Potret Seorang Perempuan Dalam Berbudaya
Cari Berita

Advertisement

Potret Seorang Perempuan Dalam Berbudaya

Ginanjar Gie
Kamis, 13 Desember 2018

Oleh : Vivian Nur Safitri



“Dalangnya didatangkan khusus dari Kemenuh yang letaknya tak jauh dari kampung. Berbeda dengan pementasan wayang sebelumnya, kali ini dihadirkan dalang perempuan yang memang dikenal punya banyak prestasi." (Kalamata:84)

Seiring berkembangnya teknologi di era modern, kebiasaan setiap orang tidak jauh dari budaya yang memengaruhinya. Budaya dipandang sebagai suatu sistem kehidupan yang terjadi dalam suatu kelompok. Salah satu kelompok yang berhasil menjadi potensi perkembangan budaya sampai saat ini adalah perempuan. Kutipan diatas diambil dari sebuah novel Kalamata karya Ni Made Purnama Sari. Sebuah novel perdana yang dirilis dan menceritakan tentang seorang wanita tradisi yang menekuni profesi dalang.

Dalam setiap daerah memiliki budaya atau pandangan kelompok yang berbeda. Budaya juga sebagai kesatuan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, adat serta kebiasaan yang mampu diterima masyarakat. Pengalaman sejarah terlihat adanya usaha dari budaya yang kuat untuk lebih mendominasi budaya yang lemah. Hal tersebut juga berlaku bagi kaum perempuan dalam hal berbudaya yang paling banyak didominasi oleh kaum laki-laki.

Perempuan pada zaman dahulu tidak banyak menyadari adanya kebebasan dalam menentukan keinginan. Ada perbedaan yang mendasar antara kaum perempuan dan laki-laki yang terlihat secara sosial maupun kultural. Sifat perempuan yang dikenal lemah, lembut, cantik dan emosial berbanding terbalik dengan sifat laki-laki yang dikenal kuat, rasional, jantan dan perkasa. Namun, menyadari adanya potensi perempuan di bidang budaya yang terlihat dalam novel Kalamata karya Ni Made Purnama Sari membuat karya tersebut berbeda dan mampu memotivasi kaum perempuan.

Profesi dalang tidak jauh dari pertunjukan malam yang sewajarnya dipimpin oleh kaum laki-laki dalam memainkan pertunjukan wayang. Pertunjukan seni yang dikenal dengan permainan bonekanya ini menjadi menarik masyarakat saat dalang yang disebutkan adalah seorang wanita. Pada zaman sekarang tidak banyak wanita yang pandai menekuni profesi dalang. Bahkan seni pertunjukan tradisional tersebut jarang terlihat di media massa.

Ni Rumyig, tokoh utama wanita dalang yang saat itu menjadi perbincangan hangat masyarakat disekitarnya. Seseorang yang kala itu amat tersohor dan mendapat ajakan untuk tampil diberbagai acara pertunjukan wayang. Sampai suatu saat membuat karir pedalang wanita tersebut meredup dan menghilang bak ditelan bumi. Tanpa ada kabar yang jelas, Ni Rumyig yang dulunya seorang dalang wanita terkenal kini berubah menjadi wanita yang tidak sadar akan keberadaannya. Kemudian berakhir dengan penyakit demensia.

Kehidupan tokoh utama dalam novel Kalamata karya Ni Made Purnama Sari mampu memengaruhi pelestarian budaya lokal dalam bidang kesenian wayang. Tidak hanya tampil dalam pementasan wayang melainkan menjadi perempuan yang memiliki kemampuan menari.
“Orang-orang mengenal nama panggungnya Ni Rumyig, seorang yang kala itu amat tersohor, tampil di berbagai acara pertunjukan penting, termasuk membawakan lakon-lakon pewayangan di hadapan presiden dan jajarannya bilamana pemimpin negara bertandang ke Istana Tampaksiring. Ia juga pandai menari legong keratin dan kebyar duduk, tari legendaris yang diciptakan oleh maestri I marya, seniman asal Denpasar yang kemudian menjadi parekan di Puri Tabanan”. (Kalamata:29)

