Menengok Pudarnya Citra Anak Bangsa Terhadap Keadilan
Cari Berita

Advertisement

Menengok Pudarnya Citra Anak Bangsa Terhadap Keadilan

Senin, 07 Januari 2019

Foto: Penulis
Mengawali penulisan kali ini mengenai pendidikan dan problematikanya yang begitu rumit untuk dicerna, ada baiknya kita mengingat kembali ungkapan sarat dari plato, seorang Filsuf Yunani terbesar di jamannya, "Arah yang diberikan pendidikan adalah untuk mengawali hidup seseorang dalam menentukan masa depannya"Dari kalimatnya tersebut, Plato menyadari pentingnya pendidikan dapat memberikan petunjuk atau arah mana yang dapat dilalui untuk dapat sampai di tempat yang kita inginkan.

Adapun tempat yang kita inginkan itu semisal masa depan yang cerah, kesuksesan yang banyak dituai, kepribadian yang terhormat, dan tentunya kebahagiaan dalam menjalani kehidupan.

Secara implisit, arah yang dimaksud plato dalam ungkapannya tersebut cenderung mengenai kejujuran. Ya, tak dapat dipungkiri lagi bahwa kejujuran dan keadilan merupakan investasi utama dalam membangun masa depan yang baik. Seperti kata pepatah, "Honesty brings success and success" Atau yang artinya kurang lebih ialah keberhasilan, kejujuran, keadilan dan kesuksesan masa depan seseorang tergantung sejauh mana kejujuran itu tertanam dalam dirinya.

Dalam hal ini, plato menilai bahwa kejujuran dapat terbentuk melalui pendidikan, baik itu dalam proses pembelajaran, maupun system atau pola pendidikan yang diterapkan. Akan tetapi, bagaimana jika pendidikan yang diharapkan dapat membentuk kejujuran itu menjadi terhambat? Bahkan menjadi sarang bagi terciptanya ketidakjujuran dan keadilan?

Suatu waktu, kelas saya mendapatkan tugas dari dosen pengampu mata kuliah Prosa untuk membuat sebuah Essai. Tugas tersebut nantinya akan menjadi bahan penilaian di akhir semester. Oleh karena itu, saya menjadi termotivasi untuk membuat sebuah Essai yang benar-benar bagus, dengan harapan nilai yang saya peroleh nantinya akan membantu nilai akumulatif saya di akhir semester.
Setelah melalui pemikiran yang matang, akhirnya saya menemukan satu topik yang lebih spesifik "Hukum yang tumpul keatas tajam kebawah" itulah topik yang saya temukan, yang pada saat itu memang sedang ramai dibicarakan orang. Dengan begitu, judul Essai saya hasil dari korelasi keduanya ialah "Hukum tumpul keatas tajam kebawah dalam Perspektif Hak Asasi Manusia".

Ironis! Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan fenomena tersebut. Terlebih, fenomena ketidakjujuran itu terjadi di tempat dimana orang seharusnya berlaku jujur, dimana orang dapat menemukan kejujuran. Dan yang lebih ironis lagi, nilai yang saya dapatkan dari hasil penilaian atas Essai yang saya buat sendiri itu, lebih rendah jika dibandingkan dengan yang mereka dapatkan. Hal inilah yang membuat pertanyaan menggelitik dalam benak saya muncul, "Jika nilai yang menjadi alasan mereka bertindak curang, apa bedanya mereka dengan koruptor yang memuja uang? Lantas untuk apa saya bekerja keras mengerjakan tugas sedemikian rupa, jika ternyata ada dosen yang lebih menyukai suatu hal yang sempurna meskipun itu hasil ketidakjujuran?”

Baiklah, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pendidikan formal di Indonesia (sampai saat ini), ukuran keberhasilan seseorang itu memang sangat tergantung pada tinggi-rendahnya nilai yang mereka dapatkan, baik itu melalui kegiatan evaluasi nilai yang ditentukan oleh pendidiknya, sekolah maupun oleh pemerintah pusat.

Implikasi paradigma pendidikan yang berorientasi nilai seperti itu mau tak mau membuat orang berfikir untuk mencari cara agar dapat dikatakan berhasil melalui pemenuhan nilai yang seoptimal mungkin, termasuk dengan melakukan praktik kecurangan. Padahal, salah satu esensi pendidikan yang ideal ialah menciptakan manusia yang berkualitas dan berintegritas melalui penerapan nilai-nilai agama, kejujuran dan tanggung jawab.

