Revitalisasi Perjuangan Mahasiswa
Cari Berita

Advertisement

Revitalisasi Perjuangan Mahasiswa

Ginanjar Gie
Minggu, 14 Oktober 2018

Foto: Penulis
Perjuangan mahasiswa untuk bangsa dalam mengawal kekokohan Negeri ini tak boleh hilang, yang lain boleh mati, tapi semangat juang dan idealisme mahasiswa harus selalu hidup, untuk tetap pada tujuan dan cita-cita Bangsa menciptakan sebuh ranah yang bernama kampus untuk tempat berproses menjadi bagian terpenting dalam keberlangsungan kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Sebagaimana tercantum dalam tiga prinsip dasar mahasiswa yang di nobatkan sebagai agen perubahan (Agent Of Change),
Pertama, "Merubah dirinya (cara pikir)",
Kedua, "Merubah keluarga dan lingkungan sekitar",
Ketiga, "Dapat menerapkan prinsip kebenaran (Hanif)".

Dalam ketiga poin tersebut fungsi dan peran mahasiswa terakumulasi dengan baik, sebagai dasar dan ideologi sebuah perjuangan mahasiswa untuk bagaimana mengawal dan memberikan solusi hingga melahirkan resolusi oleh pemerintah.

Namun di era yang cukup maju dan mulai di modernisasi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), bisa kita lihat bagaimana kondisi mahasiswa sekarang (Era digital) atau lebih modernnya "Jaman Now".

Karakter mahasiswa yang seharusnya menjadi Agen Of Changes, kini lebih cenderung pada hal-hal yang merugikan, fakta yang penulis pantau di tiap-tiap kampus bahwa : "Bila melihat orang yang sedang diskusi dan itu mereka anggap buang-buang waktu apalagi lihat sebagian komunitas tertentu yang melakukan unjuk rasa (demonstrasi) besar kemungkinan di anggap tidak ada kerjaan bahkan lebih beranggapan bahwa mahasiswa yang melakukan demo tersebut adalah orang yang cari muka dan ingin tenar."

Poin dari ocehan atau pengklaiman mahasiswa di atas sudah sangat jauh dari ideologi yang seharusnya di miliki dan yang harus di pegang teguh oleh seorang mahasiswa. Ingat mahasiswa adalah "Agen Of Changes"....!!!!!!

Sebagai langkah solusi untuk menyikapi dan meluruskan pikiran mahasiswa yang sudah sangat melenceng dari nilai-nilai luhur perjuangasn mahasiswa, hal ini penulis mengajak pembaca untuk menelisik dan mengenal kembali sejarah perjuangan mahasiswa untuk kekokohan sebuah bangsa, mulai dari tahun 1908 yang di cetus oleh aksioner Budi Utomo, sampai proklamasi kemerdekaan hingga era revormasi yang merupakan ujung tombak dari berdirinya sebuah negara demokrasi, dan masih berkelanjutan oleh para mahasiswa-mahasiswa sekarang dalam menyuarakan dan menuntut hak atas kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Di Bima, perjuangan mahasiswa dan rakyat terjadi pada tanggal 24 desember 2011, peristiwa tersebut di kenal dengan nama bima berdarah, puluhan orang terluka dan beberapa orang meninggal, dan Kantor Bupati terbakar hangus, ludes di lahap oleh si jago merah.

Semua perjuangan yang tertulis dalam sejarah tidak ada yang terlepas dari perjuangan mahasiswa. Pada tahun 1974 saat rezim orde baru berkuasa dengan  "Senkon dan Karta.", sebagai bentuk kedzoliman penguasa saat itu. Namun gerakan mahasiswa tetap meledak, meskipun di tindas, di intimidasi, bahkan ada yang kehilangan nyawa dan meninggal dunia.

