Penantian yang Tertunda Sang Perindu
Cari Berita

Advertisement

Penantian yang Tertunda Sang Perindu

Minggu, 25 November 2018

Ilustrasi (foto: istimewa) 
Langkah akhir adalah ikhlas. Ketika sebuah ketulusan dipatahkan begitu saja. Dekat namun tak harus terikat. Adakalanya kita mengikhlaskan sesuatu yang belum tentu kita miliki, dan mungkin memang bukan milik kita.

Mengungkap rasa memang cara yang baik untuk saling mengetahui rasa masing-masing. Namun di sisi lain, akan ada kecanggungan dalam diri masing-masing.

Afwan, ketidakjujuran tak akan kulakukan, baik di tempat ramai maupun sunyi. Tentang rasaku padamu biarlah kusematkan dalam do’a dan mungkin akan kukubur dalam perasaanku sedalam rasaku padamu.

Aku duduk merenungkan kembali kenangan-kenangan yang telah lalu. Kenangan bersama seorang kawan yang menjadi pahlawan tiap aku butuh. Seorang kawan yang tak kusangka aku akan menaruh hati padanya.

“Zahra, kenapa melamun nak?” Suara bunda mengagetkanku, “enggak, aku gak melamun kok bun”, aku mencoba menutupi lamunanku.

“Lah, trus kalo ndak melamun kamu mikirin apa hayoo? Ngaku deh sama bunda.”

“Ndak ada bunda,” tambahku menutupi.

Pipiku akan memerah jikalau terus berada di depan bunda.

“Zahra ke kamar dulu ya bunda, ngantuk soalnya,” aku melangkah pergi meninggalkan bunda yang masih dengan raut wajah bingung dengan tingkahku.

Ggggrrrrrrr… Getar hp ku mengagetkanku yang sedari tadi memperhatikan lapisan halaman buku yang tersusun rapi di perpustakaan kampus pagi ini, (ternyata sms dari temanku ukhti Nita),

“Assalamu’alaikum Zah, lagi di mana? Udah denger kabarnya nggak?” Isi pesan itu membuatku bingung,berita apa maksudnya ini? Pikirku.

“Afwan ya ukh, berita apa maksudnya ini? Ana gak tahu ukh?” jawabku polos.

Ukhti Nita menjelaskan dengan panjang lebar padaku, meski aku dengan capeknya membaca sms dari beliau, yang isinya tiada lain dan tiada bukan tentang Rahman. Yah, dia keluar kota hari ini, melanjutkan studinya diluar kota.

Entah dengan alasan apa ia mau melanjutkannya di luar kota, padahal ia sudah meyakinkan diriku bahwa ia akan melanjutkan studinya disini saja denganku. Apa mungkin ia malu denganku karena pernah menyakiti hatiku? Yah, ia pernah mengatakan padaku bahwa ia hanya menyukaiku saja.

Namun di sisi lain ia dengan senang membonceng wanita lain yang sama sekali belum menjadi mahromnya. Dan kudengar ia menembak wanita tersebut. Apakah ia merasa bersalah padaku? Kurasa tidak. Mungkin ia memang berubah pikiran, namun dengan berubahnya pikirannya membuatku sakit. Dia pergi tanpa ada sepatah katapun yang ia ucapkan padaku, bahkan bertemu atau mengirimkan pesan singkatnya yang keluar kota pun tidak, ia pergi tanpa alasan.

“Jika seseorang dalam hidupmu pergi tanpa alasan,maka jangan biarkan ia kembali dengan penjelasan.” Aku tersenyum kecut mengingat kata-kata Ustadzahku dulu.

Rahman keluar kota hari ini. Sedangkan aku? Aku di sini saja memilih melanjutkannya dikota kelahiranku, dan kurasa ini memang sudah takdirku untuk tidak bersamanya lagi. Yah, begitulah pikirku. Memang sudah beberapa bulan ini aku tak berjumpa dengannya lagi, aku disibukkan dengan tugas-tugas kampusku, dia pun begitu.

Berbulan-bulan aku melewati hari tanpa dia, hanya focus pada kuliahku saja, tidak seperti dulu, pulang perginya jelas tiap waktu bersama dia, karena dulu kami satu sekolah. Ahhhh, sudahlah. Hari-hariku kini aku lewati tanpa ada pesan singkat yang menyapaku dipagi hari.

Tak ada pesan singkat yang mengingatkanku untuk makan, dan lain sebagainya.
Sudah 1 tahun lamanya aku menjalani hari hariku tanpanya, bahkan belum ada yang menggatikannya di hatiku meski itu hanya sebatas teman.

