Masyarakat Wora Korban Politik
Cari Berita

Advertisement

Masyarakat Wora Korban Politik

Selasa, 23 Oktober 2018

Foto: Ilustrasi
Destinasi pemikiran para pembaca terhadap tema di atas akan tertuju pada pandangan bahwa masyarakat desa wora adalah orang-orang yang terdzolimi dan terintimidasi oleh tindakan politisasi para politisi. Hal itu bisa saja benar, akan tetetapi pembahasan kita kali ini akan mengerucutkan pada apa yang sesungguhnya politik? dan benarkah bahwa mereka berpolitik? ataukah hanya partisipan politik?

Sebelum masuk pada pembahasan, saya akan menggambarkan secara singkat terkait kondisi desa wora. Desa Wora terdiri dari 9 dusun yang bermukim lebih dari 3000 jiwa merupakan bagian dari Kecamatan Wera, Kabupaten Bima. Saya sendiri asli putra kelahiran Desa Wora yang kini memilih jalan merantau di daerah Sulawesi tepatnya di Kota Makassar, untuk melanjutkan pendidikan sarjana. Berbicara Desa Wora, sedikit banyaknya saya tahu seluk-beluknya, kondisi sosial, karakter umum dan kebiasaan serta budaya masyarakat Wora, saya menalari itu semua semenjak menempuh Pendidikan Sosiologi.

Ketika kita melihat secara menyeluruh, masyarakat desa wora tergolong masyarakat yang cepat dimobilasi oleh perkembangan zaman, karena tipekal masyarakatnya mudah menerima suatu hal yang baru. Namun, tidak semua hal diadopsi oleh masyarakat Wora yang mayoritasnya adalah petanii kacang, padi, dan bawang merah, tak sedikit juga yang menjadi ASN dan tenaga honorer. Banyak pula masyarakat Desa Wora yang memilih untuk merantau di kota lain dan di luar negeri, hanya untuk menyambung hidup keluarga. Hal itu dilakukan karena sulitnya mendapat pekerjaan yang menjamin kebutuhan sehari-hari.

Masyarakat Wora tidak ada yang benar-benar tergolong kader politik, apalagi terbilang mayoritas berhaluan politik sehingga disebut desa dengan tensi politik yang sangat kental. Sesunggunya disebut politisi adalah orang-orang yang teringklut dalam partai politik tertentu dan keseharianya menjalankan program politik. Sebagian besar masyarakat Wora hanyalah orang-orang yang sedikit banyak paham tentang politik, itu pun hanya sebagian kecil dari jumlah masyarakatnya. Masyarakat Wora sesunggunya lebih banyak adalah tokoh pendidik, tokoh agama, serta tokoh-tokoh masyarakat. Entah dari mana munculnya kegemaran masyarakat untuk ikut serta dalam memandang dan bergelut du dunia politik sebatas partisipan.

Tulisan ini dilatarbelakangi oleh kegemaran saya terhadap pandangan dan perilaku politik masyarakat Wora. Apalagi di tahun 2018 ini, Desa Wora akan melakukan pesta demokrasi dalam hal pemilihan kepala desa. Tulisan ini akan menjadi momok yang indah untuk diperbincangkan disela pembahasan politik yang berkecamuk pada masyarakat Wora saat ini. Pada mulanya, kegiatan partisipasi politik di Desa Wora digeluti oleh tokoh-tokoh terkemuka saja. Akan tetapi seiring perkembangan zaman, masyarakat yang biasa bertani dan berkebun kini ikut serta aktif dalam bebagai perbincangan politik. Sementara kebanyakan masyarakat wora hanya lulusan SD, SMP dan jarang yang lulusan SMA, apalagi Sarjana untuk masyarakat yang telah termakan usia.

