Kepedulian Tokoh Ibu Terhadap Fenomena Lingkungan Sosial
Cari Berita

Advertisement

Kepedulian Tokoh Ibu Terhadap Fenomena Lingkungan Sosial

Ginanjar Gie
Selasa, 11 Desember 2018

Foto : Penulis
“Hidup ini sederhana. Hidup ini penuh warna. Hidup ini problem. Tentu saja! Namun di tangan kitalah keputusan untuk menyikapinya.”
Sebuah perjalanan seorang ibu menyusuri kehidupan nyata guna melihat fenomena yang terjadi di lingkungan sosial masyarakat. Masalah yang biasa terjadi di masyarakat memang berbeda-beda kejadian yang dialami dan cara penanganannya. Hanya ada beberapa orang yang bertindak peduli terhadap permasalahan yang terjadi di lingkungan sosial. Akan tetapi, hal ini berbeda dengan seorang ibu yang merupakan tokoh utama dalam novel yang berjudul Anak-Anak Tukang karya Baby Ahnan. Novel tersebut menjelaskan bahwa seorang tokoh ibu mempunyai jiwa peduli terhadap permasalahan yang kerap terjadi di lingkungan sosial.

Kepedulian seorang ibu ini tidak hanya terhadap lingkungan sosial saja, melainkan  juga peduli terhadap anak-anaknya yaitu Anggit dan Nala.
Kesungguhan hati nurani seorang ibu untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi anak yang berwawasan luas terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat. Cara yang digunakan oleh seorang ibu ini adalah dengan cara memperlihatkan kepada anak-anak terkait fenomena sosial yang sering terjadi di lingkungan masyarakat. Kedua anak tersebut selalu menuruti yang dinasihati oleh ibunya. Hal ini terlihat dari perilaku mereka dalam menerima wejangan yang dituturkan ibu agar selalu menjadi anak yang baik dan penurut.

Lebih jelasnya tokoh ibu mempunyai misi besar untuk meluruskan cara berpikir yang berkaitan dengan kejadian di lingkungan sosial masyarakat. Tokoh ibu bisa mengambil sebuah sikap untuk tetap menjadi sang motivator terhadap anak dan masyarakat di lingkungan sekitarnya. Sikap peduli yang dilakukan tokoh ibu yaitu dengan cara mengajak dan menolong serta memberi motivasi terhadap masyarakat disekitarnya yang memang dirasa membutuhkan bantuan.

Pengamatan terhadap lingkungan sosial berawal dari sebuah perjalanan seorang ibu dari Ubud Bali hingga pijakan terakhir yaitu pulau Flores. Cara seorang ibu dalam menikmati masa tuanya dengan berkeinginan melakukan perjalanan sekaligus mengamati kejadian-kejadian tentang fenomena di daerah timur Indonesia. Sedikit membuat hati dan pikiran tercengang, karena tokoh ibu ini tergolong usia tua. Akan tetapi keinginannya untuk jalan-jalan, kuliner, sekaligus mengamati kejadian lingkungan sosial dilalui sendiri. Pilihan mengendarai sepeda motor yang dimiliki adalah cara yang digunakan untuk melalui kegiatan-kegiatan tersebut.

Sikap peduli seorang ibu terbilang cukup membantu masyarakat sekitar yang membutuhkan bantuannya. Perjalanan panjang hingga memasuki Sumbawa adalah sebuah perjalanan yang luar biasa menurutnya untuk dilalui. Bermula dari penelusuran Pantai Utara Lombok yang begitu mempesona serta santapan makanan khas ayam taliwang. Keheranan tokoh ibu terhadap lingkungan sosial yang mempesona juga terus membuatnya semakin ingin menapaki setapak demi setapak melihat keindahan alam timur Indonesia.

Fenomena yang terjadi di Sumbawa yaitu masakan nasi campur Sumbawa yang menurutnya nikmat sekali. Sampai-sampai seorang ibu ini memiliki keinginan suatu saat bisa mengajak anak-anaknya makan nasi campur Sumbawa.
Tokoh ibu ini tidak memandang siapa yang ingin dibantunya, baik dari kalangan anak-anak sampai orang yang sudah tua pun dibantu olehnya. Kesukarelaannya mampu menarik perhatian masyarakat untuk segan menerima bantuan. Seperti dalam hal mengajak bersamaan naik sepeda motor, terlihat di tepi jalan ada salah seorang pejalan kaki berjalan sendirian menuju pasar di daerah Flores. Seseorang yang diajaknya pun seperti tidak takut dengan ajakkannya. Apakah warga sekitar tidak takut bahwasannya ibu yang membantunya akan berniat buruk. Pemikiran tersebut tidak terbesit sedikitpun dari benak mereka. Akan tetapi benar adanya bahwa seorang ibu ini jelas datang dengan niat baik untuk membantu sesama.