Hmmmm, aku tersenyum kecut saat memikirkan hal bodoh itu. Yang terpenting sekarang, aku harus memperbaiki diriku agar kelak mendapatkan yang baik pula. Karena jodoh adalah cerminan diri.

Dalam renungan itu terlintas dalam pikiranku seperti ada yang berbisik dan berkata

“jika ia menyakitimu, bersyukurlah. Karena Allah sedang memberitahu bahwa kau telah menjatuhkan hatimu pada orang yang salah, segera ikhlaskan, karena penggantinya telah Allah siapkan”. Ungakapan itu seakan mencambuk diriku yang tengah terlena dengan masa bodohku dulu.

Aku berkeyakinan, untuk sekedar memisahkan Adam dan Hawa saja Allah bisa. Pun menyatukan keduanya Allah memiliki kehendak. Apalagi kita yang baru jumpa beberapa saat.

Akhir-akhir inipun aku disibukkan dengan tugas kuliahku serta kegiatan kampusku yang lainnya. Hari ini, tepatnya hari jum’at . Aku mengikuti kajian Remaja Muslimah.

“Pacar itu bukan siapa-siapa kita, ia hanya orang lain yang mencoba memasuki hidup kita dan menghancurkannya. Terkhusus perempuan, banyak perempuan yang menjadi sasaran sadisnya pacaran. Betapa banyak yang kehilangan masa depan dan kehormatannya akibat sadisnya pacaran.”

Tak lama setelah pemateri menyelesaikan materinya, terlihatlah seorang Akhwat di sampingku mengangkat tangan untuk bertanya. Kelihatannya ia memang belum mengerti sama sekali dengan apa yang disampaikan oleh Pemateri.

“Kalo gak pacaran, gimana kita saling mengenal?” Tanyanya dengan polos.

“Loh, kan ada ta’aruf tuh. Artinya saling mengenal bukan hanya kelebihannya saja, tapi juga kekurangannya” jawab Akhwat pemateri.

“Tapi aku gak suka, nanti dibilang gak laku” yang lain lagi menimpali.

“Justru mereka yang pacaran yang gak laku, mengapa? Karena mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk mempertahankan hubungan yang tanpa ikatan dan berusaha untuk menjadi laku” spontan aku menjawab.

“Akan ada waktunya kita menggelar sajadah bersama berdoa diatasnya sahut-menyahut “amin” tanpa saling bertanya di dalam ikatan yang diridhoinya” Lanjutku tanpa sadar.

Meski sesudahnya aku menyadari bahwa sebelumnya akupun  pernah mempunyai rasa seperti yang mereka rasakan. 

“Tapi gimana kita dapat jodoh kalo kita gak pacaran?” tanyanya lagi.

Akhwat pemateri pun menjawabnya dengan sopan dan santun, “wa khalaqnaakum azwaja, artinya, dan kami ciptakan kamu dengan berpasang-pasangan (Qs. An-naba ayat 8). Dan apakah ada syarat-syarat dapat jodoh itu harus dengan pacaran? Gak ada dalam Al-Qur’an. Laa taqrabuzzina, jangan deketin zina sis. Dan jodoh itu ada dalam diri kita, karena jodoh adalah cerminan diri. Paham Insya Allah?” 

“Insya Allah paham”, serentak semuanya.

Setelah puas dengan jawaban dari pemateri dan saya, akhwat tersebut menerimanya dengan senyuman dan mengucapkan terima kasih. Setelah kegiatan selesai, kami saling bersalaman dan pulang menuju rumah masing-masing.

Sepanjang perjalanan, aku merenung kembali apa yang tadi disampaikan oleh Akhwat pemateri, bahwa syarat-syarat jodoh harus dengan pacaran itu tak ada dalam Al-Qur’an dan jodoh adalah cerminan diri.

“Wahai zat membolak balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Setelah beberapa tahun saya tidak mendapat kabar dari Rahman, saya berpikir bahwa sudah watkunya saya berhenti memikirkan semua tentang laki-laki. Dan saya sangat bersyukur telah mengikuti banyak kajian yang berkaitan dengan perempuan pada umumnya. Satu hal yang selalu aku ingat dari seorang ustadzah yang pernah aku ikuti kajiannya,

“simpanlah apa yang kau rasa dalam diam, serahasia mungkin. Hingga debarannya hanya engkau dan Tuhanmu yang  dapat mendengar suaranya”.

Dua tahun sudah aku berada di dunia kampus, singkat sekali rasanya. Waktu berjalan begitu cepat bagaikan anak panah yang keluar dari busurnya. Sebentar lagi aku akan melakukan KKP/KKN seperti senior-seniorku. Akan akan sibuk mengurus Skripsi dan lainnya. Tak terasa  aku telah melewati banyak waktu dan kenangan indah di dalam bangku kuliahku, dan ternyata sebentar lagi aku akan menyelesaikan pendidikanku.