Kutipan diatas menjelaskan bahwa perempuan berpengaruh dalam perkembangan dan pelestarian budaya termasuk saat budaya tersebut hanya mampu dilakukan oleh kaum laki-laki seperti contohnya menjadi dalang pewayangan. Menjadi perempuan yang terlibat dalam melestarikan  budaya tidaklah mudah. Prestasi Ni Rumyig sekaligus tokoh utama dalam novel Kalamata tidak hanya terlihat setelah ia menekuni profesi dalang dan memimpin sekaa dalangnya melainkan setelah ia menjadi asisten bagi juru dalang.

“Tahun 1980 ia sudah membantu jadi katekong atau asisten bagi juru dalang tersebut, sebelum yang bersangkutan meninggal sehingga Ni Rumyig melanjutkan perannya pada 1985. Waktu memang tidak banyak wanita berprofesi menjadi juru dalang. Hanya dirinya dan seorang lagi yang berasal dari Desa Babakan, Gianyar. Saat mereka tampil di Pesta Kesenian Bali tahun 1986 – sebuah perhelatan seni tahunan yang melibatkan berbagai seniman dan pergelarannya terus mentradisi sampai sekarang – panggung pertunjukan selalu penuh”. (Kalamata:63)

Dalam novel ini  terdapat hubungan antara peran wanita terhadap kondisi budaya Bali pada saat itu. Seorang wanita tradisi yang menggeluti bidang pewayangan hingga bisa memimpin sekaa dalang. Ia terus dibuat cemas dan khawatir karena bertolak belakang dengan budaya yang pada saat itu memandang buruk wanita yang berprofesi sebagai dalang.

“Pada masa itu, tidak banyak yang menyukai peran perempuan mendalang. Kalau anda sudah membaca karya Prof. Widia tentang sejarah pedalangan, setidaknya anda akan menjumpai bagian menarik betapa wanita penggemar tontonan wayang dicitrakan begitu buruk” (Kalamata:94)

Kutipan diatas menjelaskan bahwa kehidupan yang dimiliki oleh Ni Rumyig sebagai wanita dalang dalam melestarikan budaya lokal tidak mudah. Namun hal itu tidak membuat tokoh utama menyerah dan tetap terus mempertahankan sekaa dalangnya bersama anggota lainnya. Hingga sampai suatu hari terdengar berita bunuh diri dari anggota sekaa yang tak lain bernama Made Numadi. Hal tersebut perlahan membuat sekaa dalang yang dipimpin Ni Rumyig runtuh dan berhenti. Keadaan membuat karir tokoh utama perlahan memudar dan hilang.

Sebagai dalang wanita yang tidak pernah mengenyam pendidikan, tokoh utama harus lebih menerima keadaan saat karir dan kehidupannya perlahan dipandang buruk oleh masyarakat sekitar. Naik turunnya kehidupan tokoh utama bersamaan dengan penyakit demensia yang ia derita. Penyakit itu membuatnya harus meninggalkan dan melupakan masa kejayaannya dulu saat menjadi wanita dalang.

Juru dalang mungkin kalah dalam sejarah, namun pengabdiannya dalam berbudaya akan terus diingat masyarakat. Salah satu hal yang menjadi pesan dalam potret seorang perempuan dalam berbudaya adalah tetap menjadi teguh saat pikiran dan perasaan terus dihantam persoalan dari berbagai pandangan. Melestarikan budaya menjadi kewajiban bagi setiap orang termasuk kaum perempuan. Hidup akan terus berjalan sesuai peradaban zaman dan sudah sewajarnya sebagai masyarakat yang berbudaya untuk melestarikan budaya bangsanya.

*Mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang