Pengaruh Politik di Tubuh HMI
Cari Berita

Advertisement

Pengaruh Politik di Tubuh HMI

Senin, 05 November 2018

Tokoh-tokoh HMI (foto: Oknews)
Seiring berkembanganya politik di Negara Indonesia tidak terlepas dari peran orang-orang yang pernah menjadi kader di Himpunan mahasiswa Islam, atau di Singkat HMI.

Bicara HMI sendiri sudah berdiri sejak 2 tahun setelah kemerdekaan Negara Indonesia, dengan itu HMI dikatakan sebagai oraganisasi mahasiswa Islam tertua di Negera ini, dibandingkan dengan PMII, IMM dan KAMMI.

Dewasa ini seiring berkembangnya politik praktis yang masuk dan mempengaruhi mahasiswa dan tidak terlepas juga kader HMI menjadi korbanya dari politik praktis tersebut.

Soerang kader HMI ketika ada kepentingan yang sifatnya praktis diinternal HMI. Mencalonkan diri jadi Ketum Komisariat, Ketum Korkom, Ketum Cabang Cabang, Ketum Badko bahkan ketum PB HMI, Lembaga dan atau Badan di HMI, Misalanya.

Mereka sama sekali tidak membawa visi missi yang jelas, apa lagi gagasan yang menjadi pondasi utama bagi seorang nomor satu dalam wilayah itu ketika terpilih nantinya.

Ketika dia menemui senior misalanya, dia sama sekali tidak membawa gagasan yang ia bicarakan atau dibahas nantinya, dia hanya bermodalkan nafsu kekuasaan. Dan lebih parahnya lagi ketika senior ini bicara, dia hanya modal *Ha ha he he* hanya itu tidak lebih.

Pergeseran nilai politik di HMI ini lah yang mempengaruhi kader yang baru masuk di Himpunan, dan mereka merasa tidak puas dengan HMI dan akhirnya mereka cabut dari organisasi ini.

Belum lagi permasalahan intelektual yang tidak dimiliki oleh kader HMI saat ini, semuanya ingin belajar berpolitik. Berpolitik tanpa modal (ilmu) adalah nihil.

Minat kader untuk bicara intelektual sudah sangat sedikit, forum-forum kajian ilmiah sudah tidak ada lagi. Yang hidup adalah angkringan, warkop dan Caffe. Ini adalah kemunduran yang sangat nyata. Ditambah lagi senior-senior HMI yang sifatnya seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani bertebaran dimana-mana.

Sederhana, tunggu saja kehancuran jika ini tidak di rubah.

Penulis: Syahrul Ramadhan Al Faruq