Pemuda Sangiang di Pusaran Pilkades Sontoloyo
Cari Berita

Advertisement

Pemuda Sangiang di Pusaran Pilkades Sontoloyo

Sabtu, 27 Oktober 2018

Calon kepala Desa Sangiang (foto: Rahimun)
Indikatorbima.com - Pada tanggal 20 Desember 2018 nanti, Kabupaten Bima akan melaksanakan pemilihan kepala desa yang di 53 Desa di berbagai Kecamatan. Salah satunya adalah, Desa Sangiang, Kecamatan Wera Kabupaten Bima.

Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa pasal 31 ayat 3 mengatakan bahwa, pemilihan kepala desa, terdiri dari 4 tahap yaitu, tahap persiapan, pencalonan, pemungutan suara dan penetapan. Dalam hal ini, BPD sebagai lembaga perwakilan masyarakat sangat berperan aktif dalam pelaksanaan pemilihan kepala desa.

Pemilihan kepala desa adalah pemilihan untuk memilih calon kepala desa oleh warga setempat. Sifatnya, langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.

Di Desa Sangiang sendiri, warga disuruh untuk memilih 4 orang calon kepala Desa Sangiang, dengan cara tidak diajak untuk berfikir rasional tentang siapa yang layak untuk dipilih. Sebaliknya, warga dipaksa untuk memilih tentang siapa yang tidak layak untuk dipilih. Penulis menyebutnya politik sontoloyo.

Sontoloyo adalah sebutan bagi pengembala Itik atau Bebek atau disebut juga Tukang Angon Bebek di Pulau Jawa. Seorang sontoloyo biasanya mengembala beratus ekor bebek dengan cara berpindah mengikuti musim panen padi di daerah pesawahan untuk menggembalakan bebeknya.

Konon profesi mengembala beratus bebek akan menyulitkan orang lain ketika rombongan bebek tersebut menyebrangi jalan, dan terkadang bebek tersebut ada yang memakan padi yang belum dipanen, sehingga orang lain yang tidak sabar akan mengumpat "Dasar sontoloyo".

Siapa yang tidak layak untuk dipilih oleh penulis adalah, mereka yang hadir sebagai tokoh lama dan tokoh baru. Mereka yang hadir dengan berbagai slogan dan spanduk-spanduk "Mohon do'a dan Dukungannya" tanpa ide dan gagasan. Sejauh ini, ke 4 tokoh itu penulis anggap sebagai orang-orang yang tidak layak untuk dipilih. Kenapa? Jawabannya ada pada masyarakat desa Sangiang, khususnya pada pemuda.

Penulis sendiri tidak setuju pemilihan calon kepala desa dilakukan dengan cara-cara lama. Cara dimana warga memilih bukan karena ide dan gagasan yang ditawarkan oleh calon kepala desa, tapi memilih karena ketokohan, tepatnya tokoh keluarga. Sehingga, pemilihan calon kepala Desa Sangiang berlangsung secara umum, tapi tidak jujur, tidak bersifat rahasia, tidak bebas, bahkan tidak adil.

Jaman sudah berubah, teknologi semakin maju, membangun desa juga harus dilakukan dengan cara-cara baru. Sehingga, sudah pada saatnya warga Desa Sangiang diajak untuk memilih dengan akal sehat yang jujur, bebas, rahasia dan adil. Minimal tidak asal pilih, atau memilih bukan karena tidak ada pilihan lain.

Warga harus diajak untuk berfikir rasional, sehingga ketika nurani berbicara tidak bertentangan dengan akal sehatnya. Warga harus diajak membuka mata, mata kepala dan mata hatinya. Bahwa memilih calon kepala desa bukan memilih siapa tokohnya, tapi memilih siapa yang punya ide dan gagasan membangun desa. Sebab, yang akan dia (kepala desa) pimpin bukan hanya keluarganya saja, tapi warga desa setempat.

Lalu pertanyaan yang muncul adalah, siapa yang bertanggungjawab untuk mewujudkan semua itu? Tentunya seluruh elemen masyarakat Desa Sangiang dong. Terutama para calon dan pemuda.

Calon kepala Desa Sangiang harus hadir sebagai pembawa perubahan dengan cara menawarkan ide dan gagasan membangun desa. Tentunya ide dan gagasan yang masuk di akal serta bisa dipertanggungjawabkan. Jangan hanya hadir sebagai gambar yang terpampang elok di spanduk-spanduk kemudian minta do'a dan dukungan.

Do'a dan dukungan itu selalu ada, ada untuk mereka yang punya ide dan gagasan. Bapak-bapak minta do'a dan dukungan masyarakat, tapi tidak punya ide dan gagasan yang akan diberikan kepada masyarakat. Bagaimana ceritanya?, Sebab, persoalannya adalah, anda tidak hadir untuk meminta-minta, tapi hadir untuk memberi. Pertanyaannya, apa yang akan bapak-bapak berikan untuk masyarakat yang akan memberikan do'a dan dukungan itu. Janji? Omong kosong belaka? Atau apa, perjelas dari sekarang dong.

Selain itu, yang paling miris dan yang paling tidak masuk di akal bagi penulis adalah, keberadaan pemuda desa yang ada diantara ada dan tiada. Mereka ada tapi tidak ada. Keberadaan pemuda sama sekali tidak ada. Yang ada hanyalah penonton. Penonton yang bisanya cuman bersorak-sorak, tepuk tangan, bahkan tepuk dada atas pilkades yang dimainkan dengan cara lama ini.

Pemuda ini pada kemana dan mau kemana? Bisanya apa? Hadir dong sebagai kaum intelektual yang berperan aktif mewujudkan pilkades berkualitas itu. Bukan hanya, ada, datang, duduk dan diam melihat semua ketidakbenaran ini. Mungkin tidak semua pemudan, tapi sebagiannya saja.

Ramai di medsos minim tindakan nyata, mungkin penulis juga salah satu pemuda yang dimaksud oleh penulis. Pemuda yang bisanya cuman ngomong tapi gagap dalam mengambil sikap dan bertindak. Tapi minimal bicaralah, bicara, bicara! Berikan pencerahan kepada masyarakat, bahkan kabarkan kepada dunia, bahwa adem ayemnya pilkades Sangiang karena ada yang tidak beres. Bahwa, pilkades Sangiang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Jangan diam.

Insya Allah, dalam waktu dekat ini. Penulis bersama Komunitas Mahasiswa dan Pelajar Sangiang (KOMPAS) Malang akan segera merilis beberapa ide dan gagasan, tepatnya usulan dan saran untuk ditawarkan kepada ke 4 calon yang tidak punya ide dan gagasan itu. Semuanya dalam rangka membangun desa Sangiang yang lebih baik.

Penulis: Furkan