Pendidikan Sekuler Pangkal Rusaknya Generasi Muda
Cari Berita

Advertisement

Pendidikan Sekuler Pangkal Rusaknya Generasi Muda

Selasa, 06 November 2018

Ilustrasi (foto: Kompasiana)
Remaja adalah salah satu harapan penerus suatu bangsa terlihat tidak lagi menjadi sebuah kalimat yang optimis untuk diwujudkan. Bagaimana tidak, jika dibandingkan dengan secuil generasi sekarang ini kerusakan yang dihasilkan oleh para remaja juga tidak sedikit melainkan makin banyak. Hampir semua berita yang kita dapatkan, baik melalui media televise, sosial media, maupun media cetak tidak pernah luput dari masalah kenakalan remaja masa kini. Tahun-tahun sebelumnya kita di hebohkan dengan temuan 7 orang siswa sd yang terinveksi hiv/aids di situbondo, menyusul kemudian siswa sma yang melakukan arisan agar mereka bisa menggunakan jasa prostitusi.

Pesta seks setelah kelulusan ujian nasional seakan sudah menjadi trend dikalangan pelajar, baik secara tertutup atau terang-terangan. Sungguh hal ini merupakan gejala-gejala bahwa generasi muda sudah diambang kehancuran. Para pemikir negeri ini khususnya dibidang pendidikan berupaya untuk “menangkal” berbagai penyakit yang menyangkut di atas. Seminar-seminar, workshop dan berbagai solusi lainnya sudah dilakukan, tetapi masalah remaja tak kunjung selesai.
Kemudian yang menjadi pertanyaannya terkait dengan permasalahan tersebut, lantas apa sebenarnya pangkal dari kerusakan tersebut?

Sudah sepantasnya generasi cerdas negeri ini mulai meninggalkan cara berfikir yang dangkal dan cenderung mensimplifikasi semua permasalahan yang ada seolah begitu mudah, dan segera memulai berfikir secara komprehensif dengan solusi yang ideologis. Pasalnya taraf berfikir yang dangkal nantinya bukan malah akan menyelesaikan masalah, tapi malah akan memperparah keadaan yang sudah ada. Untuk itu penyelesaian permasalahan ini harus dilakukan dengan pemikiran yang cemerlang yang langsung mengarah kepada akar permasalahannya.

Dalam sebuah sistem, lebih khususnya sistem yang dijalankan di dalam sebuah negara tentu semua hal yang ada di dalam sistem tersebut adalah saling berkaitan. Tidak bisa kita paksakan bahwa kesemua hal yang ada di dalamnya adalah tidak berkaitan. Sebagai contoh sistem ekonomi misalnya, jika ekonomi negara hancur maka keuangan untuk menopang pendidikan juga berkurang. Taraf pendidikan yang rendah akan semakin memperparah ketimpangan sosial dan moral. Pendidikan yang salahpun akan menghasilkan genersai yang salah pula, begitupun seterusnya. Akhirnya bisa kita simpulkan bahwa semua ini berjuang pada masalah sistemik yang solusinya juga harus solusi yang sistemik atau solusi yang fundamental.

Permasalahan utama segala kerusakan yang terjadi di negri ini adalah diterapkannya ideologi kapitalisme sebagai asas untuk menjalankan roda pemerintahan. Kapitalisme yang merupakan pengejawantahan dari sekularisme-liberal yang pada hakikatnya adalah pemisahan agama dari kehidupan, seterusnya akan memisahkan agama dari negara yang juga secara langsung akan memisahkan agama dari pendidikan.

Sekularisme lahir dari hasil kompromi golongan yang fobia berlebihan terhadap agama dengan mereka yang masih mengakui agama, yang mana puncak kelahirannya biasa kita kenal dengan revolusi prancis. Dari sini dapat kita fahami bahwa kelahiran sekularisme adalah hasil kompromi, yang menyandarkan kebenaran pada manfaat semata.

Permasalahannya adalah tidak semua individu menginginkan manfaat yang sama dalam kehidupan mereka. Alhasil kemanfaatanpun berpihak kepada mereka yang memiliki pengaruh yang kuat, dalam hal ini adalah para kapitalis pemilik modal. Maka bisa dipastikan setiap sistem yang berjalan itu sudah menjadi settingan dari para kapitalis ini, sadar atau tidak, suka atau tidak semuanya sudah menjadi roda yang dipaksa berputar, jika berhenti maka akan hancur.

Sistem pemerintahan yang berasaskan kapitalis dengan demokrasi sebagai alatnya, tentu membutuhkan sistem lain untuk menopangnya agar senantiasa berjalan. Oleh karena itu, sistem pendidikan yang menjadi pokok bahasan saat ini, senantiasa dirancang sedemikian rupa agar bisa meregenerasi individu-individu yang siap melanggengkan kehidupan kapitalisme-sekuler ini.

