Gagasan Baru Untuk Indonesia Lebih Maju
Cari Berita

Advertisement

Gagasan Baru Untuk Indonesia Lebih Maju

Sabtu, 05 Januari 2019

Foto: Penulis
Tahun 2019 telah datang. Namun tahun 2018 banyak menyisahkan kisah-kisah yang penuh dengan sensasi serta menyisahkan luka yang dalam bagi masyarakat, baik itu bencana alam, kondisi politik yang memanas dan masalah-masalah ekonomi yang menjadi renungan kita semua di tahun 2019.

Tahun baru 2019 ini berbeda pada tahun baru sebelumnya, tentu perbedaan tersebut bukan dalam perubahan tahun dari 2018 ke tahun 2019, namun tahun 2019 mendatang akan menyisahkan sejarah baru serta lembaran baru bagi bangsa dan masyarakat Indonesia, pada 17 April 2019 mendatang Indonesia akan mengadakan Pemilihan Umum (Pemilu).

Pemilu pada tahun 2019 mendatang akan berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya, tidak lain dan tidak bukan pemilu tahun ini akan berlangsung secara bersamaan, anatara pemilihan legislatif (pileg) dengan pemilihan presiden (pilpres). Hal ini sangat menarik perhatian, baik itu dari pengamat politik, mahasiswa maupun masyarakat umum. Mesin-mesin politik akan benar-benar diuji serta dituntut untuk bekerja ekstra untuk memenangkan pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

Aroma persaingan semakin menguat ketika calon presiden dan wakil presiden, yang akan berlaga pada kontestasi pilpres mendatangi kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada tanggal 18 Agustus 2018 lalu, menjelang detik-detik terakhir pendaftaran calon presiden dan dan wakil presiden, terungkaplah sosok calon yang resmi berlaga di Pilpres mendatang.

Dari kubu petahanan Jokowi Widodo bersama koalisinya memilih sosok K.H. Ma'ruf Amin untuk mendampinginya, dengan gaya komunikasi politik Jokowi yang selalu turun langsung ke masyarakat dianggap cocok berpasangan dengan sosok kiyai.

Melihat Jokowi yang dianggap pemimpin yang anti terhadap islam, sosok K.H Ma'ruf Amin dipercaya dapat mendongkrak elektabilitas pasangan tersebut, terkhusus dikalangan umat islam yang berlatar belakang santri.

Kubu oposisi Prabowo Subianto beserta koalisinya, memilih sosok Sandiaga Salahudin Uno wakil gubernur DKI Jakarta yang sekaligus pengusaha muda, yang akan mendampinginya. Sosok Sandi yang dipandang sebagai pengusaha muda yang sukses, dianggap mampu mendulang suara pemilih kaum muda dan perempuan.

Strategi politik mulai dibangun oleh kedua kubu, sejak kedua pasangan calon mendaftar di KPU perang narasi menjadi tontonan umum bagi masyarakat, narasi-narasi yang dibangun dari masing-masing kedua kubu masih belum menyentuh sektor pokok kehidupan masyarakat. Narasi-narasi yang sering didengar adalah siapa yang paling islam, politik gendruwo, tampang boyolali, Indonesia bubar, sontoloyo masih terus di goreng oleh kedua kubu untuk saling menjatuhkan.

Narasi-narasi tersebut mengingatkan perdebatan pada masa kita kecil, dimana saling sindir dan saling ejek antara siapa solatnya paling rajin, islamnya paling benar, siapa yang paling tanpan dan lainnya, bisa membawa kita ke perkelahian. Hal tersebut yang dipertonton kedua kubu sekarang, soalah-olah kedua kubu dangkal akan pemahaman serta masalah-masalah pokok kehidupan masyarakat.

Sektor pokok kehidupan yang benar-benar harus dibahas oleh kedua kubu, ialah masyarakat Indonesia yang belum bisa merasakan keadilan serta kesejahteraan, baik itu dari segi hukum, ekonomi maupun politik. Indonesia yang terkenal dengan sumber kekayaan alamnya yang berlimpah, mulai dari perkebunan, pertambangan serta energi, seharusnya mampu menjadi negara yang maju.

Berdasarkan hasil yang dirilis oleh The Wharton School at the University Of pennsylvania dan BAV Consultan Indonesia berada di posisi 39 negara terbaik Dunia di tahun 2017 dengan Pendapatan Bruto Domestik (PDB) sebesar US$888,5 Miliar, Populasi 257,6 Juta Jiwa dan pendapatan perkapita US$11.149. Indikator penilain tersebut diantaranya adalah kemudahan berusaha, kewirausahaan, kualitas hidup, kekuasaan hingga kewarganegaraan, sedangkan jumlah penduduk miskin di Indonesia perMaret 2018 mencapai 9,82% yaitu sebanyak 25,95 juta orang.

Hal tersebut menjadi tantangan terbesar bagi kedua kubu, adu gagasan untuk menjawab tantangan diatas harus mulai dibangun, jika kita menginginkan Indonesia menjadi negara maju. Adu gagasan bukan adu argumen atau narasi yang tidak memberikan manfaat yang diharapakan masyarakat.

Dalam pesta demokrasi tahun 2019 ini, pendidikan politik harus benar-benar diberikan kepada masyarakat, terutama untuk kaum muda, agar kedepannya terciptanya demokrasi yang lebih baik lagi. Tahun 2019 merupakan tahun yang bersejarah bagi negara kita, mari kita ukir sejarah demokrasi yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Penulis: Muhammad Ardi Ferdiansyah (Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan UMM).