Pemimpin Produk Pencitraan Vs Pemimpin Kuat
Cari Berita

Advertisement

Pemimpin Produk Pencitraan Vs Pemimpin Kuat

Minggu, 20 Januari 2019

Iluatrasi (foto: Detiknews)
Pemimpin sederhananya ibarat seperti narkoda yang menjadi penentu kemana arah bahtera akan dilaluinya. Sedankan rakyat ibarat penumpang sebuah kapal yang bukan hanya sekedar mengikuti kemana bahtera akan menuju, namun rakyat juga butuh kenyaman, keamanan dan juga butuh dilindungi dan diayomi dari segala marabahaya dan segala bentuk gangguan selama perjalanan hingga sampai tempat tujuan.

Seperti itulah ilustrasi tentang keadaan seorang raja atau sebut saja presiden (pemimpin) dengan rakatnya. Dimana dalam menempati suatu wilayah rakyat membutuhkan keamanan, ketentraman, kedamaian, kemakmuran atau singkatnya masyarakat yang adil dan egaliter dalam bahasanya Dr. Ridwan. Baik dalam bidang politik, ekonomi dan social kemasyarakatan.

Apalagi di sebuah negeri yang menggunakan system demokrasi, demokrasi yang idealnya dari, oleh dan untuk rakyat. Maka dalam sebuah Negara yang menggunakan system demokrasi, masyarakat dituntut untuk cerdas dalam memilih pemimpinnya. Karena jangan sampai kita dibodohi dan dimanipulasi oleh para calon yang pandai bertopeng.

Memaknai topeng kebaikan padahal sesungguhnya dia adalah orang jahat, mengaku pro-rakyat padahal dia anti-rakyat, menjanjikan kemakmuran rakyat, tetatpi semuanya nihil, berjanji memperbaiki ekonomi rakyat tetapi berbanding terbalik malah membuat ekonomi rakyat terpuruk dan pada akhirnya rakyat melarat.

Apalagi pada saat kampanye politik berjuta-juta janji dikeluarkan oleh mulutnya, namun setelah berkuasa dia cendereng melenceng dan mementingkan diri sendiri dan kroninya. Hal ini sesuai dengan yang diuraikan oleh Ibnu Khaldu dalam bukunya yang berjudul Mukadimah bahwa salah saat sifat dasar kekuasaan adalah cenderung melenceng dan mememntingkan diri sendiri.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun dan pemimpin manapun, tetapi tulisan ini adalah buah kesadaran yang lahir dalam diri saya personal atas kondisi negeri yang terkenal dengan sumber daya alam yang melimpah, namun rakyatnya masih jauh dari kata makmur. Karena termakan oleh janji politik dari pemimpin pada saat kampanye, namun tidak ada yang terrealisasi, ini yang disebut pemimpin produk pencitraan. Baik, berikut penulis akan menjelaskan, seperti apa pemimpin produk pencitraan dan dan Pemimpin yang kuat.

Pemimpin Produk Pencitraan

Pemimpin produk Pencitraan merupakan pemimpin yang dipoles sedimikian rupa, sehingga wujud aslinya tidak nampak dan yang Nampak adalah jelmaannya, sehingga jangan heran yang jahat diberitakan menjadi baik, yang anti-rakyat diberitan menjadi pro-rakyat. Itu semua adalah hasil pencitraan.

Dengan kepentingan politik semua kebaikan dipublikasikan, bahkan tidak berlebihan jika penulis mengatakan tidak ada yang baik, tidak ada yang benar, selain dari sosok yang dicitrakan itu. Bahkan mediapun ikut berperan baik cetak, elektronik dan media online ramai memberitakan kebaikan sosok ini. Sehingga masyarakat yang luguh dan polos menjadi korban manipulasi pencitraan.

Kepercayaan masyarakat bagi penulis adalah hal yang wajar, karena dengan kepolosannya ditambah lagi dengan kehausannya dengan sosok pemimpin yang baik, mereka berharap itulah pemimpin yang bisa membawa negeri yang bernama Indonesia ini kearah yang lebih maju.

Sedemikian rapinya para pengusung mengkontruksikan sedekian rupa, sehingga tidak ada kebenara kecuali kebenaran yang ada pada sosok yang diusungnya. Padahal realitas yang ada sosok yang diangkat-angkat namanya itu belum memiliki rekam jejak yang jelas dan nyata tentang keberhasilannya dalam memimpin. Mulai dari memimpin sekup yang paling kecil hingga yang paling besar.

Ambil sampel mulai dari menjadi walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta hingga sekarang masih menjabat sebagai Pemimpin Negara atau Presiden. Namun dengan kekuatan kaum bermodal yang luar biasa kegagalan-kegagalan ditutupi dengan kebaikan-kebaikan yang dipoles oleh media massa.

Mungkin akan banyak yang berpersepsi bahwa uraian di atas hanyalah bombastis dari penulis untuk menjatuhkan pamor Presiden, namun secara jujur penulis sampaikan bahwa tulisan ini lahir atas dasar keresahan penulis yang tidak merasa ada perubahan dan kemajuan yang real sejak rezim ini memimpin negeri ini.

Secara nyata hal ini sebagai bukti real bahwa Rezim periode ini merupakan pemimpin produk pencitraan. Mungkin semua pembaca belum lupa ketika menjelang Pilpres 2014 lalu ada banyak media yang memberitakan bahwa sosok Jokowi adalah sosok pemimpin yang sangat luar biasa karena di tengah-tengah kemiskinan rakyatnya saat dia menjadi Walikota di Solo dia tidak pernah mengambil gajinya sepeserpun dibandingkan dengan pejabat-pejabat yang lainnya.

Sehingga dengan framing yang dipoles media memberikan kesan bahwa sosok Jokowi yang bisa menjadi pemimpin teladan dan menjadi pemimpin harapan rakyat Indonesia,sehingga rakyat yang polospun terbuai dan termakan dengan pencitraan itu.

Padahal kalau padahal pikir secara logika yang sehat, pada saat Jokowi menjadi Gubernur di DKI Jakarta tidak pernah ketinggalan mengambil gaji, apalagi saat dia menjadi presiden. Hal ini wajarlah karena gajinya lebih besar. Dan ironisnya media tidak ada yang pernah menyinggung perihal Jokowi selalu mengambil gajinya.

Ini menjadi bukti bahwa pada saat menjadi Walikota merupakan moment pencitraan bagi para pengusung Jokowi untuk menjadi presiden. Dan kini sosok Jokowi akan kembali tampil menjadi Calon Presiden dengan framing barunya, bahwa waktu 4 empat tidak cukup untuk membawa Indonesia ke-arah yang lebih baik, maka harus dilanjutkan dengan 4 tahun lagi.

Dengan framing lanjut dua periode supaya ekonomi Indonesia lebih baik dan bagus itu, banyak rakyat yang polos kembali termakan sehingga berambisi untuk memilih sosok yang dikontruksikan oleh pemodal yang luar biasa.

Pemimpin yang Kuat

Mengawali uraian tentang pemimpin yang kuat ini, penulis ingin mengajak semuanya untuk merefleksi kembali sejarah, terutama dalam sejarah peradaban Islam, dimana pemimpin yang kuat akan mampu membawa rakyatnya untuk hidup makmur dan sejahtera atau yang sebut Civil Society. Mulai kepemimpinan tokoh revolusioner yakni Nabi Muhammad SAW. Yang telah berhasil menciptakan suasana aman dan damai di bawah konstitusi yang dapat menjamin kerukunan yaitu Piagam Madinah, walaupun masyarakat Madinah terdiri berbagai macam suku, tetapi dengan kebiksanaan sosok baginda Muhammad SAW. Bisa hidup rukun.

Selanjutnya kepemimpinan dipegang oleh Khulafa Rasyidin (Abu Bakar 2 Tahun, Umar 5 Tahun, Utsman 12 Tahun dan Ali 4 Tahun lebih) yang kesemuanya masing-masing memilik prestasi yang begitu luar biasa dalam memimpin. Dilanjutkan dengan kepemimpin Dinasty Bani Umayyah dan Dinasty Bani Abbasiyah dapat dilihat dalam masa-masa kejayaannya itu semua tidak lepas dari gaya kepemimpinan yang begitu tegas, kuat dan pro-rakyat.

Sebaliknya kembali menengok sejarah bahwa masa-masa kemunduruan Dinasty salah satu sebabnya adalah karena pemimpinnya yang lemah, mememtingkan diri dan kroninya.
Namun, harus penulis juga mengakuinya bahwa mencari sosok pemimpin yang ideal tentu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah, karena rumitnya makhluk yang bernama manusia (Beni Pramula), apalagi di Negeri yang menggunakan system Demokrasi seperti di Indonesia karena yang utama dalam menjadi seorang pemimpin adalah popularitas bukan kualitas, maka untuk mengharapkan pemimpin yang ideal bagaikan mimpi disiang hari.

Baiklah, kita akan memulai memaparkan seperti apa pemimpin yang kuat, tentunya yang dimaksud kuat disini bukanlah hanya dilihat dalam aspek fisik, tetapi pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang mampu untuk mensejahterakan rakyat yang dipimpinnya. Kalau ingin kaya jangan menjadi pemimpin, atau meminjam istilah KH. Ahmad Dahlan hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah. Atau penulis rubah redaksinya : hisup-hidupilah rakyatmu, dan jangan mencari hidup dari rakyat atau di Negara yang sedang terpuruk.

Dalam istilah Tamsil Linrung, pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang memiliki rekam jejak yang baik, ia bias melindungi, mengayomi serta menjadi problem solver terhadap setiap persoalan bangsa dan rakyatnya. Intinya pemimpin yang kuat menurut hemat penulis adalah pemimpin yang mampu memikul beban yang diamanahkan serta mampu membawa kesejahteraan bagi rakyatnya.

Namun penulis ulangi bahwa mencari sosok pemimpin yang ideal untuk bangsa dan Negara ini begitu rumitnya karena kembali lagi bahwa manusia tidak ada yang sempurna, akan tetapi setidaknya dengan kehadiran pemimpin setidaknya dapat meminimalisir persoalan Negara ini. Meminimalisir hutang Negara, meminimalisir kemiskinan, meminimalisir pengangguran di Negeri yang kaya SDA ini.

Maka di tahun politik (2018-2019) menjadi penentu bagi kita, kemana akan kita bawa Negeri yang indah ini. tergantung dari pilihan kita semua sebagai rakyat. Tentukan pilihan, pemilih yang cerdas akan memilih dengan cerdas.
#2019_GANTI_PRESIDEN_OR_TETAP_JOKOWI

Penulis: Abdul Kader