Bima Ramah atau Bima Berdarah?
Cari Berita

Advertisement

Bima Ramah atau Bima Berdarah?

Sabtu, 16 Maret 2019

Foto: Penulis
Semboyan "Bima ramah" tentu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Bima, karena Bima ramah merupakan selogan yang paling populer di kota bima. Bima ramah memiliki makna bahwa tanah Bima atau yang sering di sebut dengan "dana Mbojo" merupakan tanah yang subur, damai, aman, memiliki masyarakat yang santun, menjunjung tinggi nilai-nilai agama, moral, adat istiadat dan budaya serta masyarakat yang ramah terhadap para wisatawan dari luar dan terhadap masyarakat sesama suku mbojo (Bima). Kota Bima menjadi salah satu destinasi wisata bagi para wisatawan dari berbagai negara karena selain menyajikan beragam kebudayaan dan makanan khas juga merupakan daerah di Indonesia yang memiliki 153 destinasi wisata baik di kota maupun kabupaten berupa pantai, tempat-tempat bersejarah, museum (ASI Bima/istana kerajaan Bima) dan tempat-tempat wisata lainnya.

Seperti hal nya Indonesia yang bersemboyan "Bhineka tunggal Ika", kota Bima juga memiliki semboyan yang sangat di kunjungi tinggi oleh masyarakat Mbojo yaitu "Maja Labo Dahu". Semboyan ini merupakan jati diri, pengingat, penggerak, dan pengatur tingkah laku bagi masyarakat Mbojo. Maja artinya malu (kepada sesama manusia) untuk melakukan perbuatan tercela seperti merugikan orang lain, mencoreng nama baik, dan lain sebagainya. Dan dahu memiliki arti takut (kepada Allah) untuk berbuat dosa, takut melanggar hukum-hukum islam dan adat istiadat. Jadi maja labo dahu bagi masyarakat Bima berarti malu dan takutlah dalam setiap tindakan, malulah kepada sesama manusia karena berbuat jahat dan takutlah kepada Tuhan (Allah) karena melanggar hukum-hukumnya.

Namun nyatanya, beberapa tahun terakhir selogan hanya tinggal selogan, semboyan hanya tinggal nama. Bima ramah dan Bima maja labo dahu dirasa tidak mampu lagi mencegah tindakan brutal masyarakat Bima akhir-akhir ini. Bima yang dulu nya dijuluki sebagai Bima yang ramah amat sangat tidak cocok dengan keadaan masyarakat yang begitu ringan tangan mengalirkan darah sesamanya. Semboyan maja labo dahu sudah tidak sekuat dulu dalam mengatur tindak tanduk masyarakat bima yang sekarang.

Kota Bima haus darah, darah sesamanya, mungkin kalimat itulah yang pantas menggambar kondisi dana Mbojo sekarang ini. Lihat saja percikan darah dimana-mana mewarnai tanah Bima yang dahulunya subur dan damai. Masyarakat beringas saling berperang melempar batu dan panah, mengayunkan parang dan tombak. Layaknya Israel dan Palestina, desa satu dengan desa lainnya saling memburu. Pembunuhan meningkat dari tahun ke tahun, aksi demo pada pemerintah tidak membuahkan hasil ataupun solusi tapi malah memberikan korban-korban baru, masyarakat di tenangkan dengan cara yang tidak manusiawi mengakibatkan jatuhnya korban berupa anak-anak dan orang tua.

Bima menangis lagi, tangisan para keluarga korban yang kehilangan keluarga, saudara, anak, sahabat, suami ataupun istrinya akibat dari nafsu membunuh masyarakat Bima, ada banyak sekali kasus pembunuhan yang terjadi di dana Mbojo yang katanya ramah, beberapa diantaranya adalah pembunuhan yang terjadi di jalan lintas Wera-Bima atau tepatnya di Desa Mawu Kecamatan Ambalawi. Warga bernama Muhaimin (40 tahun) asal Dusun Tololai Desa Mawu meninggal dunia usai ditikam pelaku berinisial BH (40 tahun) menggunakan tombak. Dan juga di hari yang sama, kasus serupa juga terjadi di Desa Rai Oi Kecamatan Sape.

Seorang warga setempat bernama Sahlan (27) meninggal dunia usai dibacok pada bagian leher oleh inisial H, warga Desa Naru Kecamatan Sape. Kemudian kasus pembunuhan sadis terhadap Muamar Ramadhan(23 tahun) warga lingkungan Tolobali baru-baru ini. Kasus penembakan pada dua anggota polisi bernama Bripka Jainal Abidin dan Bripka Gapur, di Bima, Nusa Tenggara Barat. Dan masih banyak lagi kasus-kasus pembunuhan dan kejahatan lainnya.

Berbagai tindak kejahatan tersebut terjadi sebagai akibat dari degradasi moral masyarakat Bima, hilangnya toleransi, simpati dan empati antar sesama. Larangan-larangan dalam agama sudah tidak di pedulikan lagi, semboyan yang merupakan pengatur dalam setiap tindakan sudah tidak ada artinya bagi sebagian masyarakat Bima. Tindak kejahatan yang di latar belakangi oleh dendam, perbedaan pendapat, persaingan antar desa, kecemburuan, politik dan lain sebagainya menjadi penyebab atau alasan mereka berani melakukan perbuatan keji tersebut yang nantinya juga sudah pasti akan mereka sesali. Walau bagaimanapun, pembunuhan akan terus terjadi dan bisa dialami siapa saja.

Selama masih ada konflik-konflik sosio-emosional yang belum terselesaikan antara individu satu dengan lainnya, antara sekelompok orang kepada kelompok lainnya, pembunuhan tetap saja akan ada. Namun hal demikian tidak menjadikan tindakan pembunuhan yang di lakukan oleh manusia adalah sesuatu yang dimaklumi atau di dibenarkan.

Semoga kedepannya kota Bima atau dana Mbojo dapat kembali menjadi Bima yang ramah yang menjunjung tinggi semboyan Maja Labo Dahu yang menjadi kebanggaan bersama. Agar tidak ada lagi yang namanya tindak kejahatan yang merajalela kian harinya.

Penulis: Nurannisa