Pewayangan Modern Tanpa Menginferioritas Pewayangan Tradisional
Cari Berita

Advertisement

Pewayangan Modern Tanpa Menginferioritas Pewayangan Tradisional

Rabu, 26 Desember 2018

Foto: Penulis
Oh, ya, bagaimana Berlin, Sinta? Jadi kamu nonton opera "Tristan and Isolde?" Hmmm… "Tristan and Isolde.… Seorang kesatria dan seorang putri. Tristan berhasil memenangi sayembara memboyong Putri Isolde dari Irlandia.

Sebuah cerita pewayangan Rama dan Sinta, yang dikemas dengan sentuhan fenomena-fenomena kisah. Dari kutipan di atas, cerita Rama dan Sinta sudah ada pada masa sesudah cerita Tristan and Isolde. Pada kutipan tersebut, seorang pria bertanya tentang keadaan Sinta selama di Berlin, dan menceritakan kisah dari cerita Tristan and Isolde.

Secara tidak langsung pada dialog tersebut adalah penegasan dari cerita percintaan Rama dan Sinta, karena kedua cerita tersebut memiliki kesamaan yaitu membahas tentang percintaan.
Pada kenyataanya, di masa pewayangan, nama kota Berlin dan kisah Tristan and Isolde belum ada. Hal ini merupakan salah satu bentuk kreativitas dari seorang dalang.

Membawakan dan menceritakan pewayangan, yang dituangkan dalam sebuah novelnya. Ini tidak lepas dari kebebasan untuk menciptakan sebuah karya sastra.

Karya sastra pada dasarnya merupakan refleksi dari suatu kisah yang telah terjadi atau membuat suatu hal yang baru, dengan cara merenung, peristiwa yang telah dialami dan dilihat secara sungguh-sungguh kemudian dituangkan dengan bentuk karya sastra oleh pengarang.

Pewayangan merupakan budaya yang memiliki strata tertinggi di Indonesia khususnya di Pulau Jawa. Keberadaanya sudah ada sebelum agama dan kebudayaan asing masuk ke Indonesia.

Mengandung filsafah masyarakat Indonesia, menjadikan kebudayaan wayang sebagai kearifan bangsa Indonesia. Meskipun ada beberapa cerita pewayangan yang diadaptasi dari cerita Ramayana dan Mahabarata dari India, tapi semata-mata tidak mengandung filsafah masyarakat india dalama pewayanagn di Indonesia, melainkan memiliki kesamaan cerita.

Melestarikan merupakan upaya untuk mempertahankan suatu kebudayaan. Melalui sebuah novel, cerita pewayangan dikemas berbeda dengan sentuhan gaya bahasa dan pemilihan kata yang mejadikan dunia pewayangan lebih menarik untuk dipelajari.

Pewayangan biasanya dimainkan pada malam hari sampai menjelang pagi. Dengan dalang yang memainkan semua tokoh-tokoh pewayangan tersebut. Pada era milenial seperti sekarang, selain persaingan antara individu satu dengan individu lainya sangat ketat, inovasi-inovasi selalu terbarukan di bidang komunikasi, teknologi, pendidikan, dan kebudayaan.

Salah satu dampak dari perkembangan kebudayaan tersebut, yaitu rendahnya peminat terhadap kebudayaan, karena perkembangan teknologi lebih memanjakan dari pada asal usul sekaligus sejarah bangsa Indonesia yaitu budaya itu sendiri.
Hal ini dapat menghilangkan kebudayaan tersebut secara tidak langsung, bahkan perebutan kebudayaan antar negara akan terjadi ketika pemilik asli budaya tersebut melupakan dan tidak melestarikannya.

Kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia dan memberi dampak yang di dominasi negatif bagi bangsa Indonesia. Sebagai individu yang cerdas, akan menerima setiap masukan atau perubahan yang masuk. Tapi disamping itu, individu tersebut akan mengambil sisi positif dan mengabaikan sisi negatif , bahkan tidak menggunakan sisi negatif dari suatu perubahan dan inovasi yang member dampak tidak baik di kemudian hari.

Salah satu bukti nyata, yaitu ketika Reog Ponorogo diakui oleh negara lain, yang tak lain merupakan negara tetanggan sendiri. Reog Ponorogo sebagai identitas bangsa Indonesia terutama di daerah Ponorogo, mencerminkan kehidupan orientalis masyarakat di suatu daerah, yang dikemas dengan melalui kebudayaan tersebut.

Tidak hanya nasib Reog Ponorogo, pewayangan di Indonesia saat ini mulai menurun, di samping dalam pertunjukanya yang membutuhkan waktu semalaman untuk menghabiskan ceritanya, hal ini akan memberi kesan bahwa menikmati kebudayaan itu membutuhkan waktu dan menggunakan waktu istirahat.

Salah satu upaya dalam menciptakan inovasi demi inovasi dalam melestarikan budaya, terutama pewayangan, dengan menceritakan dan mengombinasikan kisah pewayangan mengunakan analogi cerita sejarah. Percakapan antar lakon, di tunjukan dengan interaksi yang berbeda dan dikombinasika dengan fenomena-fenomena yang ada pada zaman saat ini. Di kemas dalam sebuah novel, menjadi salah satu media dalam melestarikan berlangsungnya kebudayaan dari cerita pewayangan agar tetap lestari sepanjang masa.

Dalam novel karya Sujiwo Tejo, yang berjudul Rahvayana Aku Lala Padamu, di dalam bahasan cerita, ditunjukan melalui dialog antar lakon, berbeda dari pewayangan biasanya, tapi tetap dalam konteks cerita pewayangan.

Dalam novel tersebut menceritakan pewayanagan dengan caranya menuliskan cerita kedalam sebuah novel sebagai media alternatif agar terkesan berbeda dalam penyampaian kebudayaan, khususnya cerita pewayangan.

Di dalam novel, cerita pewayangan dibawakan dengan cerita yang hidup di dunia modern dan kisahnya dianalogikan dengan cerita-cerita lama. Hal ini menjadikan salah satu cara untuk menyampaikan cerita pewayang agar dapat menarik kaum milenial dalam menikmatinya. Ini akan menjadi salah satu kegiatan yang kreatif agar kubudayaan, terutama dunia pewayangan dapat dinikmati dengan suasana yang berbeda dan pewayanagn sendiri akan tetap dilestarikan.

Berdasarkan uraian di atas, problematika yang kompleks dan perubahan yang terjadi di masa ini, akan memberikan dampak yang besar bagi setiap aspek yang ada. Kebudayaan sebagai aset bangsa Indonesia, akan menjadi salah satu objek yang akan terancam keberadaanya. Oleh karenanya, sebagai agent of change, patut menjaga dan melaestarika kebudayaan, terutama pewayangan sebagai kebudayaan tertinggi di Indonesia.

Penulis: Diki Febrianto (Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sasatra Indonesia UniversitasUniversitas Muhammadiyah Malang).