Fenomena terkait pekerjaan yang terjadi di masyarakat Flores tergolong minim sekali, orang berjualan nasi saja belum ditemukan kecuali nasi padang yang dijual dimana-dimana. Tujuan seorang ibu ini tidak lain ingin mencicipi nasi khas Flores. Warga sekitar Flores menyatakan bahwa belum ada warga yang menjual nasi, semua warga berkata “tidak menjual nasi”. Tokoh ibu heran mengapa ini terjadi di Flores. Padahal sangat disayangkan jika di Flores belum ada makanan nasi karena Flores termasuk pulau yang kerap kali dikunjungi oleh wisatawan karena keindahan alamnya.

Hal ini membuat seorang ibu berpikir (Anak-Anak Tukang, 2017: 186) “aneh para pembisnis tidak melihat peluang besar pasar di bumi Flores. Begitu banyak tempat yang indah. Seharusnya, ada penginapan-penginapan yang lebih layak di sepanjang jalan. Tidak usah besar, kecilpun tidak apa-apa, asal bersih dan menyenangkan untuk ditiduri. Apalagi tanah mereka mampu menghadirkan bunga warna-warni. Lalu seharusnya ada kafe-kafe tempat berhenti untuk minum kopi, dan tentu saja nasi Flores! Harus ada penjualnya, sebelum tenggelam ditelan zaman atau direbut pasarnya oleh bisnis bakso dan nasi padang.” ternyata tidak adanya penjual nasi dikarenakan makanan pokok Flores yaitu jagung bose yang memiliki arti jagung yang dilunakkan.

Fenomena yang cukup mengherankan juga terjadi di masyarakat Flores yaitu dalam hal pendidikan. Masyarakat Flores kelihatannya menganggap sekolah merupakan kebutuhan sangat penting untuk melanjutkan tingkatan pendidikan. Walaupun kebanyakan gelar lulusan SMA. Pendidikan di Flores kurang dihargai, karena dalam pengamatan yang dilakukan seorang ibu melihat lulusan SMA  hanya menjadi pekerja bangun tembok tanpa diberi upah.

Hal ini tidak sesuai dengan pendidikan yang telah ditempuh, seharusnya lulusan SMA paling tidak mendapat pekerjaan yang layak dan mendapat upah sesuai porsi kerjanya. Mendapat pekerjaan rela tidak diberi upah merupakan hal yang kurang menghargai seseorang untuk melakukan pekerjaannya. Seorang ibu berpikiran bahwa (Anak-Anak Tukang, 2017: 205-206) “Mungkin dia harus hijrah ke Labuan Bajo. Cari kerja disana yang dibayar. Mungkin bisa bantu bersih-bersih di sebuah penginapan. Kalau tidak, mungkin harus ada yang membantunya untuk berwirausaha. Karena lulusan SMA, seharga apa pun ijazah mereka, tidak pernah diajari bagaimana mendapat uang, bahwa bekerja bukanlah selalu berpengertian bekerja pada orang. Pada perusahaan yang hanya mengikuti aturan dan sistem mereka.” usaha yang ingin dilakukan tokoh ibu adalah membuat lulusan SMA lebih dihargai dan kerja layak serta diberi upah sesuai dengan tingkat pendidikan yang telah ditempuh. Memanfaatkan kemampuan untuk mendapatkan hasil upah  dengan cara memperdalam kemampuan serta menggali minat dan hobi mereka. Siapa yang akan memulainya?

Perjalanan yang membutuhkan waktu panjang, tenaga, dan tempat untuk bermalam dalam sebuah perjalanan, alangkah baiknya tidak dilalui sendiri. Apalagi hakikat seorang perempuan harus mempunyai pendamping atau wali untuk menjaganya. Paling tidak mempunyai satu orang untuk menemani perjalanannya. Untung saja keamanan seorang ibu ini terjaga dengan baik. Entah itu dari faktor apa. Mungkin juga karena sudah mempunyai jiwa-jiwa nekat niat untuk menjajaki sebuah pulau di daerah Timur Indonesia. Sehingga Allah SWT memberikan kelancaran untuk menjajaki niat baiknya untuk peduli terhadap fenomena lingkungan sosial yang dilihatnya. Sebagaimana jika kita berlaku baik terhadap sesama, maka pelaku pembalasan kebaikan pula yang akan kembali pada diri kita. Cepat atau lambat, kebaikan pasti akan terbalaskan.

Penulis : Khoirun Nisak
*Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Misbah