Tradisi Copas Melumpuhkan Minat Baca
Cari Berita

Advertisement

Tradisi Copas Melumpuhkan Minat Baca

Selasa, 06 November 2018

Foto: Penulis
Pada bulan Maret 2016, berdasarkan data UNESCO, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara terkait minat membaca. Minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001% yang artinya, dari 1000 masyarakat Indonesia, hanya 1 orang yang memiliki minat baca yang tinggi. Hal ini pastinya sangat memprihatinkan bagi kita semua.

Membaca adalah suatu aktivitas yang dapat memperluas dan memperbanyak wawasan tentang ilmu pengetahuan (membaca sebagai jendela dunia) yang artinya, membaca selalu berbanding lurus dengan peningkatan wawasan pengetahuan, kecerdasan, dan kreativitas. Namun hal tersebut tidak membuat masyarakat Indonesia terpacu dan tidak membuat masyarakat Indonesia sadar akan pentingnya membaca.

Kebiasaan membaca dapat berpengaruh pada peradaban suatu bangsa, karena seperti yang kita ketahui bahwa membaca adalah jembatan ilmu, apabila masyarakat yang ada dalam suatu bangsa itu sering membaca, maka otomatis masyarakat itu akan memiliki kecerdasan dan pengetahuan yang luas. Dari sinilah membaca itu dikatakan dapat mempengaruhi peradaban suatu bangsa, karena peradaban suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuan yang dimiliki oleh individu-individu yang ada dalam suatu bangsa tersebut.

Efektivitas membaca 8 jam sehari sebagai standardisasi nasional justru dipergunakan untuk membaca “Status media sosial” dan tidak dipergunakan untuk membaca buku sebagaimana mestinya. Masyarakat Indonesia lebih gemar membaca status-status galau di media sosial dibanding membaca buku sejarah, sains, astronomi dan lain sebagainya.

Kebiasaan masyarakat Indonesia yang paling parah dan merupakan faktor paling mendasar dari rendahnya minat baca adalah kebiasaan meng-copas (coppy-paste). Kemudahan mendapatkan layanan karya ilmiah secara daring yang seharusnya dimanfaatkan guna menambah wawasan dan pengetahuan sudah semestinya tidak disalin-tempel (coppy-paste). Banyak yang beranggapan kalau dengan meng-copas, maka akan mempermudah pekerjaan mereka. Namun faktanya, kebiasaan itu akan membuat mereka malas berpikir dan mencari tahu sesuatu hal.

Kesadaran untuk tidak melakukan salin-tempel (cop py-paste) dan mengalihkan kebiasaan membaca status media sosial pada hal-hal yang lebih produktif adalah cara terbaik menumbuhkan minat baca. Membaca tidak hanya dijadikan sebagai hobi-hobi belaka, tetapi kita harus menjadikan itu sebagai suatu kewajiban, dan jadikan aktivitas membaca itu sebagai rutinitas kita sehari-hari.

Nama : Nurislami Rusyda (Mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UMM).