Kebutaan Kaum Monoteis Memandang Alam
Cari Berita

Advertisement

Kebutaan Kaum Monoteis Memandang Alam

Selasa, 20 November 2018

Foto: Penulis
Hidup dengan aman dan nyaman adalah visinya semua makhluk bumi. Kini visi itu mulai rapuh oleh ulah manusia. Rapuhnya keamanan dan kenyamanan hidup di muka bumi dugaan kuat diakibatkan oleh eksploitasi alam yang menena-mena, tanpa memberi respek terhadap kaidah ekologi dan ekosistem sebagai bagian dari hukum alam yang berlaku pasti.

Kurun waktu 1990-2005 telah terjadi peningkatan suhu di seluruh bagian bumi antara 0,15 - 0,30 derajat celcisus. Bila pemanasan ini terus berlanjut karena faktor ekologi dan ekosistem tak seimbang, diperkirakan tahun 2040 lapisan es di kutub-kutub bumi akan meleleh. Dalil ini disimpulkan oleh para ilmuan yang tergabung dalam Intergoverment Panel on Climate Change (IPCC). Kemudian mereka memprediksi pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar sehingga kelaparan akan meluas, udara akan memanas, jutaan orang akan merebut air dan makanan.

Melalui film animasi Dr. Seuss’ the Lurax dilansir tahun 2012, menggambarkan oksigen diperjualbelikan oleh masyarakat bumi dengan kemasan perusahaan bermodal besar. Film animansi menyampaikan pesan betapa bahayanya eksplotasi alam yang berlebihan. Di Indonesia, peringatan bermaksud sama disampaikan oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pertemuan Governing Council Global Ministerial Environment Forum United Nation Environment Programme pada tahun 2010 lalu.

"Jika kenaikan suhu bumi terus meningkat, manusia bumi akan hidup dalam ancaman krisis air tawar disebabkan permukaan laut naik." Dalil-dalil peringatan ini nampaknya diabaikan melalui rumusan program kemasyarakatan. Kini kita menyaksikan dari dampak yang kita sebut pembabatan hutan diisi dengan penanaman jagung. Benar adanya bahwa tidak semua wilayah di bumi ini berlaku demikian. Namun ketika dirasa untung ekonomis, dikhawatirkan terus berlanjut.

Untuk melihat fakta dari dampak yang sedang berlangsung, kita sempatkan diri menyelidiki tanah longsor, kepungan asap akibat kebakaran hutan, kekeringan dan rotasi musim yang tak menentu di beberapa wilayah, dan fenomena paling mutakhir adalah terjangan banjir yang melumat pemukiman penduduk. Witoelar dalam tulisannya “Isu Perubahan Iklim” menyampaikan bahwa fenomena seperti ini akibat dari perbuatan manusia sendiri.

Dalil yang disampaikan Witoelar memberi isyarat bahwa kerusakan alam diyakin bersumber dari diri manusia. Manusia bumi melakukan eksploitasi atas alam dengan alasan, bahwa gunung dan hutan bagian dari alam itu untuk kemaslahatan manusia. Pandangan ini menjelaskan pola pikir pelaku kerusakan gunung dan hutan, menempatkan dirinya sebagai pusat kehidupan. Pola pikir inilah yang disebut sebagai antoposentrisme.

Pola-pola kerusakan alam juga dapat dibaca dari orientasi hidup manusia modern. Kecenderungannya yang materialistik dan hedonistik juga sangat berpengaruh. Sentralisasi kehidupan pada rasionalitas dengan mengabaikan nilai-nilai tradisional juga berimplikasi pada pembangunan tidak seimbang, hampir di segala bidang. Kita boleh membaca kenyataan yang demikian dari degradasi moral manusianya. Dimana amanat yang diemban terkadang dis-orientasi tanggungjawab. Proyek-proyek terlaksana tanpa memperhatikan substansi pembangunan.