Asas dari sistem pendidikan sekuler ini adalah materialisme, disinilah titik temu antara kapitalisme dan sosialisme, dimana bahasan mereka terbatas pada apa yang bisa diindra oleh manusia, oleh karena itu agama yang tidak bisa mereka “lihat” menjadi perkara yang kolot untuk diperbincangkan, bahkan bisa menghambat perkembangan sains dan teknologi sehingga harus dibuang jauh-jauh dari pendidikan. Inilah sebenarnya konsep ilmiah ala pendidikan sekuler, yang sejatinya hanya menjauhkan manusia dari fitrahnya sebagai mahluk ciptaan sang pencipta. Proses ini bisa kita sebut dengan dehumanisasi, yang memang agar manusia berperilaku tidak seperti manusia.

Dampak dari pendidikan sekuler ini tidak sedikit, apalagi hampir keseluruh individu manusia di Dunia ini sudah terjerat pendidikan sekuler. Semua itu sudah tergambar di awal paragraf tulisan ini. Akhirnya, manusia dididik untuk menjauhi fitrahnya, sebagai hamba Allah, yang dikemudian hari akan menjadi budak peradaban sekuler, ideologi kufur kapitalisme.

Islam sebagai agama yang sempurna tentu punya solusi atas segala permasalahan, khususnya pada masalah pendidikan. Sejak 14 abad silam, Allah telah memastikan islam adalah agama yang sempurna, sehingga segala permasalahan baik di masa lalu, sekarang, maupun yang akan datang pasti ada solusinya di dalam islam.

Berikut beberapa asas dari pendidikan islam:
1) Asas pendidikan formal adalah akidah islam. Seluruh mata pelajaran dan metode pengajaran harus berdasarkan akidah islam
2) Kebijakan pendidikan adalah pembentukan sistem berfikir dan kejiwaan islami pada anak didik
3) Tujuan pendidikan adalah membentuk kepribadian islami serta membekali anak didik dengan sejumlah ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan urusan hidupnya
4) Dalam pendidikan, ilmu eksperimental beserta derivatnya harus dibedakan dengan pengetahuan yang berhubungan dengan tsaqafah. Ilmu-ilmu eksperimental diajarkan tanpa terikat dengan jenjang-jenjang pendidikan dan disajikan sesuai dengan kebutuhan. Adapun pengetahuan yang berhubungan dengan tsaqafah diberikan kepada jenjang pendidikan pertama sebelum jenjang pendidikan tinggi, berdasarkan kebijakan tertentu yang bertentangan dengan pemikiran-pemikiran dan hukum-hukum islam. Pada jenjang pendidikan tinggi, tsaqafah diajarkan dalam bentuk pengetahuan, dengan syarat, tidak keluar dari kebijakan dan tujuan pendidikan islam
5) Pendidikan tsaqafah islam harus disajikan setiap jenjang pendidikan. Adapun cabang-cabang tsaqafah islam beserta ragamnya disajikan pada jenjang pendidikan tinggi. Ilmi-ilmu kedokteran, teknik, dan lain sebagainya juga disajikan pada jenjang pendidikan tinggi
6) Ilmu sains dan teknologi yang terkategori dalam ilmu yang bebas nilai boleh diambil tanpa ada persyaratan apapun. Yang berkaitan dengan tsaqafah atau pandangan hidup tertentu tidak boleh diambil jika bertentangan dengan islam, misalnya at-tashwir (seni melukis, menggambar atau membuat patung mahluk yang bernyawa)
7) Kurikulum pendidikan harus tunggal. Tidak diperkenankan ada kurikulum selain kurikulum negara. Lembaga pendidikan swasta boleh berdiri selama kurikulum pendidikannya terikat dengan kurikulum negara dan berdiri di atas asas kebijakan umum pendidikan negara
8) Negara menjamin penyelenggaraan pendidikan bagi seluruh rakyatnya, tanpa memandang agama, suku, dan ras
9) Negara bertanggung jawab sepenuhnya dalam menyediakan fasilitas pendidikan bagi rakyatnya

Namun, sistem pendidikan islam hanya bisa diterapkan di dalam situasi yang kondusif pula. jika dipaksakan di dalam sistem kufur seperti sekarang ini, maka pendidikan islam tak akan bertahan lama. Sistem pendidikan islam hanya bisa tumbuh subur dan baik di bawah naungan khilafah yang menerapkan islam secara kaffah. Oleh karena itu sudah saatnya kita bersama-sama memperjuangkan islam dengan metode Rasul, untuk menyongsong tegaknya Al-khilafah yang kita rindukan.

Penulis: Heti Kurniawati (Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Mataram)