Hufffftt… Aku menghela nafas panjang, sebentar lagi aku wisuda. Sementara kegiatan-kegiatan yang membuatku sibuk akhirnya terselesaikan dengan mudah oleh bantuan-Nya. Satu minggu berlalu, aku wisuda dengan IP yang Alhamdulillah, memuaskan, berkat dorongan dari Ayah dan Bunda. Selesai Wisuda aku memutuskan untuk menjadi guru di sebuah Madrasah yang tak jauh dari kampungku sendiri. Jadi, pulang dan perginya gampang. Gak harus merepotkan ayah yang antar.

“Besok ada yang ingin menemuimu nak bersama keluarganya.”

“Siapa bunda?” Aku memotong pembicaraan bunda dengan penasaran

“Sepertinya bunda tak usah memberitahumu lebih dulu.” Aku hanya terdiam tanpa mengomentari perkataan bunda.
Adzan isya pun berkumandang, dengan segera aku mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat isya. Selesai sholat, aku meraih mushaf kecil warna biruku.

Mushaf dari Rahman, aku masih menyimpan sampai sekarang bahkan kemanapun aku membawanya. Huh, baru ingat tu anak. Gimana kabarnya dia? Sudah. Aku tidak memperdulikannya,
Kubuka surah Thaha.

Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Thaha. Maa anzalnaa ‘alaikal qur’aana litasyqa Illaa tadzkiratan liman yakhsya
Thaha. Satu persatu persatu kucoba pahami.
Thaha. Tak memiliki arti dalam terjemahan Al-Qur’an. Itu merupakan rumusan rahasia Allah.

Rumusan yang tersimpan rapi di mega silver (Lauh Mahfudz) hanya Allah yang tahu. Sama seperti kehidupan kita, hanya Allah yang tahu apa makna di balik semua itu. Entah siapa yang akan menemuiku besok. Aku tak bisa berkata apa pun, mataku berkaca, ada kesedihan di mata hatiku. Siapa yang ingin bertemu denganku besok? Aku hanya bisa berdoa semoga Allah mempertemukanku dengan seseorang yang saat memandangnya saja, jiwa ini merasa tenang karena Allah sepenuhnya berada dalam hatinya.

Pagi hari jum’at tepatnya Jam 9 pagi, aku sudah bersiap-siap untuk menyambut tamuku pagi ini.

Tok tok. Suara  ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Apa mungkin itu adalah tamu yang dibilang Bunda? Aku segera melangkah membukakan pintu.

“Assalamu’alaikum.” Aku mengangkat kepalaku yang sedari tadi tertunduk, dan betapa terkejutnya aku melihat seseorang yang kini berdiri di depanku ternyata Rahman. Speechless.

Entah aku harus merasa bahagia atau bingung pada apa yang menjadi tujuannya ke sini.
Aku mempersilahkan dia masuk. Bunda langsung saja keluar dengan teh hangat. Rupanya Bunda memang sengaja mempersiapkan semuanya.

Aku, masih dengan diamku, memutar pertanyaan di kepala perihal nyata dan mimpi. Aku takut terlalu cepat mengsyukuri nyatanya bila nanti rupanya mimpi. Bukannya aku akan kecewa? Tapi pada detik ini aku tidak bisa memproses otakku dengan jelas. Detak jantungku tak normal.

“Kamu bagaimana kabarnya?”  Rahman memulai percakapan. Aku hanya diam dan tertunduk malu. Orang yang sudah lama aku kubur kenangannya kembali hadir dan sekarang sedang berada di depanku bahkan di rumahku. Tak percaya tapi nyata adanya, dia masih seperti dulu, dengan senyum hangat khasnya yang membuat jantungku perlahan menormal.

“Kok kamu diam?” Tanyanya melihat aku tak merespon.

“eehhh…. Mmmm ndk apa-apa kok.”

“Kamu sakit?” Lanjutnya.

“Aku ndak apa-apa kok Man, kenapa memang?”

“Kamu kelihatan lagi ndak enak badan, kamu lagi ndak kenapa-kenapa kan?”

“Ndak apa-apa kok beneran deh.” jawabku lagi.

“Aku minta maaf dulu telah meninggalkanmu tanpa memberikan sepatah katapun, karena aku sangat malu dan takut sehingga aku tak mudah mengungkapkannya, khawatir kamu terluka dan melukai sebelum waktunya.” Tanpa aku tanya hal itu tiba-tiba dengan sendirinya ia mengatakannya.

