Pentingnya Literasi Sejak Dini Agar Mampu Merepresentasikan Masa Depan
Cari Berita

Advertisement

Pentingnya Literasi Sejak Dini Agar Mampu Merepresentasikan Masa Depan

Ginanjar Gie
Senin, 10 Desember 2018

Foto : penulis
Dengan nyaman aku menjawab pertanyaan tentang kerja Bapakku sebagai wartawan Harian Solo. “Beliau yang mengajarkan kami berdua sejak kecil mencintai bacaan,” kataku.
Aku juga mengakui, kesenanganku bergumul dengan kata-kata, menulis cerita, mengulik bahasa asing dan akrab dengan karya sastra yang di mulai karena Bapak.

Pembiasaan baik yang tertera di dalam novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori menggambarkan seorang Tokoh utama yang bernama Laut, dia dan adiknya sejak kecil sudah dibiasakan oleh Bapaknya untuk mencintai bacaan. Efek dari pekerjaan sang Bapak dari tokoh utama itulah yang membuat dia mendapatkan sebuah pembiasaan baik yakni literasi yang baik dalam kesehariannya. Dari sebuah didikan sang Bapak tersebut tumbuhlah kebiasaan tokoh utama dan adiknya untuk selalu membaca mulai dari membaca komik dan buku-buku penulis terkenal.

Kebiasaan yang ditanamkan pada tokoh utama dari sang Bapak memberikan hal positif bagi diri tokoh utama dalam kesehariannya yakni di dalam diri tokoh utama mulai tumbuh rasa senang dalam bergumul dengan kata-kata, menulis cerita,dan mengenal lebih dalam karya sastra. Dari pengaruh sang Bapak yang menuntut tokoh utama untuk mencintai bacaan juga mengakibatkan tumbuhnya keinginan dalam diri tokoh utama untuk menjadi seorang penulis besar.

Dalam novel Laut Bercerita menerangkan bahwa tuntutan sang Bapak kepada tokoh utama untuk mencintai bacaan sejak kecil mengharuskan dia untuk berumul dengan buku dari situlah tokoh utama mulai memunculkan rasa sukanya  dalam mengoleksi buku. Tokoh utama mulai mengoleksi buku sejak sekolah dasar sampai saat di bangku SMA. Tokoh utama tidak hanya mengoleksi buku-buku pelajaran, komik, dan novel melainkan tokoh utama juga mengoleksi buku-buku sastra seperti karya Chairul Anwar, Putu Wijaya, Rendra. Buku-buku yang di koleksinya selalu tertata rapi di kamar pribadinya karena sang ibunda tokoh utama selalu merapikan buku-bukunya. Berikut kutipan.

Kamarku di rumah orang tuaku selalu saja sama. Di Solo ataupun di Jakarta, Ibu selalu membantu menyusun buku-buku yang ku koleksi sejak sekolah dasar hingga SMA di rak buku yang menutupi dinding kamar. Buku masa kanak-kanak hingga remaja semua tersusun rapi di rak di seluruh dinding hingga mencapai langit-langit kamar. semua buku sastra yang sudah kulalap sejak masih di sekolah dasar hingga SMA. Karya-karya sastrawan Indonesia dari kumpulan puisi Chairil Anwar, Rendra, Putu Wijaya dll.

Pembiasaan literasi yang ada di dalam kehidupan tokoh utama memang menjadi sebuah pelajaran yang sangat efektif dalam menghadapi dunia yang keras ini. Dalam novel Tokoh utama berhasil mengasah ilmu hasil literasi yang dilakukannya sejak kecil dengan sangat baik yakni karya tulisan yang menarik, sehingga ada dukungan positif dari teman-teman ataupun sahabat terdekatnya. Berikut kutipan yang tertera dalam novel.

Menerjemahkan buku-buku sastra seperti karya Orhan Pamuk atau Mario Vargas Llosa (yang tentu saja hanya bisa ku terjemahkan dari bahasa inggris) pasti akan lebih lama, bukan saja karena membutuhkan intensitas tetapi aku juga menikmatinya.
“Laut, aku yakin suatu hari kau akan menjadi penulis besar.” Aku merasakan bagaimana jantungku seolah menggelepar. “Beberapa tulisanmu kubaca dan untuk mahasiswa sepertimu, kamu menggali dengan dalam. Bahasamu tidak klise. Aku sangat yakin kamu bukan hanya ingin menulis tentang awan gemawan atau bulan sabit yang ditemani ranting sebuah malam,” kata Kinan.

Leila S. Chudori menggambarkan kehidupan tokoh utama bahwa dunia luar keluarga atau di lingkungan masyarakat tidak semua apa yang menjadi keinginan berjalan sesuai apa yang direncanakan karena dalam dunia luar sangat banyak hambatan-hambatan yang menjadi penghalang dalam suatu kegiatan yang ingin dilakukan. Apa yang dilakukan tokoh utama dalam mewujudkan cita-citanya dalam kehidupannya di lingkungan masyarakat ada sebuah hambatan-hambatan yang menghalangi kegiatannya tersebut. Kutipan yang ada dalam novel.

Jika keadaan memungkinkan, aku mengetik di warnet, tetapi biasanya warnet cukup penuh dengan mahasiswa atau beberapa orang yang tampak seperti sehingga aku bakal membatalkan pekerjaan disana dan hanya akan menuliskan terjemahan yang membosankan itu. Karena tulisan tanganku cukup baik dan bersih, aku mencicil dengan mengirim lima halaman tulisan kepada penerbit dan mereka akan bersedia mengetiknya.

Leila S. Chudori menegaskan sesuai kutipan di atas bahwa Keberhasilan Tokoh utama di masa depan adalah sebuah hasil dari usaha-usaha orang terdekat terutama orang tua yang memiliki sebuah peranan penting di masa kecilnya. Dari hasil kegigihan bimbingan orang tua tokoh utama membuahkan hasil yang cukup menyenangkan bagi orang tuannya. Tokoh utama bisa menerbitkan tulisan-tulisannya di media walaupun tulisannya tidak begitu banyak namun tokoh utama selalu menyempatkan dirinya untuk selalu menulis dan mengirimkan ke penerbit yang ingin menerbitkan tulisannya.

Novel karya Leila S. Chudori sangat menginspirasi sang pembaca untuk selalu menumbuhkan atau membangun jiwa literasi yang baik untuk menambah wawasan yang luas tentang dunia. Novel Laut Bercerita mengajarkan pelajaran penting untuk pembaca yakni  sebuah usaha-usaha yang berbuah keberhasilan manis di masa mendatang karena buah dari literasi dalam keseharian. Peran tokoh utama yang digambarkan Leila S. Chudori sangat menginspirasi bagi semua kalangan mulai dari anak-anak, remaja maupun orang dewasa. Tokoh utama sangat mencintai buku dan selalu memilki jiwa literasi tinggi hasil bimbingan sang Bapak sejak dini. Hasil dari usaha-usaha kecil yang dilakukan tokoh utama sampai dewasa membuahkan hasil yang sangat bagus dan nyata.

Oleh : Etik Dwi Septianingsi
Editor : Gie
*Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang