Mentoring Karakter Generasi Mbojo
Cari Berita

Advertisement

Mentoring Karakter Generasi Mbojo

Rabu, 24 Oktober 2018

Foto: Penulis
Manusia sebenarnya dilahirkan secara fitroh. Bahkan beberapa agamapun bila kita kaitkan dengan konsep keagamaan kebanyakan mengatakan hal yang sama terkait dengan awal lahirnya manusia, ia dilahirkan secara suci dan bersih serta keutuhan konsep ketuhanan yang dibawanya masih kuat, kita ambil saja dari agama islam bahwa memang manusia dilahirkan secara fitroh. Akan tetapi yang membuat manusia itu keluar dari fitrohnya disebabkan oleh banyak faktor, diantranya ialah dipengaruhi oleh faktor lingkungan, baik itu lingkungan pendidkan, lingkungan keluarga, teman bergaul dan variabel variabel lainnya yang kemudian memyimpangkan manusia itu sendiri dari fitrohnya sehingga menyebabkan karakter manusia jauh dari firohnya.

Apabila kita lihat dibeberapa media tentang dinamika bangsa maka tidak sedikit berita yang bermuatan tentang penyimpangan yang dilakukan oleh sekelompok “manusia” pada bangsa ini yaitu kasus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang masih merajalela bahkan kata tersebut sepertinya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebagian orang beranggapan bahwa korupsi, kolusi dan nepotisme telah mewabah dan ada di mana-mana. Sehingga kasus-kasus korupsi seperti ini terbiasa dikatakan dengan kata “budaya korupsi’, seolah-olah kata budaya diartikan sebagai suatu kebiasaan banyak “orang” yang kemudian tidak perlu lagi dipersoalkan atau di anggap sepele apalagi terdapat pula anggapan bahwa mustahil untuk dihentikan. Tapi apakah betul bahwa korupsi dibangsa ini mustahil dihentikan, lalu bagaimana kinerja para pemangaku jabatan yang memilki tupoksi dalam hal pencegahan dan pemberantasan korupsi. Sungguh ironi jika memang korupsi sulit ditiadakan sehingga jika kita biarakan secara terus menerus budaya ini implikasinya akan berdampak pada kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Menyadari akan hal tersebut Pemerintah sebetulnya sudah jauh beberapa tahun yang lalu telah berupaya dalam melakukan pencegahan terhadap KKN ini dengan cara memberikan suntikan materi pada pendidikan pancasila dengan harapan bahwasanya anak bangsa yang menjadi generasi penerus bangsa mampu menginternalisasikan nilai-nilai pancasila dalam dirinya.

Tidak hanya sampai disitu upaya lain yang dilakukan pemerintah juga dalam mencegah dan memberantas korupsi yaitu dengan diskusi-diskusi, seminar kebangsaan dan penyusunan kurikulum yang berfokus pada pembentukan karakter (K13), akan tetapi tidak memberikan efek jera terhadap para koruptor, kita bisa lihat sampai sekarang korupsi masih merajalela dimana-mana, sepertinya penddidkan yang diberikan oleh pemerintah kepada anak bangsa kurang mempan dalam mengubah karakter anak bangsa bahkan penegakan hukumpun tidak membuat para karuptor jera dan sadar.

Lalu bagaiamana sebenarnya yang harus kita lakukan dalam mencegah dan memberantas korupsi di Negara ini, jawabannya hanya satu yaitu kembalikan generasi bangsa kepada fitrohnya yaitu asset yang dibawanya tatkala manusia dilahirkan yaitu konsep ketuhanan. Dengan konsep tersebut diharpkan orang-orang akan takut untuk melakukan penyimpangan (Korupsi) karena mereka paham bahwa selain ia diawasi oleh lembaga pemberantsan Korupsi juga diawasi oleh Tuhan.

Adapun cara kita untuk memulai mengembalikan anak bangsa kepada fitrohnya yaitu kita mulai dari siswa dan mahasiswa untuk di Mentoring membentuk lingkaran kecil dalam pendidikan karakter generasi Mbojo baik dari segi agama hingga pada nasionalisme.

Harapannya Konsep mentoring ini akan lebih kuat apabila Pemerintah Daerah berperan aktif dalam mendukung program Mentoring dengan bersinergi dengan para cendekiawan muslim yang peduli terhadap umat dan bangsa, semisalnya Oragnisasi Mahasiwa Muslim, kelompok pemuda-pemuda Daerah dan ormas-oramas lain yang memiliki kepedulian terhadap pembangunan daerah.

Tugas merekea ini untuk menginisiasi Program Mentoring seklaigus merealisaskiannya dan pemerintah Daerah juga harus bisa bersinegi dengan para organ dan ormas kepemudaan ini agar apa yang mereka programkan diperkuat dengan regulasi dari pemerintah Daerah sendiri sehingga program Mentoring ini harapannya bisa mengembalikan generasi mbojo kepada fitrohnya dan Mbojo akan melahirkan generasi yang berkarter, cinta dan bertanggungjawab terhadap agama dan daerahnya.

Konsep mentoring ini tidak hanya focus pada keberhasilan pencegahan dan pemberantasan korupsi akan tetapi harapannya bisa meminimalisir konflik daerah yang terus bergojalak di tanah Mbojo. Oleh karenanya program mentoring akan lebih bermakna bilamana pemerintah daerah mau bersinergi dengan para cendekiawan muslim dalam merealisasikannya setidaknya dengan mengeluarkan keputusan hukum tentang keberadaanya agar pelaksanaannya bisa tereaslisasi maksimal.

Penulis: Misbahruddin (Ompu Sape).