Pergi
Cari Berita

Advertisement

Pergi

Minggu, 25 November 2018

Ilustrasi (foto: istimewa) 
Pandanganku melayang ke mega senja yang selalu memikatku. Selalu membiusku barang sedetik ke dalam sebuah kilasan imajinasi tentang padang ilalang yang tertimpa cahaya
keemasan mentari senja.

Langit merona dengan siluet jingga yang indah. Tak lekas kuberanjak sampai gelap menutupi warnanya.

“Percaya padaku Ell, Tahir tidak bermaksud marah padamu. itu hanya karena dia gak
tahu cara jelasin semuanya ke kamu.” Pikiranku berhamburan setelah mematung hampir seperempat jam mendengar suara Mirel yang melangkah mendekatiku.

“Aku tahu Rel“ Sahutku. Kualihkan lagi tatapanku pada senja.

“Tapi saat ini bukan itu masalahnya.”

Aku melihat mata bening Mirel meredup putus asa.

“Lantas apa masalahnya?”
Aku tak menjawab.

Mataku tertuju pada segumpal awan yang bergerak menutupi senja namun pecah sebelum menggapai mata senja. Aku menangis, awan itu ibarat hidupku. Sudah bukan rahasia lagi kalau aku sangat menyukai langit kala senja. Terutama di bukit Koa ini yang tak jauh dari rumahku. Di sinilah dulu aku bertemu dan kenal Tahir untuk pertama kalinya.

“Jadi kamu meragukan Tahir? Kamu marah ma dia karena kehadiran gadis itu?”
Kupejamkan mataku. Kata-kata Mirel membuat perasaanku kian pedih.

“Aku percaya, aku sedikitpun tidak meragukan cintanya. Aku tahu Tahir tidak akan pernah berubah, tapi…”

“Tapi apa?”

“Aku harus pergi…”

“Pergi?” Kudengar desahan nafas Mirel melegking, ia menatapku tajam penuh tanya.

“Kemana?”

“Aku takut jika aku terus di sini dan terus mencintainya, aku takut tidak bisa melepasnya. Aku tak pantas untuknya. Kehadiran gadis itu membuatkku yakin dengan keputusanku, dia pantas mendapatkan yang sempurna”

“Tapi kamu tidak tahu keinginannya. Kamu gak bisa membuat keputusan di pihak dia.”

“Aku tidak seperti dulu lagi Mirel, keadaanku tak lagi sama!”

Aku memberikan selembar kertas pada Mirel. Ia meraihnya. Kulihat mata tak percayanya berkedip berkali-kali berharap apa yang dilihatnya hanyalah sebuah kertas kosong yang tak bertinta, tapi kenyataannya…

“Ell..” sebutnya parau. Tangannya memelukku erat.

Kulepaskan pelukan Mirel, kuseka airmatanya.

“Apa kamu pernah mencitai seseorang?”

Telaga bening itu mengerjap lalu menatap mataku lama. Mungkin ia bingung dengan pertanyaanku.

“Ia dulu sekali, sekarang tidak lagi”

“Bagaimana dulu kamu membuktikan bahwa kamu benar-benar mencintanya?”

“Tentu saja aku akan selalu membuatnya bahagia.”

Aku menarik napas, membiarkan mataku terpejam sambil merasakan lagi kepedihan itu
menjalar ke seluruh pori-poriku. “Itulah sekarang yang sedang aku lakukan untuk Tahir.” Mirel terdiam.

“Mengapa pergi tanpa menungguku?” Mulutku menganga dibalik selang oksigen bening yang membantu pernapasanku yang seketika itu kuminta perawat untuk membukanya. Siapa yang menduga Tahir bisa ke sini.

Melawan jarak ratusan kilometer jauhnya dari Wera hanya untuk bertemu dengan seorang pasien yang berbaring tak berdaya dengan sepasang selang pengalir cairan di atas punggung tangan kirinya dan dilengkapi dengan alat pendeteksi jantung di ruangannya. Aku sudah berpesan kepada semua orang untuk tidak memberi tahunya. Tapi,

“Aku yang memintanya.” Sahut Mirel. Ia bangkit dari duduknya dan memdekatkan mulutnya ke telingaku,

“berhenti egois aku tahu kamu merindukannya,” lalu melangkah keluar.

Tahir menatapku sendu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ia menarik selimut hingga menutupi dadaku, menatap mataku sejenak lalu beralih memandangi pintu masuk yang hening.

“Mengapa tak memberitahuku?” Tanyanya.

“Yah..”

“Tak ingin aku khawatir?” Ia menahan emosinya.

“Ya udah istrahatlah. Aku bacain buku buat kamu.”

Ia serius menatap buku dalam genggamannya dan membuka dengan antusias pada halaman yang berjudul ‘Sejatinya Setiap Senja Memiliki Cerita yang Berbeda’ lalu ia bacakan dengan nada yang begitu mellow.

Aku mendengarkan ceritanya dengan seksama tapi lebih seksama memandangi wajahnya. Pria disampingku ini adalah sebuah mahakarya Tuhan yang sempurna. Ia hadir dalam kehidupanku bak malaikat dengan sifat yang tanpa cacat.

Aku senang melihat dia di saat seperti ini, saat dia harus menahan marahnya dengan bermacam pertanyaan di kepalanya. Karena dalam diamnya aku tahu ia mencerna dan memahami sendiri jawaban atas setiap pertanyaannya.

“Do” sebutku. Namun ia tetap fokus pada bacaannya.

“Do lihat aku”

“Istrahatlah,” pintanya.

Matanya masih pada buku bersampul merah dengan gambar kupu-kupu dan bangku kosong menghadap pantai kala senja. Buku itu berhasil menarik semua perhatiannya.

“Aku mimpiin ayah kamu”

“Ell.” Ia menggeleng penuh mohon. Jangan bicara tentang ayah.

“Do?” Tahir mendengus.

“Kamu tahu kenapa aku membencinya?”

“Aku tahu. Dia lari meninggalkan kamu dan Ibumu.” Tahir mengalihkan wajahnya.

“Aku tahu kamu marah, tapi kamu harus berhenti!” Kuusap punggung tangannya.

“Tidak semua kesalahan harus kamu benci, kamu hanya perlu memaafkan”

“Aku takkan pernah bisa memaafkannya”

“Kamu bisa. Janji?”

Ia mengalah. Raut muka yang penuh kebencian saat mendengar kata ayah diucapkan kini
menjelma menjadi telaga bening yang memantulkan kebahagiaan. Kini ia akan selalu tenang mendengarkan kata ayah diucapkan bahkan beratus ribu kali. Berharap dapat melipat jarak saat ini juga untuk bertemu dan memeluk ayahnya.

“Mendekatlah,” pintaku. Tahir menggeser kursinya lalu membaringkan kepalanya di bantal sampingku.

“Kamu lelaki hebat. Aku mencintai setiap hal yang ada dalam dirimu termasuk panggilan Do yang entah dari mana ide itu aku dapatkan.”
“hum..” Ia tertawa kecil.

“Kamu tahu siapa itu sebenarnya Do?” Tanyanya.

Aku menggeleng.
“Do itu nama orang gila di kampungku.”

“But, I don’t care..” Aku tertawa kecil dan dia berhasil menarik ujung hidungku dengan gemas. Dan seketika itu kepalaku mendadak sakit.

“Ell..!!”

“Sttss… jangan Panik!”
“………”

“Aku mau istrahat. Mau bacain aku ayat kesukaanmu?”

Tahir mengangguk ragu sambil memperbaiki selimutku. Lalu ia membacakan ayat kursi dengan pelan dan lembut. Sebelum kututup mataku kulihat ada kristal bening menggantung di kedua ujung matanya. Masih kudengar bacaanya kini dengan suara yang parau. Ingin kubuka mataku dan mengatakan padanya bahwa aku baik-baik saja, tapi sakit di kepalaku memaksaku untuk diam, seperti ada seribu jarum yang tak henti menusuknya. Kepalaku sepertinya mau pecah, tak terkendali.

Sayup-sayup kudengar Tahir mengakhiri ayat kursinya. “Jangan pergi sekarang Ell, beri aku sehari lagi... !!”

Hening.

Yeah I wish that I could do it again, turning back the time when you were mine…

Penulis: Ell Al Khaytam