Aku berpikir, mungkin dia merasa bersalah dulunya, tapi biarkanlah aku sekarang tidak membutuhkan penjelasan itu,

“ndak apa-apa kok Man tidak usah dibahas lagi. Aku juga udah ndak mikirin itu lagi kok,” jawabku dengan tenang, sehingga terlihat dari wajahnya rasa tenang. 

Apalah yang sanggup aku pendam lagi selain rindu, jika pada akhirnya sang pemilik semesta memberiku kesempatan untuk bersujud dan mengadu, betapa kagetnya aku mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya. Hal itu membuat ku semakin bingung dan bertanya-tanya akan kedatangannya hari ini.

“Silahkan diminum tehnya Man.”

Ternyata tanpa kami sadar, kami telah mengobrol cukup lama sampai teh yang disiapkan oleh bunda telah dingin.
Entah bahagia atau apa yang aku rasakan sekarang. Kenangan bersamanya yang.

“Zah, kamu udah dikasih tahu Bunda belum tentang tujuan kedatanganku kesini?”

“Um belum, ada apa memang?” Jawabku polos.

“Sebenarnya, tujuanku kesini ingin mengajakmu kesurga bersamaku.”

“Maksud kamu apa Man? Aku ndak ngerti.” Dengan sedikit rasa malu aku bertanya balik kepadanya.

“Aku sebenarnya masih malu untuk mengatakan hal itu.”
“……………….”

“A..a.. aku mau mengkhitbahmu.”

Aku terdiam seribu bahasa mendengar ucapannya, apakah ini nyata? Ataukah aku tengah berkhayal di tengah penantian dan kerinduanku? Aku sangat bahagia bahkan merasa menjadi orang paling bahagia di dunia ini. Rasa yang selama ini telah lama aku nantikan akhirnya tersampaikan juga. Aku tersenyum simpul dibuatnya.

“Itupun jikalau kamu bersedia menerimaku seperti dulu lagi.” Lanjutnya. 

“Kecintaan kepada Allah melingkupi hati. Kecintaan ini membimbing hati dan bahkan merambah ke segala hal,” ujarku.

“Maksudmu? Apakah kamu ingin mengatakan tidak terima, atau kamu telah memiliki seseorang yang sudah kamu nantikan?” Desaknya.

“Bukan itu maksudku, aku hanya takut melanggar cinta-Nya yang telah aku jaga selama ini. Aku tidak ingin merusak itu dengan rasa yang nantinya hanya akan membuatku menyesal”

Tiba-tiba Bunda datang menghampiri kami dan duduk merangkulku yang sedari tadi  menguping pembicaraan kami,

“nak Rahman, Zah itu bukan ndak terima, cuman dia masih malu-malu, maklumlah masih muda, bawaannya suka mengelak. Hehe.”

“Bunda kok gitu?” Dengan tersipu aku berusaha mengelak dari ucapan Bunda.

“Baik tante, insya Allah besok aku akan datang lagi bersama kedua orang tuaku, untuk membuktikan keseriusan dari ucapanku tadi.” Ujarnya kembali.

Hari itu aku merasa terbang di atas langit. Aku ingin menjelajahi dunia saat ini, dan mengabarkan kepada alam bahwa penantian panjangku akhirnya tersampaikan.Malam menjadi saksi akan rindu yang selama ini aku nantikan.

Hati ini sebagai bukti akan penantian yang aku impikan. Itulah rasa yang bisa aku ungkapkan saat ini, dengan hati yang penuh kegembiraan dan kebahagiaan. Saat ini yang bisa aku lakukan hanyalah bersyukur kepada-Nya atas apa yang telah dikaruniakan kepadaku.

Penantian ku yang tertunda kini telah tersampaikan dengan dia yang dijanjikan.

Aku mengenal mu lewat doa, bukan lewat ucapan. Aku menulis namamu lewat hati, bukan lewat ikatan Wahai engkau yang selalu terlindungi, ucapanmu terjaga pasti dan kewajibanmu terpenuhi. Aku tak berharap banyak untuk dipertemukan denganmu.

Cukuplah kau yang mencintai Allah, sebelum nantinya kau mencintaiku. Cukuplah kau yang mampu membimbingku, dan cukuplah bagiku dipertemukan dengan seorang yang selalu menyelipkan namaku di dalam doa.

Semua rasa yang telah lama terpendam, semua mimpi yang pernah terbayang penantian panjang yang pernah terukir, kini kita akhiri bersama. Kini aku menemukanmu, seorang yang telah ditakdirkan untukku.

Ya Tuhanku. Teguhkanlah kekuatanku dengan adanya dia. Dan jadikanlah dia teman dalam urusanku. Agar kami banyak bertasbih kepada-Mu dan banyak mengingat-Mu. Sesungguhnya Engkau maha melihat keadaan kami. (Qs. Thaha ayat; 31-35).

Penulis: Nuni