter merupakan masalah universal. Hanya saja belum tentu ada keseragaman tentang pandangan bagaimana karakter yang baik yang diidealkan karena hal itu juga tidak lepas dari pandangan hidup suatu bangsa. Hal itu tampaknya terkait dengan masalah pandangan moral, pandangan tentang baik dan buruk, tentang benar dan salah, yang juga belum tentu sama di antara berbagai bangsa. Padahal, pandangan tentang moral merupakan pondasi yang penting bagi pembentukan karakter. Namun, untuk memeroleh sebutan sebagai orang berkarakter sebenarnya lebih dari sekadar bermoral karena sebutan menjadi berkarakter memiliki tuntutan dan makna yang lebih tinggi.

Pendidikan karakter dimaksudkan sekaligus sebagai pembentukan karakter. Usaha pendidikan dan pembentukan karakter yang dimaksud tidak terlepas dari pendidikan dan penanaman moral atau nilai-nilai kepada peserta didik. Pendidikan karakter itu sendiri merupakan sebuah proses panjang, yaitu proses pembelajaran untuk menanamkan nilai-nilai luhur, budi pekerti, akhlak mulia yang berakar pada ajaran agama, adat-istiadat dan nilai-nilai keindonesiaan dalam rangka mengembangkan kepribadian peserta didik supaya menjadi manusia yang bermatabat, menjadi warga bangsa yang berkarakter sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa dan agama. Dari sini dapat dipahami bahwa pendidikan karakter memfokus pada pendidikan nilai-nilai luhur dengan sekian jumlah variannya.

Tujuan pendidikan karakter adalah agar peserta didik menjadi orang yang bermatabat, orang yang berkarakter dalam arti yang sebenarnya, dan bukan sekadar hafal secara kognitif apa itu pendidikan karakter dan ciri orang yang berkarakter. Orang pasti sependapat bahwa ada banyak cara dan “bahan” yang dapat dikreasikan untuk mendidik, memupuk dan mengembangkan, serta membentuk karakter peserta didik. Cara yang dimaksudkan adalah proses dan strategi, sedang “bahan” adalah bahan ajar (baca: mata pelajaran, pokok bahasan) yang dapat dimuati usaha pendidikan karakter.

Pendidikan karakter dalam usaha pembentukan karakter tidak diajarkan secara mandiri sebagai sebuah bahan ajar sebagaimana halnya matamata pelajaran yang lain, melainkan termuat dan diikutsertakan dalam pembelajaran berbagai mata pelajaran tersebut baik dalam proses dan strategi pembelajaran maupun, jika dimungkinkan, juga inklusif dalam bahan ajar. Jadi, ia dapat masuk dalam pembelajaran agama, kesenian, bahasa dan sastra, sejarah, matematika, dan lainlain. Pembicaraan tentang sastra dalam kaitannya dengan pembentukan karakter, atau mungkin dikatakan pembentukan sikap dan perilaku, telah banyak dilakukan orang. Bahkan, tidak jarang timbul kesan bahwa pembelajaran sastra tidak lain adalah pembelajaran moral dan atau nilai-nilai.

Hal itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Berbagai teks kesastraan diyakini mengandung unsur moral dan nilai-nilai yang dapat dijadikan “bahan baku” pendidikan dan pembentukan karakter. Teks-teks kesastraan diyakini mengandung suatu “ajaran” karena tidak pengarang menulis tanpa pesan moral (messages). Namun, penekanan pada bahan tersebut bahkan tidak jarang berakibat fatal: peserta didik hanya sekadar diminta menginditifikasi moral dan nilai-nilai yang terkandung di dalam teks-teks kesastraan itu. Padahal, semestinya halhal yang bernuansa nilai luhur yang lazimnya menjadi sikap dan perilaku tokoh cerita itu adalah untuk dimengerti, direnungkan, dan diteladani dalam sikap dan perilaku hidup keseharian.