Fenomena ini dapat terjadi karena semata-mata dilatarbelangi oleh motivasi ekonomi kapitalis. Kecenderungan ekonomi kapitalis dikhawatirkan tendensi manusia hanya mengakumulasi materi dan mengeksploitasi alam sebanyak-banyaknya dengan alasan kebahagian. Sementara di sisi lain, alam terus digerus oleh karena hasrat materi tak terbendung. Hal ini membuat mata manusia modern buta terhadap alam.

Bagaimana Islam memposisikan manusia? Bahwa manusia adalah khalifah di atas muka bumi bukan cek kosong untuk melampiaskan hasratnya terhadap alam. Memang, manusia diciptakan dengan segala keunggulan dari makhluk lain, namun posisi yang demikian telah disertai dengan berbagai tugas yang harus diemban, termasuk eksploitasi alam yang semena-mena adalah pekerjaan terlarang. Perihal itulah antroposentrisme yang eksploitasi alam semaunya tidak dibenarkan.

Posisi manusia dan alam adalah setara berikut potensi-potensinya. Karena masing-masing potensi itu, dalam kajian tasawuf memandang manusia diposisikan sebagai mikrokosmos dan alam adalah makrokosmos yang didalamnya terdapat tanda adanya Tuhan. Inilah cara Islam menekankan bahwa alam dipandang sebagai salah satu obyek untuk lebih memahami penciptanya.

Ketika cara pandang dikotomis yang memandang alam adalah bagian terpisah dari manusia, berikut dengan paham antroposentrisme bahwa manusia adalah pusat dari sistem alam, tidak terlalu berlebihan jika dikatakan inilah salah satu faktor terjadinya kerusakan alam. Disamping itu, paham materialisme, kapitalisme dan pragmatisme dengan kendaraan sains dan teknologi juga ikut pula mempercepat kerusakan lingkungan, baik dalam lingkup global, nasional, maupun lokal.

Dalam konteks ini, kaum monoteis yang membabat liar atas hutan tanpa pertimbangan ekologi dan ekosistem sering dikritik kurang memiliki kepekaan terhadap alam dan lingkungan hidup.

Kaum Monoteis Abad Tengah

Sejarahwan abad tengah Lynn White melalui tulisannya “The Historical Roots of Our Ecologic Crisis” menuduh agama Kristiani sebagai agama yang paling antroposentris dalam memosisikan manusia berhadapan dengan alam.

Apa yang disampaikan oleh Lynn White tentang manusia dan alam adalah manusia bukanlah bagian dari alam, tetapi penguasanya. Cara pandang ini meluas kala itu: di abad tengah. Sementara manusia tradisional memercayai hutan, gunung, dan alam ada penunggunya. Karena itu, manusia tidak sembarang mengusik alam. Pemahaman ini menjadi penjaga dan pengawal atas tindakan manusia terhadap gunung, hutan, dan lingkungan.

Sebaliknya sekarang, manusia modern dengan kelengkapan pengawal seperti polisi hutan, pengetahuan yang yang komplek, dan Undang-Undangnya telah memandang rendah posisi alam dan mengusiknya melalui eksploitasi besar-besaran. Sekali lagi demi kepentingan ekonomis dan menaifkan keseimbangan ekologis.

Masih di abad tengah. Tuduhan lain muncul dari Harvey Cox. Seorang teolog asal Harvard. Ia menuduh tradisi Kristiani dengan teologi penciptaanya yang memisahkan alam dari Tuhan dan memisahkan manusia dari alam. Pemisahan tajam ini menurut Cox membuat manusia kehilangan rasa hormatnya kepada alam dalam hal ini gunung, hutan dan kandungan-kandungan didalamnya. Yang demikian itu oleh Cox menuduhnya alam hanya melayani kepentingan manusia dan obyek eksploitasi belaka.

Dalam kasus di Pulau Sumbawa, misalnya. Gunung-gunung digundulkan hutannya untuk meraup untung dari penanaman jagung. Bahkan wacana pembukaan lahan digelontorkan oleh pemerintah. Melalui berita yang di-realese oleh Bimakini.com pada 14 November 2018, Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Bali dan Nusa Tenggara berencana penambahan perluasan lahan jagung sebesar 400.000 hektar di Pulau Sumbawa.

