Ingat! Perjuangan Belum Selesai, Selamat Hari Pahlawan
Cari Berita

Advertisement

Ingat! Perjuangan Belum Selesai, Selamat Hari Pahlawan

Minggu, 11 November 2018

Foto: Penulis
Peringatan hari pahlawan yang kita peringati saat ini tidak hanya sebatas mengenang kembali sejarah dan membuka kembali lembaran-lembaran perjuangan para tokoh Nasionalis dimedan perang dalam melawan penjajah dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Indonesia.

Peringatan hari pahlawan saat ini hanya dimaknai sebagai formalitas untuk “Melawan Lupa” tetapi bukan pada bagaimana kita mengisi dan menghiasi peringatan hari pahlawan ini dengan merefleksikan kembali apa yang sudah kita lakukan untuk bangsa hari ini.

Peringatan hari pahlawan seharusnya dimaknai secara fundamental dengan menggali nilai-nilai sejarah dan perjuangan para tokoh pahlawan bangsa yang telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk bumi Nusantara.

Berlalunya sejarah dalam catatan mesin waktu dan berakhirnya perjuangan para tokoh pahlawan Nasional di medan perang bukan berarti kita sebagai generasi muda hanya duduk diam dan menikmati kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh semua tokoh pahlawan Nasional kala itu.

Sesungguhnya perjuangan para tokoh pahlawan Nasional itu hanya mengakhiri penjajahan Belanda dan Jepang sehingga membawa bangsa Indonesia kepada pintu kemerdekaan. Perjuangan para tokoh Nasional pada saat itu sesungguhnya belum sampai pada kemerdekaan yang utuh dan menyeluruh.

Ketika menyebutkan kata perjuangan kita tentu ingat ucapan bapak bangsa kita yaitu bapak Ir. Soekarno bahwa “Perjuanganku Lebih Mudah Karna Mengusir Penjajah Tetapi Perjuanganmu Akan Lebih Sulit Karena Melawan Bangsa Kalian Sendiri”.

Sesungguhnya Pada era milenial ini “Perjuangan Belum Selesai” karena penjajahan diera milineal ini tidak lagi dalam bentuk genjatan senjata tetapi lebih pada persaingan dibidang idiologi, ekonomi, industri, pengetahuan dan teknologi.

Negara dan bangsa yang tidak mampu untuk mempertahankan ideologinya dan mengembangkan negaranya dibidang ekonomi, industri, pengetahuan dan teknologi maka perlahan-lahan akan dijajah oleh Negara lain yang telah mengalami kemajuan yang pesat dibidang ekonomi, industri, pengetahuan dan teknologi.

Maka dari hal itu makna dan orientasi penjajahan hari ini memasuki era baru. Dimana penjajahan secara umum dimaknai sebagai adanya genjatan senjata, kekerasan, dan penindasan, tetapi hari ini dunia mempunyai pola dan tafsir baru tentang penjajahan atau yang dikenal dengan istilah “Perang Dingin”.

Sebagai salah satu contoh Negara besar yang tidak mampu bertahan dan gagal dalam mempertahankan negaranya adalah runtuhnya Unisoviet yang dipelopori oleh Negara Rusia yang jatuh dalam hal ekonomi sehingga Negara Rusia yang awalnya bersekutu dengan Negara-negara lain telah bubar dan Negara Rusia terbagi menjadi beberapa bagian.

Dalam sejarah dunia runtuhnya Unisoviet yang dipelopori oleh Rusia menjadi pelajaran besar untuk mengingatkan kita bahwa Negara Indonesia sebagai Negara berkembang berpotensi untuk runtuh dan bubar seperti Rusia karena Perang Dingin masih berlangsung sampai dengan hari ini.

Melihat realitas banyaknya Negara asing yang menanam modal bahkan memiliki perusahaan dan pertambangan besar di Indonesia seperti Negara Amerika yang memiliki perusahaan Freeport membuktikan bahwa ketidakmampuan Negara kita dalam mengelola sumber daya alam (SDA) kita sendiri karena disebabkan oleh beberapa hal seperti: minimnya peralatan pertambangan yang canggih, rendahnya modal pengelolaan pertambangan dan rendahnya sumber daya manusia (SDM) kita dalam mengelola sumber daya alam Indonesia.

Berangkat dari realitas di atas cukup membuktikan bahwa Negara kita masih dijajah oleh Negara lain melalui ekonomi dan insdustri. Kita akui secara Negara kita telah merdeka tetapi secara bangsa kita belum merdeka karna sumber daya manusia (SDM) kita smasih sangat rendah dan sumber daya alam (SDA) kita terus dieksploitasi sampai dengan hari ini.

Selain itu pendidikan kita menurut hasil badan survey dunia kita menempati urutan terkahir dari sejumlah Negara-negara dunia. Seperti yang telah dilansir dalam pemberitaan online (gobekasi.co.id) pada hari Rabu, 27 April 2016 jam 11:33 WIB. Empat badan survey internasional menempatkan tingkat mutu pendidikan di Indonesia masih ‎pada rangking terbawah.

Organization for Economic and Development (OECD) menempatkan Indonesia di urutan 64 dari 65 negara. The Learning Curve menempatkan Indonesia pada posisi buncit dari 40 negara yang disurvei. Sementara itu, hasil survei‎ TIMS and Pirls menempatkan Indonesia di posisi 40 dari 42 negara. Sedangkan World Education Forum di bawah naungan PBB menempatkan Indonesia di posisi 69 dari 76 negara. “World Literacy meranking kita di urutan 60 dari 61 negara,”.

Melihat hasil beberapa badan survey diatas cukup menjadi bukti bahwa bangsa kita belum merdeka dibidang pendidikan sehingga kita juga diperangi oleh Negara lain melalui jalur pendidikan, dalam arti Negara-negara lain tidak ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cerdas karena jika hal itu terjadi, Negara Asing tidak akan bisa menguasai seluruh sumber daya alam yang ada karena bangsa Indoensia akan mengambil alih pengelolaan sumber daya alam tersebut.

Ketertinggalan ini juga disebabkan oleh rendahnya minat baca masyarakat Indonesia sehingga memperlambat proses pemberdayaan sumber daya manusia Indonesia. Hal ini juga didukung dengan data yang ada. Seperti United Nation Educational, Scientific and Culturan Organization menyebut hanya satu dari 1000 orang yang memiliki minat baca serius.

Itulah beberapa contoh bahwa Negara kita belum merdeka secara bangsa dan masih dijajah di era milenial ini diberbagai bidang.
Hal yang harus dilakukan hari ini adalah mari kita sadar bahwa perjuangan itu belum selesai.

Bangsa kita belum merdeka seutuhnya dan bangsa ini masih dijajah oleh Negara-negara lain. Merdeka secara Negara itu telah final dan bahkan telah diakui oleh dunia tetapi merdeka secara bangsa, kita masih jauh dari kemerdekaan itu sendiri. Mari kita isi peringatan hari pahlawan ini dengan perjuangan-perjuangan dalam memberdayakan ketertingggalan bangsa kita selama ini diberbagai bidang.

Untuk dari itu kesadaran semua pihak adalah pilar utama dalam mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia. Sehingga marilah Para tokoh agama untuk berjuang dalam menguatkan akidah kegamaan masing-masing dan menyuarakan perdamaian agama untuk menghindari perpecahan antar umat bergama yang dapat mengancam stabilitas keamanan Nasional.

Para tokoh ekonomi mari berjuang dalam membangun ekonomi bangsa ini dari pelosok desa hingga kota agar Negara ini kuat secara ekonomi agar sejarah runtuhnya Rusia dibidang ekonomi tidak menimpa Indonesia.

Para tokoh hukum mari berjuang dalam menerapkan hukum seadil-adilnya untuk menjamin keadilan sosial bagi masyarakat seperti yang telah diamantkan oleh Pancasilan dan UUD 1945.

Para tokoh politik mari kita berjuang untuk menerima seluruh aspirasi rakyat yang selama ini mungkin belum terwujud dalam tindakan nyata agar kesejahteraan dapat dirasakan oleh masyarakat dan mari kita berjuang untuk mendidik masyarakat kita menjadi masyarakat demokrasi yang dewasa.

Para cendikiawan dan tokoh pendidikan mari kita menyalurkan seluruh ide dan gagasan kita untuk mencerdaskan bangsa ini dan menciptakan masa baru pada peradaban pendidikan Indonesia melalui inovasi lembaga pendidikan dari tingkat rendah sampai tingkat tertinggi.

Para tokoh keamanan Negara seperti Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polisi mari kita berjuang untuk memastikan penegakan hukum yang adil dan menjamin kemanan Nasional dari berbagai serangan-serangan dan ancaman Negara yang ingin mengacaukan Negri ini.

Jika seluruh elemen bangsa ini dan masyarakat bersatu dalam membangun negri ini maka Indonesia akan menyambut masa dimana kejayaan itu akan lahir dan sejarah akan mencatatnya. Kita memiliki cita-cita 2045 adalah masa keemasan bangsa Indonesia maka cita-cita mulia itu ditentukan oleh perjuangan kita hari ini. Jika kita santai dan acuh tak acuh dalam membangun negri lantas Indonesia yang seperti apa yang dapat kita harapkan di masa depan.

Penulis: Nurul Mubin