Para mahasiswa tetap pada semangat juangnya. Mereka tetap melancarkan berbagai kritikan terhadap praktek kekuasaan orde baru (ORBA). Diawali dengan aksi terhadap isu kenaikan harga BBM, Hingga lahirlah kemudian apa yang disebut gerakan "Mahasiswa Menggugat". Tujuan utama dalam aksi pengecaman itu ialah menyampaikan aspirasi terhadap kenaikan harga BBM dan praktik korupsi yang merajalela.

Pada Oktober 1977, gerakan bersifat nasional namun tertutup dalam kampus. Gerakan mahasiswa tahun 1977 ini tidak hanya berporos di Jakarta dan Bandung. Namun meluas secara nasional meliputi kampus-kampus di kota Surabaya, Medan, Bogor, Palembang, dan Ujung Pandang. Pada 28 Oktober 1977, delapan ribu mahasiswa menyemut di depan kampus ITB. Mereka berikrar satu suara, "Turunkan Suharto!!!". Al-hasi esok harinya, semua yang berteriak raib ditelan terali besi. Kampus segera berstatus darurat perang. Namun kembali tentram dengan kekuatan kekuasaan dan kebengisan penguasa kala itu.

Berbagai tindakan represif yang menewaskan aktivis mahasiswa dilakukan pemerintah untuk meredam gerakan pengguliran rezim ORBA tersebut, diantaranya ialah peristiwa Cimanggis, Peristiwa Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II, Tragedi Lampung. Namun semua bukan menjadi hambatan dan masalah untuk tetap menuntut dan melakukan demo besar-besaran.

Revolusi dan pergerakan tetap menggelegar di nadi dan darah para aktivis mahasiswa belum berakhir, meskipun ketakutan kepada yang di lakukan oleh penguasa dengan cara menyiksa dan memenjarakan sebagian mahasiswa kerap terjadi, namun di balik intimidasi oleh penguasa rezim orde baru saat itu, pergerakan dan perjuangan mahasiswa tetap masif hingga kita kenal sejarah revormasi yang terjadi pada tahun 1998. Gerakan mahasiswa yang menuntut reformasi dan dihapuskannya Korupsi, Kolusi, Nepotisme (KKN). Tuntutan itu berhasil lewat pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa, hingga akhirnya memaksa presiden Suharto melepaskan jabatannya.

Sejarah singkat dari perjuangan sejak Budi Utomo sampai peristiwa 1998-1999 atau yang biasa dikenal dengan era reformasi, adalah bukti bahwa mahasiswa sebagai pilar kelima bagi berdirinya bangsa ini.

Sejarah perjuangan mahasiswa di atas sudah sangat jauh melenceng dengan keadaan mahasiswa sekarang. Mahasiswa hanya disibukkan dengan berbagai kegiatan kampus disamping kuliah sebagai kegiatan rutin, dihiasi dengan aktivitas kerja sosial, KKN (kuliah Kerja Nyata), dies natalis, penyambutan mahasiswa baru, dan wisuda sarjana.

Mahasiswa sebagai midel clas yang seharusnya selalu bisa menempatkan diri di tengah kondisi Bangsa. namun berita atau kabar tentang pergerakan mahasiswa sekarang nyaris sepi.
Menurut penulis tipekal-tipekal mahasiswa sekarang antara lain, penulis mencoba menguraikan lewat poin-poin di bawah ini.

Pertama, "Mahasiswa Sakit Hati", kenapa penulis harus memakai kata "sakit hati" dan kenapa tidak sakit jiwa atau sakit yang lain? Karena dari ketidak mampuan mengelola akal sehat, sehingga terinfeksi pada hati yang menjadi miniatur pertimbanga segala sesuatu, itulah jawabnnya. Dalilnya adalah: Badiuzzaman Sa'id Nursi (Ulama Turky), berpendapat demikian. Dalam Novel sejarah (ApibTauhid) yang di tulis oleh: Habiburrahman El-Sizary yang juga seorang penulis Novel yang berjudul "Ayat-ayat Cinta."

Dalam hal ini penulis tidak menempatkan hati sebagai sesuatu yang lemah tapi justru sebaliknya, hati adalah sesuatu yang utama dan paling inti dari seluruh anggota tubuh kita. Begitulah penjelasan tentang mahasiswa yang "sakit hati". yang penulis maksud.

Kedua "Mahasiswa sombong"
Karena kesombongan dan keangkuahanya menolak kebenaran dan kreativitas yang lain, secara tidak langsung lewat sikap dan tindakannya mahasiswa menolak dan seolah tidak mau tau tentang kondisi sosial serta praktek negara yang tidak berpihak terhadap masyarakat (apatis).
Sebagaimana dalam hadist Nabi SAW. Bahwa "Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.(HR. Muslim)"

Namun keadaan dan situasi tersebut bukan sepenuhnya kesalahan mahasiswa yang menggugurkan nila esensialnya sebagai "Agen Of Changes", akan tetapi ketika mahasiswa ingin bersuara tentang kebenaran, tangan besi penguasa sengaja atau tidak sengaja, mahasiswa di hadapkan dengan tindakan-tindakan yang tidak semestinya oleh abdi-abdi negara yang tidak paham tentang substansi dan ensensi demokrasi dan buta akan sejarah.

Maka dari itu, penulis memgajak semua pihak terutama kawan-kawan mahasiswa untuk memahami dan membaca tentang sejarah, Karena berbicara sejarah adalah berbicara tentang dasar bagaimana bangsa ini didirikan oleh pahlawan-pahlawan kita.

Menurut penulis ada persoalan krusial yang harus di perbaiki dalam tubuh pendidikan dan segal lingkup pemerintahan :
1. Mahasiswa cenderung pada hal-hal yang merugikan
2. Abdi atau aparat negara tidak paham substansi dan esensi demokrasi
3. Penerapan politik oleh elite-elite politik tidak punya standar "nilai". Bahkan agama pun di ikut sertakan dalam urusan politik demi kekuasaan.
Dalam hal ini penulis menawarkan beberapa saran yang mungkin bisa di anggap sebagai solusi untuk mengobati penyakit yang menggerogoti demokrasi kita.

Negara harus kembali menengok dan menertibkan pendidikan, karena masih banyak tenaga pendidik/pengajar yang tidak memenuhi standar kurikulum pendidikan nasional. Karena lewat pendidikan yang layak bisa lebih memperkuat karakter anak-anak bangsa, dan jangan sampai pendidikan yang berkarakter itu hanya halayan dan fiktif belaka.

Sebagaiman dalam buku tulisan Saptono. M.pd, "Bahwa maju mundurnya suatu bangsa tergantung kuat atau tidaknya karakter generasi bangsa, Kalau karakter generasi bangsa kuat, maka akan mengantarkan bangsa itu menjadi bangsa yang berwibawa dan di takuti oleh bangsa-bangsa lain, tapi kalau sebaliknya karakter generasi bangsa lemah, makan akan membawa bangsa pada ambang kehancuran." maka dari itu, bahwa pendidikan adalah awal kokohnya sebuah negara sebagaimana pernyataan Rocky Gerung dalam acara ILC "Tingkatkan IQ anda, maka hoax akan turun.".

Baiklah penulis bertanya sekaligus berpesan untuk kawan-kawan mahasiswa :
Apakah Cukup Sampai Disini perjuangan mahasiswa? Tentu tidak. Pemuda dan mahasiswa merupakan ujung tombak bagi perubahan bangsa ini. Pergerakan pemuda dan mahasiswa di Indonesia sangat terlihat saat mengusir para kolonial di masa penjajahan. Peran-peran para pemuda dan mahasiswa ketika beberapa peristiwa penting di Indonesia, terutama saat sang elit sudah bersikap apatis kepada rakyatnya.

"Coretan kesedihan anak bangsa, memikirkan nasib bangsa"

Semoga bermanfaat

Penulis : Sukrin, Anak pinggiran
Editor    : Gie