Memang dalam perpolitik tidak ada pembatasan usia ataupun tingkat pendidikan dan siapa yang pantas. Kita juga perlu menyadarkan bahwa tidak semua orang bisa bersikap politik sebagaimana kedewasaan dalam berpolitik yang biasa dilakoni oleh para politis handal. Ketika orang-orang yang bukan dari kalangan yang memahami betul bagaimana bentuk dari suatu politik, akan berdampak buruk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Siapa yang bisa menjamin bahwa masyarakat awam yang berpartisipasi tinggi terhadap politik akan mencederai nama politik. Politik memiliki kode etik tersendiri untuk menjalankanya, walau tidak tertera secara tekstual. Dapat kita telaah dalam kehidupan masyarakat yang menjadi imbas dari politik bobrok atau dampak dari tindakan politik orang yang bukan dari kalangan politisi. Mendengar kata politik saja, mereka tutup telinga dan tidak jarang yang mengatakan bahwa politik adalah kesesatan.

Pada dasarnya politik merupakan suatu ilmu yang baik, mengajarkan bagaimana mengejar tujuan dengan tertib dan mampu digapai, atas metodelogi dalam ilmu politik. Berbicara politik adalah usaha memengaruhi, mengajak, membimbing dalam mencapai tujuan. Akan tetapi, memiliki persyaratan yaitu tidak melanggar hak dan menjatuhkan orang lain dengan cara yang hina atau tercela. Tidak sedikit yang menganggap bahwa berpolitik berarti menggunakan segala cara yang baik dan buruk sekali pun. Padangan yang demikian dapat mencederai politik di Desa Wora dan terlebih lagi di negeri kita ini.

Apakah semua masyarakat wora tahu bagaimana politik yang etis? Saya katakan tidak demikian karena kondisi masyarakat tidak lagi mencerminkan manusia yang ideal dikarenakan kecintaan terhadap figur tertentu, sehingga menciptakan paham fanatik. Ketika selesai pemilihan dan dimenangkan oleh salah satu calon, menghadirkan blok antarindividu, kelompok dengan kelompok. Kelompok yang menang dengan sepuas hati mengerdilkan dan menghina kelompok yang kalah. Mereka yang kalah berusaha mencari kesalahan perilaku atas kelompok yang menang, pada akhirnya menimbulkan skak-skak dan menimbulkan konflik terbuka antarkelompok.

Bahkan saat ini yang terjadi pada masyarakat Wora telah tercipta blok-blok antarmasyarakat, tidak jadi persoalan jika blok-blok tersebut hanya menyibukkan diri untuk berpikir dan bertindak dalam memenangkan calon yang diusung. Namun, yang terjadi adalah saling menjelek-jelekan, mencaci antar sesama . Berpartisipasi politik pun demikian carut-marutnya, apalagi menjadi politikus sesunggunya. Bagaimana bangsa ini bisa maju jika masyarakat bersikap demikian, justru yang timbul adalah kerenggangan dan keretakan sosial.

Seandainya pembatasan kelompok tersebut hanya pada musim pemilihan, tidak akan menimbulkan kerenggangan sosial yang berkepanjangan. Akan tetapi hal itu akan berlangsung sampai periodesasi kepemimpinan berakhir dan berlanjut sampai masa pemilihan dan masyarakat kembali terjebak dengan hal serupa. Ketika kita melihat kondisi ini, maka bagaikan api disambut bensin, bensin bertemu ladang minyak dan ladang minyak disambung oleh bom, sehingga akan tercipta ledakan besar yang menghancurkan seluruh akar-akar kehidupan.

Seharunya masyarakat yang notabene petani disibukan dengan berkebun dan berladang, agar terus meningkatkan keadaan ekonomi serta berkecukupan. Cukuplah sebagai pemilih dan biarkan orang-orang yang lebih paham dengan politik yang berperan aktif dalam memenangkan calonya. Sebenarnya inilah yang disebut oleh Kang Jalal dalam karyanya “kecelakaan berpikir”, ketika individu-individu termakan oleh kesuksesan individu yang lain dalam bertani kacang, maka semuanya berbondong-bondong menjadi petani kacang. Akibatnya, tidak ada lagi yang menjadi buruh dan pedagang.