Hal itu juga berlaku dalam pembelajaran sastra anak kepada peserta didik yang notabene masih berstatus anak-anak. Pembelajaran sastra sekolah, baik di sekolah dasar dengan peserta didik yang memang masih anakanak maupun di sekolah menengah dengan peserta didik yang remaja, lazimnya menjadi bagian pembelajaran bahasa. Hal itu dapat dipahami karena sarana pengungkapan sastra adalah bahasa. Namun, harus dipahami juga bahwa sastra, baik sastra anak (children literature) maupun sastra (sastra dewasa, adult literature) lebih dari sekadar bahasa.

Bahasa dalam teks kesastraan “hanyalah” merupakan aspek sarana, walau harus ada tuntutan yang berbeda untuk menjadi bahasa sastra, sedang kandungan teks itulah sebenarnya yang mengandung muatan moral dan nilainilai. Muatan inilah yang dapat dijadikan sebagai “bahan baku” pendidikan dan pembentukan karakter peserta didik lewat strategi yang paling mengena. Misalnya, membaca sastra sekaligus belajar tentang kehidupan, mengajarkan nilai-nilai luhur kehidupan tetapi peserta didik tidak merasa sedang diajari. Fokus pembicaraan di bawah adalah sastra anak yang dengan pangsa pembaca (pendengar) anak-anak.

Dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai aktivitasnya, manusia tidak dapat melepaskan diri dari bermetafora, berbicara dan bahkan berpikir dengan memergunakan berbagai metafora. Misalnya, kata-kata yang sudah amat biasa didengar dalam pembicaraan sehari-hari seperti “jatuh cinta, patah hati, patah semangat, patah arang, keras kepala, berhati baja, ujian sudah di ambang pintu, gantungkan cita-cita setinggi langit, menjadi batu sandungan”, dan lain-lain tidak lain adalah bentukbentuk metafora. Namun, orang tidak menyadari bahwa kata-kata yang sering diucapkan tersebut sebenarnya adalah metafora.

Berdasarkan fakta bahwa orang hampir-hampir tidak dapat menghindar dari penggunaan metafora tersebut, Lakoff & Johnson kemudian mengatakan: kita hidup dikelilingi metafora, kita tidak bisa hidup tanpa metafora. Lebih dari itu, menurutnya bahkan metafora “menguasai” kehidupan manusia: menguasai cara berbahasa, berpikir, dan berbudaya.

Sama halnya dengan kenyataan bahwa orang tidak menyadari kata-kata yang diucapkannya adalah metafora, hal sama juga terjadi dalam hal cara berpikir dan berbudaya. Artinya, kita juga tidak menyadari bah wa kita sering berpikir dan berbudaya dengan bermetafora.

Cobalah, misalnya, kita lihat bagaimana orang Jawa berpikir dan bersikap: sering menyampaikan sesuatu secara tidak langsung, berbicara dengan memergunakan simbol-simbol, menyembunyikan sesuatu yang sebenarnya diutamakan, dan lainlain yang sejenis, bukankah hal itu cerminan cara hidup bermetafora? Maka, sebagaimana yang pernah dilontarkan Umar Kayam, budaya Jawa penuh dengan kesombongan metafora, dan itu berimbas dengan begitu banyak ungkapan metaforis dalam bahasa Jawa.

Hal yang kurang lebih sama juga terjadi dengan sastra, khususnya sastra anak. Kita sering tidak menyadari bahwa berbagai hal dan aktivitas yang kita lakukan, atau dilakukan orang lain, juga oleh anak-anak, adalah bernuansa bersastra. Maka, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sebenarnya kita hidup dikelilingi sastra (anak). Ada berbagai contoh keadaan dan aktivitas yang menunjukkan kondisi dan aktivitas bersastra anak di sekeliling kehidupan keseharian kita.

Dilihat dari keadaan yang demikian, sebenarnya sastra anak merupakan sesuatu yang amat kita akrabi dan sekaligus dapat dijadikan sarana strategis untuk menanam, memupuk, dan mengembangkan berbagai nilai yang ingin kita wariskan kepada anak yang bertujuan untuk pembentukan karakter.

Penulis : Dzul Asfi Waraihan