Contoh yang saya alami diatas merupakan satu dari sekian banyak kasus penyimpangan terhadap kejujuran akademik, yakni berupa kecurangan akademik. Kecurangan akademik itu sendiri, menurut Deighton, merupakan upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak jujur. Dengan kata lain, perbuatan seperti menyontek, plagiarisme, mencuri dan/atau memalsukan sesuatu yang berhubungan dengan akademik itu dengan tujuan untuk mendapatkan keberhasilan dapat dikategorikan sebagai kecurangan akademik, dan/atau bentuk penyimpangan terhadap kejujuran akademik.

Jujur saja, saya sangat prihatin dengan kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Banyaknya kasus kecurangan akademik yang saya temukan, baik itu secara langsung maupun melalui data-data empiris di berbagai media informasi, seakan-akan memperlihatkan pudarnya pesona kejujuran akademik yang senantiasa menghiasi citra pendidikan Indonesia dulu kala. Belakangan ini, bangsa kita seperti sedang mengalami krisis moral yang akut dan berkepanjangan, apalagi sejak semakin mudahnya orang mendapatkan informasi, kecenderungan untuk melakukan penyimpangan itu semakin melebar.

Plagiarisme misalnya, perbuatan yang dikategorikan sebagai kejahatan intelektual itu, sering dilakukan dan bahkan sudah seperti sebuah tradisi di masyarakat kita. Ironisnya, plagiarisme bukan hanya dilakukan oleh pelajar saja, melainkan juga dilakukan oleh pendidik, seperti dosen misalnya.

Data yang saya dapatkan dari Kemdikbud, pada tahun 2013 saja, dalam proses sertifikasi dosen terdapat 808 dosen yang melakukan plagiat. Ya, ini adalah realita. Realita buruk yang harus secepatnya mendapat perhatian kita semua. Saya menilai, perlu adanya upaya komprehensif yang dilakukan bersama untuk menumbuhkan karakter jujur dalam diri setiap manusia di Indonesia.

Kejujuran erat kaitannya dengan kebenaran dan moralitas. Bersikap jujur merupakan salah satu tanda kualitas moral seseorang. Dengan menjadi seorang pribadi yang berkualitas, kita mampu membangun sebuah masyarakat ideal. Masyarakat yang ideal akan menghasilkan generasi yang ideal pula, yakni generasi emas. Istilah generasi emas sebenarnya merupakan istilah yang digunakan oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhammad Nuh, pada perayaan Hari Pendidikan Nasional tahun 2012 silam.

Pendidikan Karakter atau Character Education merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter manusia yang ideal di lingkungan pendidikan. Pendidikan karakter ini sering juga disebut sebagai pendidikan akhlak dan/atau pendidikan moral, yakni pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan dalam diri manusia. Salah satu nilai yang ditanamkan dalam pendidikan karakter ialah nilai kejujuran, terutama kejujuran akademik. Pendidikan karakter dapat menumbuhkan kejujuran akademik dalam diri seseorang. Oleh karenanya, sangat diperlukan strategi yang efektif dari pelaksanaan pendidikan karakter tersebut.

Adapun strategi pelaksanaan pendidikan karakter untuk menumbuhkan kejujuran akademik yang dapat dilakukan di setiap sekolah/kampus itu dapat melalui empat cara yang berkesinambungan, yakni : (1) Pembelajaran, artinya nilai-nilai kejujuran akademik itu harus disampaikan oleh guru melalui proses pembelajaran, (2) Keteladanan, artinya kejujuran akademik itu harus diaplikasikan atau dimodelkan oleh para komponen pendidikan di sekolah/kampus. (3) Penguatan, sekolah/kampus dapat membuat program khusus, seperti pembuatan banner/spanduk yang menjelaskan pentingnya kejujuran akademik dengan tujuan untuk memperkuat nilai kejujuran tersebut. (4) Pembiasaan, sekolah harus membuat pembiasaan terhadap kejujuran akademik itu, seperti misalnya melarang plagiarisme, melarang mencontek, berlaku curang, dan sebagainya. Keempat cara itu akan terlaksana dengan baik apabila semua komponen pendidikan mampu menerapkannya dengan baik pula.


Penulis: Fiki Setyawan
(Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang).