Pemersatu Umat dan Ketaqwaan untuk Indonesia
Cari Berita

Advertisement

Pemersatu Umat dan Ketaqwaan untuk Indonesia

Senin, 22 Oktober 2018

Foto: Penulis
Agama memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan indonesia sebab agama memiliki pengaruh yang kuat terhadap pribadi manusia yang memeluknya, sedangkan manusia merupakan mahluk yang hidup dan tumbuh dalam negara.

Manusia akan rela menyerahkan seluruh harta, jiwa dan raganya dalam membela agama yang di yakini apabila dilecehkan atau dihinakan oleh orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa agama tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia dan negara serta menjadi variabel penting dalam pembangunan negara.

Indoensia akan berkembang apabila orang-orang yang mengelolanya adalah manusia yang memiliki pemahama agama yang benar karena keputusan-keputusan yang di kelurkan oleh negara adalah keputusan dari produk politik.

Pada tahun 1998 misalnya terjadi inflasi domestik, dengan hal tersebut para pakar ekonomi menyelesaikan persoalannya dengan kebijakan ekonomi makro. Demikian juga jika negara mengalami krisis ekonomi mikro maka para pakar ekonomipun akan menggunakan teori ekonomi mikro juga.

Namun demikian, teori-teori tersebut tidak lagi relevan dan memiliki makna serta peran dalam menyelesaikan persoalan ekonomi negara, tetapi justru yang paling berperan dalam menyelesaikan krisis ekonomi negara adalah diselesaikan dengan tangan politik.

Hal ini terjadi pada indonesia tatkala harga minyak dunia mengalami penurunan, namun indonesia justru menaikan harga minyak dengan dalil subsidi silang. Seharusnya dalam teori ekonomi apabila harga minyak dunia turun maka harga minyak domestikpun juga harus turun (linear), tetapi teori ekonomi tersebut tidak relevan lagi disebabkan oleh kekuatan tangan politik. Sehingga persoalan ekonomi sekarang diselesaikan dengan persolan politik dan persoalan politik diselesaikan dengan ekonomi sehingga para politikus akan bungkam apabila diberi fee untuk mengelurakan keputusan.

Berdasarkan hal ini bahwa agama adalah solusinya sebab agama akan melahirkan SDM yang jujur dan bertanggungjawab untuk terlibat dalam ruang politik untuk mengelola dan membangun negara.

Namun, terjadi masalah dalam indonesia terkait dengan perbedan pendapat para ahli ilmu yang berkaitan dengan sinergitas antara agama dan politik. Ada yang membolehkan politik dan ada juga yang mengharamkannya. Sehingga perbedaan pendapat inilah yang kemudian menjadikan para kelompok saling mencela bahwa ini salah dan ini benar, ini bid’ah dan ini sunnah hingga menimbulkan perdebatan dan persatuan kaum muslimin terpecah dan terpolarisasi sehingga para musuh-musuh islam mejadikan momentum tersebut untuk melakukan disintergarsi di dalam tubuh kaum muslimin agar persatuan kamu muslimin menjadi hancur terpecah dan para musuh islampun akan betepuk tangan dan tertawa melihat perpecahan kaum muslimin kemudian barulah ruang politik mulai dikuasai oleh para musuh-musuh islam.

Menyadari akan hal ini, Indonesia membutuhkan pemersatu umat yang dimana permersatu umat tersebut merupakan para tokoh-tokoh agama, ormas seperti NU, NW, Persi, Muhammadiyah dan partai islam serta oramas-ormas lain untuk berperan dalam mempersatukan umat islam yang terpecah dan terpolarisasi serta mengembalikan persatuan umat islam dengan cara membentuk tim atau lembaga pemersatu umat serta meyadarkan orang-orang islam dibawahnya tentang urgensi persatuan untuk bangsa dan Negara.

Selain itu, pemersatu umat tidak hanya memiliki tugas untuk menyatukan umat, tetapi juga membicarakan terkait dengan masa depan Indonesia.

