NKRI-ku Non Blok!
Cari Berita

Advertisement

NKRI-ku Non Blok!

Kamis, 18 Oktober 2018

Foto: Miridku
Indonesia adalah salah satu negara merdeka yang terbentuk dari perjuangan tanpa henti oleh para manusia berjiwa ksatria. Perjuangan yang berdarah-darah dapat mengilhami kebebasan dari tirani-tirani bejat yang tidak berperikemanusiaan. Belanda telah terusik oleh takbir. Jepang telah terluluhlantahkan bersama Nagasaki dan Hirosima, hingga memperkecil kesengsaraan dan meperluas suara-suara kemerdekaan.

Ketika kita berbicara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka kita akan diingatkan dengan sejarah masa silam, di mana Indonesia menjadi negara yang disegani oleh Blok Barat (Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Perancis, Belanda, Belgia, Italia, Portugal, dan Islandia) maupun Blok Timur (Rusia, Bulgaria, Cekoslovakia, Jerman Timur, Hungaria, Polandia, dan Albania).

Bung Karno memiliki prinsip untuk tidak mengemis. Prinsip itu ditanamkan dalam jiwa kenegaraannya pada Republik Indonesia, sehingga terbentuklah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang anti akan Barat maupun Timur dan dikenal dengan Indonesia Non Blok.

Makna dari non blok adalah menjaukan diri dari ketergantungan akan bangsa asing, menghadirkan pendirian tanpa ikut campur asing dalam mengelola alam dan memperkuat perekonomian, agar tidak tercederai dengan kesepakatan-kesepakatan yang bersifat menjerat secara sepihak dan bisa menimbulkan kehancuran permanen.

Negara Indonesia menarik diri dari Barat dan Timur bukan tanpa suatu alasan, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) merupakan alasan utama negara Indonesia menjadi independen muntal. Pada tahun 1961, merupakan sejarah permulaan Indonesia bersama lebih dari 99 negara lainnya memperkenalkan Gerakan Non Blok (GNB) sebagai bentuk perlawanan akan kebijakan-kebijakan PBB yang tidak lagi bersifat central perdamaian dunia, yang hanya menyentuh kepentingan negara-negara adidaya.

Seperti yang saya kutip dari republika.co.id ”Gerakan Non Blok (GNB) adalah suatu organisasi internasional yang terdiri dari lebih dari 99 negara. Gerakan negara ini tidak menganggap liberaliansi dengan atau terhadap blok kekuatan besar apa pun. Tujuan dari organisasi ini, seperti yang tercantum dalam Deklarasi Havana tahun 1979, adalah menjamin kemerdekaan, kedaulatan, integritas teritorial, dan keamanan dari negara-negara non blok.”

Sudah jelas, bahwa negara-negara yang memiliki hak veto, seperti: China, Amerika Serikat, Inggris, Rusia, dan Perancis tidak lagi bisa memberikan keadilan secara menyeluruh di seluruh negara dunia menurut lebih dari 99 negara yang termasuk Indonesia tersebut.

Namun kita kembali kepada masa kini, bahwa apa yang menjadi sikap bapak pendiri bangsa, Ir. Soekarno tidak lagi tercermin pada pemimpin bangsa Indonesia pada masa kekinian.
Hampir bisa dipastikan, siapa pun yang memimpin bangsa ini akan selalu berkaitan dengan negara-negara sebelumnya yang dianggap tidak mampu berkompromi dengan bangsa Indonesia. Namun, dengan mudah memimpin bangsa ini, mengkhianati prinsip itu dengan alibi demi kesejahteraan rakyat Indonesia. Tapi sayang, sampai detik ini pula belum terhindarkan dari kemelaratan. Bagaimana tidak, pengusaha asing bebas menanam modal di Indonesia, kekayaan alam diporoti sampai tak tersisa dan pada akhirnya bangsa ini harus mengemis meminta hutang luar negeri.

Baru kita sadari, mengapa Bung Karno tidak pernah menggarap kekayaan alam ini pada saat kepemimpinanya dan membiarkan alam ini tetap perawan dari senggama tangan-tangan nakal pemodal asing. Freeport kini menyisakan lubang neraka, limbah-limbah mencemari alam, penggarapan uranium, emas, tembaga, pasir besi, timah, dan lainnya. Dari luar, bumi Indonesia terlihat segar, tapi dari dalam telah tercipta jurang yang curam.

Tunggulah saatnya bangsa ini akan menjadi tengkorak bumi, itu semua karena ulah pemimpin yang menginginkan kemajuan secara instan, tanpa harus mengotori tangannya oleh tanah dan lumpur.

Gerakan Non Blok adalah suatu konsep memisahkan diri dari cengkeraman negara-negara adidaya, yang selalu menghisap bangsa lain tanpa sisa. Indonesia merupakan salah satu korban dari kebengisan bangsa adidaya. Amerika memang tidak mengarakan moncong meriam tepat di kepala garuda, tetapi sejak lama memperkosa bangsa ini dengan gagasan kapitalisme dan liberalismenya.

Seharusnya, Indonesia kembali mengedepankan Gerakan Bon Blok, agar tidak terlambat, dan menyesali hanya tinggal namanya saja. Karena kini, Indonesia dihuni oleh manusia-manusia yang mengatasnamakan cinta NKRI, pada nyatanya lebih kejam dari orang asing yang sesungguhnya, dengan mudah menjual aset bangsa, dengan wajah yang enteng membiarkan bangsa asing berkuasa pada negaranya sendiri.

Kerja, kerja, dan kerja yang coba diselogankan oleh pemimpin bangsa ini, ternyata diperuntukkan bagi kolega asingnya, rakyat luar dengan mudah mendapatkan pekerjaan, justru rakyatnya sendiri diterlantarkan dan diperolok-olok.

Sebenarnya, untuk siapa sesungguhnya bangsa ini? Jika kebijakan pemerintah mengkerdilkan peran rakyatnya. Kapan negara ini akan maju? Jika hanya bisa mengutang dan menjual aset.

Sadarlah, negara kita dibangun dari tumpukan-tumpukan mayat dan darah bersimbah ruang. Maka, kita harus mengambil peran untuk menggenggam kembali kekuasaan dan kedaulatan hanya teruntuk kepentingan rakyat Indonesia.

Kita tidak mesti menyesali apa yang sudah terjadi pada bangsa ini, tetapi kita tidak boleh berhenti untuk memperjuangkan negara ini, bangsa ini sedang ada pada ujung tanduk yang mudah terjatuh dan hancur. Kemerdekaan Indonesia pernah dibangun dari kata mungkin atas bambu runcing yang menjadi saksi, bahwa bangsa ini pernah tersakiti dan hari ini masih banyak bambu-bambu yang berdiri kokoh untuk kita jadikan senjata melawan tirani asing dan tirani bangsa sendiri. Bambu itu adalah generasi muda Indonesia.

Mari bangkit, sudah lama kita tertidur lelap oleh pujian atas kemerdekaan, dan kini saatnya generasi muda mesti berdedikasi, berdikari atas prinsip kesamaan tujuan, yakni membebaskan diri dari cengkeraman asing dan tirani bangsa sendiri.

Penulis: Defisofian Arwon A.Majid