Negara Agraria Krisis Pangan; Apa Penyebabnya?
Cari Berita

Advertisement

Negara Agraria Krisis Pangan; Apa Penyebabnya?

Kamis, 25 Oktober 2018

Foto: Penulis
Indonesia adalah salah satu negara dengan mayoritas penduduk bekerja pada sektor pertanian. Berdasarkan data dari BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2017, penduduk Indonesia yang bekerja pada sektor ini adalah 39,68 juta orang atau senilai 31,86% dari penduduk Indonesia yang bekerja. Banyaknya masyarakat yang bekerja pada sektor pertanian membuat Indonesia mendapat sebutan sebagai Negara Agraris.

Agraria sebagimana penjelasan UUPA (Undang-Undang Pokok Agraria) pasal 1 ayat 2 berarti segala sesuatu yang meliputi bumi, air, dan ruang angkasa. Sementara menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Agraria adalah segala urusan pertanian atau tanah pertanian dan urusan kepemilikan tanah. Jadi, agraria adalah segala sesuatu yang terdapat di bumi yang berupa tanah, air, dan hak-hak atas kepemilikan tanah oleh manusia dan bahkan meliputi ruang angkasa. Hal Ini menjadi penting, karena Indonesi berarti memiliki lahan yang luas khususnya di bidang pertanian.

Sebagai negara agraris, Indonesia seharusnya menjadi negara yang mandiri dalam hal memenuhi kebutuhan pangan bangsa.Tercatat bahwa Indonesia adalah penghasil beras terbesar ke-3 dunia dengan jumlah 70,8 juta ton setelah India yang memproduksi beras sebanyak 153,8 juta ton dan China yang memproduksi beras sebanyak 206,5 juta ton atau sekitar 27,8% dari total produksi dunia.

Meski menjadi negara penghasil beras nomor 3 dunia, Indonesia ternyata belum dapat mencukupi kebutahan pangan secara mandiri. Indonesia masih menjadi negara pengimpor beras.

Hal ini tentunya terjadi karna ada banyak faktor sehingga Indonesia harus mengimpor beras dari negara-negara lain seperti Thailand dan Vietnam.

Beberapa alasan yang paling kompleks sehingga Indonesia harus mengimpor beras adalah pertama, masalah konversi lahan, yaitu pengalihfungsian lahan pertanian menjadi lahan untuk membangun infrastruktur perkotaan seperti bandara, pelabuhan, dan pembangunan kawasan industri sehingga lahan pertanian yang sebelumnya produktif menjadi tidak produktif adalah penyebab utama dari tingginya impor beras. Berdasarkan data dari BPS bahwa Indonesia telah mengimport beras dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2015 dengan jumlah 15,39 juta ton, dan kembali mengimport beras pada Januari 2018 sebanyak 500.000 ton.

Kedua, produksi beras Indonesia tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta jiwa, sehingga untuk mencukupi kebutuhan pangan penduduk tersebut pemerintah terpaksa harus menginport beras dari negara lain agar tidak terjadi krisis pangan.

Ketiga, banyak petani yang berusia 65 tahun ke atas, artinya sudah tidak produktif lagi sehingga mereka lebih memilih untuk menjual lahan pertanian mereka kepada para investor agar tidak terbengkalai.
Di sisi lain, kebijakan pemerintah untuk mengimpor beras dinilai merugikan petani, sebab dengan mengimpor beras maka jelas harga gabah akan turun sementara harga penunjang produksi seperti traktor, pupuk, dan pestisida sangat mahal.

Kebijakan mengimpor beras juga dapat menurunkan daya produksi petani, sebab para petani hanya akan memproduksi beras untuk kebutuhan pribadi saja. Namun demiakian, segala kebijakan yang diambil adalah untuk kebaikan bersama bangsa Indonesia.

Jadi jelas, jika masih saja terus terjadi pengalihfungsian lahan pertanian menjadi lahan non produktif, bukan tidak mungkin Indonesia akan terus mengimpor beras dari negara-negara tetangga untuk tahun-tahun kedepannya dan bukan tidak mungkin juga Indonesia akan mengalami krisis pangan jika masalah ini tidak diperhatikan secara maksimal.

Dalam hal ini pencetakan sawah baru untuk mengganti sawah yang telah beralih fungsi sangat dibutuhkan agar produksi beras dapat mencukupi kebutuhan masyarakat sehingga kita dapat meminimalisir impor beras, sehingga dana yang dikeluarkan untuk mengimpor beras dapat digunakan untuk kesejahteraan rakyat di bidang lain.

Hal ini bukan hanya tugas dari pemerintah untuk memajukan pertanian Indonesia, masyarakat juga harus ikut berperan aktif, terutama bagi generasi yang saat ini sangat acuh terhadap pertanian Indonesia, maka itu adalah tugas kita untuk mengola lahan tersebut dengan cara yang kreatif dan inovatif agar lahan pertanian di Indonesia tidak semakin berkurang dan kita dapat menciptakan Indonesia yang madiri dalam pangan.

Penulis: Tifatul Umayah (Mahasiswa Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Faktultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang).