Pergaulan Bebas Merusak Zaman Now, Islam Memberikan Solusi
Cari Berita

Advertisement

Pergaulan Bebas Merusak Zaman Now, Islam Memberikan Solusi

Senin, 22 Oktober 2018

Ilustrasi Pergaulan Bebas (Foto: Merdeka)
Masa remaja adalah masa dimana manusia berkembang untuk menjadi lebih dewasa, masa ini akan banyak terdapat pengaruh-pengaruh dari lingkungan yang akan menentukan apakah kita akan menjadi generasi yang lebih baik atau malah sebaliknya yaitu generasi yang lebih buruk. Ketika kita lihat bagaimana pergaulan generasi zaman sekarang sangatlah jauh dengan pergaulan zaman dulu, dimana saat ini semuanya telah modern, mulai dari teknologinya, peradaban bahkan perilaku generasinya pun terkena modernisasi sehingga sangat disayangkan ketika generasi yang lahir sekarangf banyak yang terkena imbas dari modernisasi.

Sebut saja salah satu sekolah dilampung, sebanyak 12 siswa SMP diketahui hamil, dimana direktur PKBI lampung, dwi hafsah Handayani mengebutkan bahwa yang hamil tersebut derdiri dari siswa kelas VII, VIII dan IX.

Kemudian komisi perlindungan anak daerah kabupaten bekasi mendapatkan temuan terkait tindakan asusila melalui grup WA, pelaku tersebut siswa SMP di cikarang selatan, selain tindakan asusila mereka juga saling membagikan vidio-vidio yang tidak pantas yaitu porno dan dari vidio tersebut para anggota WA yang berjumlah 24 siswa tersebut saling mengajak untuk berhubungan badan. Ini ketahuannya saat salah satu anggota grup kena razia oleh gurunya, kemudian gurunya mengambil telepon selurernya.

Dikatakan oleh komisioner KPAD kabupaten rozak, rabu 3 oktober 2018 bahwa seorang siswa tidak mau membuka isi WA nya namun setelah dipaksa merekapun membuka juga, sehingga akhirnya terbongkarlah, kemudian ditemukan ada 42 vidio porno di grub tersebut. Mirisnya tidak hanya vidio porno saja akan tetapi ada ada ajakan- ajakan untuk berbuat mesum.

Ini bukti rusaknya pergaulan generasi zaman sekkarang tidak hanya dikalangan remaja namun anak dibawah umurpun ternyata terkena virus zaman now. Pertanyaanya kenapa demikian ?
Pertama karena tidak adanya peran dari keluarga, dimana keluarga sebagai tempat pendidikan pertama bagi seorang anak, akan tetapi banyak orang tua yang tdak fokus mendidik anaknya akbiat mereka fokus untuk mengejar materi dan bahkan banyak juga orang tua menanamkan nilai-nilai sekuler liberal dalam diri anak.

Di sisi lain masyarakat juga makin tidak peduli dengan tingkah laku remaja. Kegiatan pacaran bahkan yang menjurus pada mesum terus dibiarkan. Akhirnya para remaja tidak malu lagi mempertontonkan tindakan asusila seperti berduaan, berpelukan bahkan berciuman di muka umum.

Keadaan ini semakin dipengaruhi dengan masuknya tayangan pornografi dan pornoaksi ke tengah masyarakat. Dengan alasan seni dan budaya beragam tayangan dengan konten pornografi dan pornoaksi dapat disaksikan oleh remaja di ponsel-ponsel mereka. Padahal konten pornografi adalah stimulan/rangsangan besar bagi kawula muda yang baru memasuki usia pubertas. Masa di mana hormon-hormon seksualnya tengah meluap.

Pornografi dan pornoaksi menjadi legal di tanah air, Ini semua tidak terlepas dari pengaruh sistem yang di terapkan oleh negara, dimana negara menerapkan sistem demokrasi dan sistem demokrasi ini lahir 4 kebebasan dimana salah satunya bebas berekspresi, sehingga wajar ketika kita melihat para remaja berlomba-lomba melakukan apa saja termasuk prilaku seksual karena memang kehidupan di sistem demokrasi yang sekuler liberal ini akan membuat individu bebas melakukan apapun, mau itu sesuatu yang halal ataukah tidak, itu tidak menjadi persoalan sehingga peran dari negara terhadap pembinaan moralitas remaja itu sangatlah penting, akan tetapi Negara hanya fokus ke penanganan orangnya saja ketimbang mengambil tindakan pencegahan, misalnya negara lebih sibuk menangani remaja yang terkena penyakit HIV/ AIDS atau menangani terkait dengan siswa siswi yang berbuat mesum.

Harusnya negara melarang pergaulan bebas dikalangan remaja. Dimana negara harus berperan dalam menjaga akhlak masyarakat termasuk mencegah pergaulan bebas terutama perzinahan.

Islam Memberikan Solusi

Islam ketika diterapkan niscaya mampu membangun generasi yang bersih dan berkepribadian Islam jauh dari seks bebas. Hal mendasar yang diwajibkan Islam dalam hal ini adalah kewajiban negara, orang tua dan seluruh kaum Muslim membina dan menanamkan ketakwaan pada diri kaum Muslim termasuk remaja.

Dalam hal ini Islam dengan tegas menyatakan zina sebagai dosa besar. Jangankan melakukannya, umat Islam bahkan diminta untuk menjauhkan diri dari segala perbuatan yang mendekati perzinaan seperti berkhalwat, memegang tangan lawan jenis, berciuman, cumbu rayu, dsb. Maka aktifitas pacaran yang lazim dilakukan remaja adalah tindakan-tindakan yang mendekatkan pelakunya pada perzinahan.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (TQS al-Isra’ [17]: 32).

Islam juga mewajibkan keluarga, masyarakat dan negara melindungi semua anggotanya termasuk remaja. Dalam keluarga, selain wajib menjamin kebutuhan hidup anak-anak mereka, seorang ayah dan ibu juga wajib mendidik anak-anak mereka agar memiliki kepribadian Islam. Membentuk pribadi yang paham dan taat pada hukum-hukum Allah, sehingga remaja tidak akan jatuh pada tindak asusila apalagi melakukan perzinaan.

Masyarakat juga diwajibkan mengawasi dan mencegah terjadinya kemaksiatan. Satu kemaksiatan terjadi sama dengan merusak tatanan sosial dan mengundang kemurkaan dari Allah SWT., apalagi perbuatan zina yang telah jelas diancamkan azabnya oleh Allah dan RasulNya.

“Jika telah nampak zina dan riba di satu negeri, maka sungguh penduduk negeri itu telah menghalalkan bagi diri mereka sendiri azab Allah.” (HR. Hakim).

Menyelamatkan remaja tidak akan berjalan bila negara tidak mengambil peran. Bahkan peran negara amat besar dalam menjaga moral masyarakat. Negara wajib menjamin kehidupan ekonomi warganya agar tidak terdorong untuk melakukan tindak kemaksiatan seperti mencuri atau pelacuran.

Negara juga harus menegakkan hukum agar nilai-nilai akhlak masyarakat terjaga. Karena itu hukum-hukum Islam yang terkait dengan tindak pidana asusila wajib untuk dilaksanakan. Bagi pezina yang belum menikah, seperti remaja, wajib diberikan sanksi 100 kali cambukan dan pengasingan selama setahun bila dianggap perlu. Allah SWT. berfirman:

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (TQS. an-Nur [24]: 2).

Remaja dalam hal ini dapat dikenakan sanksi pidana bila telah baligh. Sebab ia telah terbebani hokum islam dan sudah harus mempertanggungjawabkan atas semua perbuatannya.
Selain itu negara juga akan memotivasi dan memudahkan para pemuda untuk menikah. Dengan pernikahan, maka kehormatan mereka akan lebih terjaga dan kebutuhan biologis juga akan terpenuhi di jalan yang haq. Adapun bagi mereka yang belum mampu, akan diminta untuk menjaga pergaulan dan melakukan shaum sunnah sebagai upaya mengendalikan diri.

Namun yang terjadi sekarang Telah nampak kerusakan pada para remaja akibat sekulerisme dan demokrasi. Kebebasan yang diusung telah menghancurkan masa depan generasi muda umat! Masa depan umat pun terancam karenanya.

Karena itu sekulerisme, demokrasi dan liberalisme itu harus segera dicampakkan. Sebagai gantinya, sistem Islam dengan hukum-hukum syariahnya harus segera diterapkan di bawah naungan sistem Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian. Sekaranglah saatnya kita wujudkan perubahan itu. Wallâh a’lam bi ash-shawâb

Penulis : Atikah zahro (Mahasiswa Jurusan Fisika Universitas Muhammadyah Mataram).