UNITY IN DIVERSITY
Cari Berita

Advertisement

UNITY IN DIVERSITY

Ginanjar Gie
Rabu, 05 Desember 2018

Foto : Penulis
Tidak bisa dipungkiri bahwa rasa persatuan telah tumbuh menjamur di  hati umat islam di era milenial saat ini. Bukan Karena  perihal ikatan darah keluarga, nasionalisme apalagi ikatan kepentingan, sekali-kali bukan. Tetapi karena ikatan akidah islamlah yang membuat para pemeluknya  datang dari berbagai latar belakang organisasi, suku, bahasa dan status sosial di segala penjuru nusantara untuk menghadiri sebuah pertemuan yang fenomenal di ibu kota. Bahkan banyak non muslim turut hadir yang sekaligus menunjukkan bukti kuat bahwa sebuah kalimat sakti mampu merekatkan dan menyatukan keragaman nusantara. Atau dalam semboyan negara kita adalah Bhineka Tinggal Ika, walaupun berbeda-beda tetap satu jua.

Jumlah peserta nya pun lebih dari 13 (Tiga Belas) juta orang berdasarkan laporan jumlah Handphone dari pusat operatornya masing-masing. Masih berani mengatakan pertemuan itu di tunggangi? dibayar dengan uang seratus ribuan? bayangkan saja ongkos perjalanan nya, sewa penginapan dan hotelnya, serta konsumsinya. Bahkan para peserta tidak membawa dirinya seorang, satu keluarga besarpun ikut, terdiri dari kakek, nenek, ayah, ibu, balita, anak-anak, kakak, adik, teman dan sahabatnya.Tetapi ada saja yang mengatakan yang hadir cuma puluhan ribu, dan event ini berpotensi memecah belah umat,  ungkap mereka. Logikanya kemana? Sungguh statement yang menunjukkan kepanikan yang luar biasa.

Anak SD juga tahu moment 212 adalah momen persatuan terbesar dan paling bersejarah di negeri ini. Bisa dikatakan, telah melahirkan rekor dunia berlipat dengan jumlah peserta sholat tahajjud, sholat subuh, Dan sholat Dhuha terbesar sepanjang masa. Lihatlah apa yang terjadi pasca ajang silaturahmi tersebut. Monumen Nasional yang merupakan pusat acara dan area sekitarnya bebas dari sampah-sampah, dan berakhir dengan sangat damai tanpa jejak negative sedikitpun. Sehingga puluhan ribu orang para angkatan bersenjata yang bertugas mengamankanpun menangis haru pilu dan penuh keheranan sendiri sebab peralatan lengkap yang mereka kenakan layaknya akan berhadapan dengan musuh di medan perang. Siapa yang akan mereka lawan? saudara sebangsa dan seakidah mereka?

Yang paling aneh juga terjadi pada media-media nasional yang seolah menutup mata dan telinga. Belasan TV Nasional tiba-tiba saja menghilang dan mendadak no signal di saat event berlangsung. Yang masih konsisten dengan professionalitas jurnalistik hanya ditunjukkan oleh satu, dua media saja. Sungguh negeri yang rumit. Hal ini diluar dari beberapa gangguan komunikasi yang di alami oleh sebagian besar peserta dan juga penghapusan postingan di sosial media sampai ke pemblokiran sementara akses  pada fitur-fitur nya. Keterlaluan.

Di sisi yang berbeda, terlepas dari upaya-upaya gangguan tersebut, umat muslim yang mayoritas berada di negeri ini telah bangkit dan menunjukkan pada dunia akan kekuatannya dibawah naungan bendera tauhid. Potensi persatuan ini akan menjaga negeri dari penjajahan-penjajahan gaya baru yang selama ini menggerogoti setiap aspek kehidupan rakyat, seperti ekonomi kapitalis, hukum jungkir balik import dari barat, sekularisasi politik dan agama, dan kepentingan-kepentingan asing yang menguras habis Sumber Daya Alam negeri ini.

Sehingga berangkat dari spirit 212, nantinya akan lahir kesadaran kemerdekaan yang sesungguhnya dengan berdiri independent tanpa ketergantungan dari hutang, pihak asing dan juga tidak memeras rakyat dengan topeng kebijakan, pajak, asuransi dan jaminan sosial, yang jelas-jelas mencekik rakyat.
Dengan demikian, cita-cita bangsa untuk menciptakan kesejahteraan bagi seluruh rakyat dapat terwujud oleh tangan-tangan kita sendiri yang saling menggenggam dan menyatukan barisan dalam melawan pelecehan, diskriminasi, persekusi dan kedzaliman-kedzaliman di negeri ini.

#The Real Unity
Oleh : Muammar Iksan