Etika Berpolitik : "Memahami Manusia lebih penting daripada memahami Sistem atau Aturan."
Cari Berita

Advertisement

Etika Berpolitik : "Memahami Manusia lebih penting daripada memahami Sistem atau Aturan."

Ginanjar Gie
Kamis, 14 Maret 2019

Foto : Penulis
Ketika kita membaca secara khusyuk dan teliti terhadap situasi politik nasional dan daerah saat ini, sungguh kita akan menjumpai suatu realitas yang memaksa kita tidak hanya kehilangan akal sehat, namun juga situasi seperti ini membunuh identitas kemanusiaan yang melekat pada diri kita.

Pada dasarnya, setiap orang menginginkan suatu tatanan hidup yang harmonis antara satu sama lain. Di balik keinginan itu muncul suatu pertanyaan, apakah suatu tatanan bisa terwujud hanya oleh satu orang? Jawabannya tidak. Berarti, kita butuh upaya yang luar biasa untuk memahami setiap individu yang berbeda-beda.

Upaya itu dilakukan agar menghasilkan suatu tindakan nyata tentang betapa pentingnya memahami dan menjaga satu sama lain. Jika politik merupakan sistem, berarti dia berorientasi pada manusia sebagai tujuannya, dan yang terpenting dari manusia adalah tindakan untuk memahami dan menjaga semua manusia.

Sejatinya politik tidak boleh malampaui batas tradisi yang ada, karena pada dasarnya, dalam suatu masyarakat terdapat standar etik yang menjadi rambu pembatas ketika melakukan sesuatu. Batasan-batasan tersebut membicarakan secara rinci mengenai hak dan kewajiban setiap orang.

Di dalam suatu hak untuk melakukan sesuatu, sesungguhnya terdapat kewajiban untuk d mentaati sesuatu. Ketika kita sedang menjalankan hak berpolitik, semestinya setiap diri kita benar-benar memahami bahwa di balik hak tersebut, ada suatu kewajiban yang harus kita tunaikan dalam berpolitik.

Kewajiban di sini terbagi di dua tempat, yaitu di intenal dan eksternal. Di internal, seseorang yang menghibahkan dirinya untuk berpolitik harus mempersiapkan suplemen ilmu dan pengetahuan supaya memenuhi uji kepantasan (kepantasan diri dan sosial). Di eksternal, setiap mereka yang melakukan aktivitas berpolitik semestinya harus tetap menjaga sistem hidup bersama yang berbasis pada nilai kekeluargaan.

Mengenai etika politik, etika merupakan cara setiap orang dalam berpolitik, dan biasanya cara ini  menampakkan dirinya dalam bentuk perkataan dan tindakan. Berarti, etika merupakan keseluruhan dari perkataan dan tindakan yang tidak bertentangan dengan diri sendiri, antarindividu dan sekelompok orang.

Tentu kita menyadari bersama, bahwa setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda tentang etika berpolitik. Berbeda cara pandang ini biasanya berdampak pada tindakan yang dianggap baik oleh beberapa orang dan dianggap keliru oleh yang lain. Namun terlepas dari itu, semestinya kita tidak hanya berkiblat pada eksistensi penilaian diri masing-masing terhadap sesuatu. Tetapi, kita juga diharuskan mengacu pada konteks yang ada.

Kekuatan memahami realitas yang terjadi dapat menjadi penengah ketika penilaian diri meraja di di antara kita. Konteks yang dimaksud, berkaitan dengan culture atau kebiasaan suatu masyarakat. Semisal, ketika ada hajatan sunatan, siapa pun mereka tidak boleh menjalankan ibadah politiknya ketika hajatan itu berlangsung, karena konteksnya berbeda. Berarti, setiap orang tidak boleh merasa pantas kalau belum pantas. Setiap orang tidak boleh menciderai posisi orang lain, dan setiap orang tidak boleh menciderai sistem hidup bersama dengan politik. Terpenting dari ketiga point itu adalah menjaga sistem hidup bersama atau kelompok. Sedangkan menjaga diri individu, hubungan antarindividu menduduki peringkat dibawah sistem hidup bersama.

Bersatu adalah amanah. Berbeda adalah rahmat.

Yang tua dihormati.
Yang muda dirangkul.
Yang kecil dibimbing.

Penulis: Muhammad Nur Dirham