Pemersatu umat tersebut akan menyusun rencana masa depan indonesia dengan merekomendasikan orang islam yang memiliki elektabilitas dan tanggungjawab yang kuat sebagai presiden dan wakil presiden. Setelah rencana ini berhasil, maka tugas negara adalah mensejahterakan. Selanjutnya, presiden dan tim pemersatu umat tersebut harus berjalan bersama dalam memperbaiki setiap persoalan dalam negara baik itu persoalan politik maupun persoalan ekonomi dengan cara menggali sumber penerimaan negara dan faktor-faktor apa saja yang akan mempengaruhi penerimaan negara yang kemudian berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

Faktor yang kemudian di duga memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi negara adalah dengan keimanan dan ketaqwaan kepada sang Khalik yakni Allah Subhanahu wata’ala sebab bumi dan seluruh isinya diciptakan oleh Allah.

Jika para penduduk negara beriman dan bertaqwa pastilah Allah akan ridho dan kemudian menumbuhkan seluruh isi bumi sebagai sumber penghidupan manusia dan sumber penerimaan negara.

Namun, peran presiden dan para pakar ekonomi dan pemersatu umat hanyalah memaksimalkan hasil yang ada dimuka bumi, sementara ia tidak mampu melaksanakan kehendak terkait dengan penciptaan hasil alam dan menurunkan hujan dari langit untuk menunbuhkan biji-bijian, kelapa sawit, batu bara, minyak dan gas bumi sebagai kekayaan alam yang merupakan sumber penerimaan negara.

Tumbuhnya hasil alam seperti biji-bijian, kelapa sawit, batu bara, minyak dan gas bumi dan keluarnya barang tambang adalah semata-mata kehendak Allah SWT. Dalam Al Qur’an Allah Azza wa Jalla berfirman, "Dialah Allah, yang berkuasa menumbuhkan tanaman, menurunkan air dari langit, mengeluarkan berbagai barang tambang. Ditangan-Nya lah ketetapan rezeki makhlukNya. Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling," (QS. Al An’Aam 6:95).

“Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau Kamikah yang menumbuhkannya,” (QS. 56:63-64).

Betapapun hebatnya sistem ekonomi, pintar dan kerja kerasnya presiden dan pakar ekonomi serta pemersatu umat, tidak akan berarti apa-apa jika Allah Azza wa Jalla berkehendak menahan tumbuhnya biji-bijian, buah-buahan, kelapa sawit, menutup lubang batu bara, menyimpan minyak dan gas karena ketidak ridhaannya atas ulah manusia. Sebagaimana dalam firman Allah Azza wa Jalla,

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS.[7]:96).

Untuk Indonesia saat ini, diperlukan gerakan “Pertaubatan Nasional” yang dipimpin oleh Presiden dan dibantu oleh Tim Pemersatu Umat, memohon ampun kepada Allah Subhanahu wata’ala agar segala kesalahan, kekhilafan, kelalaian, kesombongan kita sebagai hambaNya di ampuni oleh Allah Subhanahu wata’ala. Bagi kaum Muslim misalnya, diawali dengan pembenahan ibadah Shalat sebagai amal yang pertama kali di hisab.

Tidak ada lagi rapat, seminar, lokakarya, upacara, pelantikan, pelatihan dan acara apapun jika adzan sudah di kumandangkan. Bagaimana Allah Subhanahu wata’ala tidak murka ketika hambaNya dipanggil tapi tidak menyahut. Tatkala Presiden, Gubernur, Walikota, Camat dan Lurah memanggil bawahan maka hatinya bergetar, cemas dan segera datang menghadap. Sudah sepatutnyalah panggilan Allah Subhanahu wata’ala yang menciptakan Presiden, pemersatu umat, Gubernur, Walikota, Bupati, Camat dan Lurah diutamakan dari yang lain. Inilah awal dari perbaikan yang dibutuhkan Indonesia.

Jadi indonesia saat ini membutuhkan pemersatu umat untuk menyatukan orang islam dan pertobatan nasional untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah sang pencipta alam semesta beserta seluruh isinya diberkahi negeri kita. Pemersatu umat harus mampu mengerakkan seluruh kaum muslimin agar keluar berkumpul di tanah yang luas dan meneriakkan satu kata yaitu Indonesia.

Di dalam tanah yang luas tersebut kaum muslimin boleh mengenakan pakaian yang berbeda-beda, warna yang berbeda-beda, tetapi kaum muslimin harus memiliki satu kata yaitu persatuan. Kaum muslimin tidak lagi berdebat, saling mencela satu sama salain tetapi bebicara menghadirkan ide dan gagasan untuk Indonesia Raya semata untuk terwujudnya kesajahteraan dan kemakmuran Rakyat Indonesia.

Penulis: Misbaharuddin (Ompu Sape).