Preman Disewa dan Masuk Kampus untuk Menghancurkan Massa Aksi
Cari Berita

Advertisement

Preman Disewa dan Masuk Kampus untuk Menghancurkan Massa Aksi

Ginanjar Gie
Jumat, 16 November 2018

Mahasiswa STIE Bima saat di keroyok
Indikatorbima.com - Telat membayar uang kuliah, mahasiswa STIE terancam tidak bisa mengikuti ujian. Hal demikian memicu pihak BEM untuk melakukan aksi. BEM mengapresiasi adanya laporan dari mahasiswa, bahwa meski sudah membayar setengah, tetap tidak bisa mengikuti ujian.

Aksi BEM dimulai pukul 08:30 WITA, Kamis (15/11/18). Aksi berlangsung ricuh, karena dicegal oleh preman yang sengaja disewa langsung oleh Rektor untuk menjaga jalannya aksi.

"Aksi kami dicegal oleh para preman yang kira-kira berjumlah 20 orang, yang memang sengaja disewa oleh Rektor STIE. Anehnya, kenapa tidak meminta bantuan pihak berwajib saja? Kenapa mesti preman yang disuruh menghadapi aksi kami?" ujar Pion selaku Koorlap kepada Indikator Bima, Jumat (16/11/18).

Mahasiswa ada yang mengalami patah tangan, pelipisnya berdarah akibat dihantam besi. Mahasiswa sampai ada yang harus lari ke rumah warga karena dikejar-kejar preman yang membawa golok, besi, dan kayu.
mahasiswa korban penganiayaa yang tangannya patah

Rektor mempermasalahkan tidak adanya surat aksi. Padahal seminggu sebelum aksi tersebut berlangsung, pihak BEM sudah menyurati kampus untuk mengindahkan aksi. Bahkan sudah diadakan audiensi juga, namun Rektor memang tidak menghadirinya, hanya diwakilkan oleh Wakil Ketua I dan Ketua Prodi.

"Seminggu yang lalu, kami sudah audiensi dengan pihak kampus. Tapi Rektor sendri tidak hadir dan yang mewakilinya adalah Wakil Ketua I dan Ketua Prodi. Kami juga memberikan dua opsi, yaitu: pertama, kami menginginkan audiensi kembali tapi harus diundang oleh kampus. Kedua, kami akan melakukan aksi jika tidak diindahkan. Kami akhirnya memilih opsi kedua, karena tidak ada undangan dari kampus untuk audiensi, itu pun kami harus menunggu seminggu," tutupnya.

Reporter : M. Amin