Aktualisasi Nilai Karakter Di Era Modern
Cari Berita

Advertisement

Aktualisasi Nilai Karakter Di Era Modern

Ginanjar Gie
Sabtu, 08 Desember 2018

Foto : penulis
Tak pernah kulihat apapun sebening air. Seakan menari melambai-lambai hingga jatuh mengalir. Mengalir dari hulu hingga hilir. Apakah ‘alam berkembang jadi guru’ bisa menjadikan amanat bagi kehidupan generasi mereka? Mungkinkah maaf dan lupa menjadi penawar bagi segenap luka.

Kutipan diatas merupakan kutipan dari Novel Anak Rantau karya Ahmad Fuadi yang menjelaskan tentang sebuah perjuangan hidup, petualangan, persahabatan dan kekeluargaan. Novel Anak Rantau karya Ahmad Fuadi ini menceritakan tentang perjuangan hidup anak rantau yang ditinggalkan oleh ayahnya sendiri di kampung kelahiran ayahnya, tepatnya di Tanjung Durian, Minangkabau. Tentunya sangat berat untuk menjadi pemuda rantau yang tangguh, yang semula hidup di kota Jakarta dengan berpola hidup sangat modern daripada harus bertahan hidup tinggal  di desa Tanjung Durian yang jauh dari kata modern. Serta harus beradaptasi dengan budaya Minang.

Di era modern saat ini, nilai-nilai pendidikan karakter pada generasi muda sekarang sangatlah punah dan banyak membawa dampak perubahan, baik perubahan yang berdampak positif maupun perubahan yang berdampak negatif bagi kehidupan sehari-hari. Contohnya saja bagi kalangan muda saat ini, kebanyakan generasi muda cenderung tidak dapat menyaring terhadap kebudayaan yang masuk pada dirinya dikarenakan adanya arus globalisasi yang kian deras dan kadang menjadi tak terkendali yang sangat pesat masuk ke dalam kehidupan kita. Banyak sekali generasi muda yang mudah terpengaruh negatif dalam perkembangan globalisasi tersebut.
Disamping itu, semakin menurunnya minat masyarakat untuk mempelajari  nilai-nilai moral pendidikan karakter, dan masyarakat lebih memilih gaya hidup yang kebarat-baratan, pola hidup yang konsumtif, sikap individual, terjadinya perubahan gaya hidup modern yang tidak karuan. Sehingga, kita perlu membangkitkan semangat patriotisme, semangat belajar hidup modern yang baik, semangat menerapkan moral-moral pendidikan karakter sebagai contoh untuk orang lain dan memilah perubahan-perubahan zaman yang baik maupun buruk untuk menjadi generasi yang berkualitas.

Salah satu media yang dapat digunakan untuk mempelajari, mencontoh dan menerapkan nilai-nilai pendidikan karakter di era modern ini adalah novel. Melalui novel, akan mengangkat berbagai bentuk kondisi dan realita kehidupan, baik yang terjadi pada diri seorang maupun pada masyarakat. Di dalam novel juga bisa mengungkapkan nilai-nilai pendidikan karakter melalui setiap tokoh yang ditampilkan. Pendidikan karakter sendiri merupakan pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang dengan melalui pendidikan budi pekerti, yang hasilnya dapat terlihat langsung dari tindakan nyata seseorang.

Adapun novel yang mengungkapkan tentang nilai-nilai pendidikan karakter dengan budaya baru yang harus dipatuhi dan dijalankan adalah Novel Anak Rantau karya Ahmad Fuadi. Ahmad Fuadi merupakan seorang penulis dan wartawan terkenal alumnus Pondok Modern Gontor. Melalui pengalamanya itu, ia lalu menulis kisahnya ke dalam sebuah novel. Di dalam kisahnya ia bercerita tentang berpetualang menjadi anak rantau, membentuk karakter yang semula hidup di kota menjadi hidup di desa terpencil yang jauh dari kata modern.

Hal yang menarik dari novel ini adalah bagaimana hidup di pedesaan membentuk karakter seorang anak kota yang tidak mempunyai moral baik menjadi karakter yang berbudi. Adanya adat dan budaya yang tidak pernah bertentangan dengan ajaran agama, dalam hal ini adalah islam. Di dalam novel ini juga bercerita tentang terkikisnya nilai karakter oleh masa tertentu. Generasi berikutnya sedikit banyak mulai acuh tak acuh terhadap kelangsungan dari adat dan budaya daerah tersebut.
Pendidikan karakter yang paling menonjol di dalam novel Anak Rantau karya Ahmad Fuadi terdapat pada kutipan “Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah, syarak mengata, adat memakai. Maknanya adat Minangkabau itu merujuk pada agama dan agama merujuk pada Al-quran” (AR, 2017:163). Pada kutipan tersebut, penulis mengungkapkan salah satu pendidikan karakter yang berlandaskan nilai religius. Contohnya pada kalangan remaja saat ini, pendidikan karakter bernilai religius dapat terlihat pada keberagaman agama yang dipercaya dan bagaimana caranya remaja tersebut menyikapi perbedaan-perbedaan berdasarkan kepercayaan tanpa diskriminasi.

Kemudian nilai-nilai pendidikan karakter juga dapat dilihat dalam kutipan “Saya membuka kesempatan kepada anak-anak Bapak dan Ibu usia SMP dan SMA yang mau merasakan pendidikan cara surau. Silahkan mereka dititipkan ke saya, akan saya tambah pendidikan agama, pendidikan karakter dan juga silat. Agar agama kita terus bersinar di hati anak-anak kita” (AR, 2017:130). Kutipan tersebut, menjelaskan tentang adanya nilai pendidikan karakter peduli sosial. Sikap dan tindakan yang mencerminkan peduli sosial perlu dikembangkan agar anak tidak memiliki sifat negatif, seperti acuh tak acuh, individualisme, dan masa bodoh terhadap masalah sosial.

Novel yang berjudul Anak Rantau karya Ahmad Fuadi ini, selain bertema tentang nilai pendidikan karakter juga bertema budaya Minang yang dijadikan sebagai acuan untuk membentuk karakter yang lebih baik. Kemudian, dengan adanya budaya Minang ini, anak-anak yang semula tidak mempunyai karakter yang baik akan menjadi karakter yang berbudi pekerti. Oleh karena itu, budaya Minang sangat dijaga keaslian budayanya yang sudah ada tanpa mencampuri dengan budaya baru serta tanpa mengurangi segala bentuk budaya itu sendiri.

Untuk itu, setiap individu (remaja) harus pandai memilah-milah budaya asing yang masuk dan membawa pengaruh buruk bagi kehidupan. Sehingga, budaya asing yang masuk tidak begitu saja dapat kita terima, namun perlu kita saring dahulu dan pilih yang sesuai dengan budaya asli bangsa indonesia. Dalam hal ini, novel Anak Rantau layak dijadikan sebagai wahana belajar atau pembelajaran, karena memiliki nilai-nilai karakter yang mendidik yang dapat meningkatkan kesadaran setiap individu untuk selalu memperkuat nilai karakter yang sudah ada tanpa harus terpengaruh dengan perkembangan budaya asing. Di dalam novel ini, dapat kita peroleh nasehat dari tokoh utama bahwa kita boleh ditinggalkan tapi jangan mau merasa ditinggalkan. Kita boleh dibuang tapi jangan merasa di buang.

Oleh: Indah Dwi Pratiwi
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhamadiyah Malang.