Sementara pada kenyataanya, gunung-gunung sudah kian rata tak berpohon. Jika ingin melihat kenyataanya, sesekali perlu memantau gunung di balik gunung, bukit di balik bukit. Ini pertanda, cara pandang dan kebijakan hanya semerta-merta melihat untung secara ekonomis tanpa pertimbangan ekologis jangka panjang berikut juga dengan keramahan terhadap alam. Jika ini terus berlanjut, hutan sebagai Sanstainable Development Goals semakin jauh dari visi manusia bumi.

Kasus di ranah yang lebih lokal, kita bisa merefleksi dari visi pembangunan pemerintah Kabupaten Bima. Melalui periode ini pemerintah mengusung konsep "Bima Ramah". Konsep ini belakangan cenderung bersifat apriori, dimana ramah tidak dimaknai secara menyeluruh dan mendalam melalui rumusan kebijakan.

Lihat saja kenyataanya, masyarakat sebagai output dari visi tersebut telah berhasil membabat hutan menena-mena. Salah satu aksi real-nya dapat dijumpai di hutan Parado. Pembabatan hutan besar-besaran ini menunjukan rumusan kebijakan pemerintah tidak ramah terhadap alam. Orientasi pembangunan sangat jelas bersifat ekonomis semata dan pembangunan bersifat ederu ndai sura dou labo dana (kepentingan masyarakat dan bumi) benar-benar hanya bersifat eksploitatif ekonomis.

Dalam kasus ini, pembangunan bersifat dari dalam diri manusianya tidak benar-benar total, seperti halnya moralitas. Alhasil, manusia sendiri yang merusak alam dan pertimbangan akan dampak kerusakan alam berikutnya tidak dipikirkan.

Kekeliruan memandang alam ini terus bermunculan. Kekeliruan itu justru muncul dari kaum monoteis: Islam. Teologi Islam melalui antroposentrisme lingkungan hidup ditengarai berakar dari keyakinan tentang manusia sebagai makhluk istimewa.

Konsep manusia sebagai khalifah di muka bumi ini terkadang oleh sebagian mereka menjadikanya sebagai legitimasi bagi manusia melakukan eksploitasi alam. Tetapi apakah yang demikian adalah keyakinan yang sebenarnya untuk memperlakukan alam semaunya? Jawaban setegas-tegasnya adalah tidak demikian seharusnya. Bahwa dalam teologi Islam khususnya di masyarakat tradisional, memandang manusia dan alam adalah sederajat. Dalil ini didasari oleh pandangan bahwa manusia bahkan seharusnya merasa diri lebih kecil dari alam bahkan sebagai gambaran alam.

Inilah yang disebut sebagai manusia adalah mikrokosmos dan alam adalah makrokosmos. Bahkan manusia harus menyesuaikan diri dan menyelaraskan irama kehidupannya dengan alam.

Lihat saja kenyataanya, manusia terkadang menyesuaikan diri dengan musim manakala bertani tiba waktunya. Pesawat terbang pantang lepas landas kala keadaan udara di atas tak seimbang.

Kapal laut tak hengkang dari darmaga kala gelombang dahsyat mengguncang permukaan laut. Mau tidak mau manusia harus mengikuti irama mainya alam. Ini juga harus berlaku manakala perlakuan terhadap gunung dan hutan. Jika tidak, kekeringan, banjir, dan longsor akan memporak-porandakan tata pemukiman. Bahkan tanda-tanda ini telah terjadi. Tidakkah kita belajar dari yang telah terjadi? Atau tauhid sebagian kaum monoteis menaifkan alam sebagai ayat (tanda) ciptaan Tuhan demi kepentingan dan keuntungan ekonomis semata-mata?

Penulis: Muhammad Sahrain
(Pegiat Lembaga Genius NTB)