Jika semua petani, siapa yang akan membeli kacang jika tidak ada lagi pedagang? Jika semua jadi pedagang, maka siapa lagi yang akan menjadi petani sebagai pemasok kacang? Hal-hal demikian tidak lagi dapat dipikirkan oleh masyarakat, mereka mudah terbedaya oleh kesuksesan sesaat, hingga tidak memikirkan apa yang lebih baik dan cara yang baik.

Benar bahwa tulisan ini terlalu menganggap bahwa posisi penulis yang paling benar, apabila dinilai tulisan ini hanya mencemo’oh dan menjelekkan. Akan tetapi jika para pembaca berpikir terbuka, maka akan menganggap bahwa tulisan itu sangat menarik untuk ditelaah.

Menganggap pelaku politik pada hal hanya partisipan politik, bermain politik hingga tidak saling berbicara walau antarkeluarga karena berbeda pilihan, menganggap politiknya paling benar. semuanya bukan hanya terjadi pada masyarakat Desa Wora, tetapi banyak masyatakat awam di daerah lainnya yang berpartisi tinggi terhadap politik. Namun, yang sebenarnya tidak terlalu paham dan bahkan tidak paham bagaimana berpolitik.

Tindakan pemecah-belah harus kita atasi bersama, mencabut dari akarnya agar tidak merembes pada anak cucu kita kedepanya. Jangan menjadi penyebab kehancuran pada negeri ini, yang paham politik jadikan masyarakat sebagai objek politik namun jangan ajak masyarakat bermain politik. Meraka yang berpendidikan silahkan didik masyarakat dengan baik, jangan mengajak mendidik orang yang belum layak menjadi pendidik. Apabila menjadi tokoh agama jangan lagi jadi tokoh politik yang menjadi tokoh masyarkat, tokoh agama, tokoh pendidikan, tokoh politik dan tokoh-tokoh yang lainya, jadilah tokoh yang sepantasnya ditokohkan.

Banyak kita temukan tokoh agama diajak berpolitik, akhirnya masyarakat pun tidak percaya akan keagamaanya. Banyak tokoh pendidik yang tidak mencerminkan sebagai pendidik, imbasnya tidak dinilai orang yang layak mendidik. Telah banyak pakar ekonomi, tetapi justru ekonominya melarat, itu semua dikarenakan dampak dari kecelakaan berpikir, maka kita tidak mengharapkan partisipasi politik rakyat justru korban politik. Mereka babak-belur karena politik dan terpecah oleh sikap politik yang tidak sehat.

Di era milenal ini kita mudah terbedaya oleh keadaan, Desa Wora pernah memiliki adat dan tradisi, telah banyak mencetak regenerasi cerdas. Desa Wora harus menjadi poros kemajuan dan dapat menjadi cerminan bagi daerah lain.

Tanpa kita sadari bahwa perubahan itu ada karena kebersamaan, saling bertoleransi, dan mencintai berbedaan yang bukan menimbulkan perpecahan. Desa Wora adalah tanah agraris yang memiliki kesuburan yang tinggi, dapat dijadikan destinasi wisata karena banyak hal-hal menarik terdapat di dalamnya. Oleh sebab itu, mari kita bersatu untuk lebih mudah menciptakan tatanan yang baik. Jika Karl Max pernah pesimis akan terciptanya desa Pancasila, maka kita akan menunjukkan pada makhluk tidak bertuhan tersebut bahwa penciptaan desa Pancasila akan dimulai dari Desa Wora.

Saya menulis tentang korban politik ini, bukan berarti sangat faham terkait politik, saya sendiri sungguh amatlah kerdil dalam ilmu politik. Akan tetapi saya melihat bahwa kondisi politik pada negeri ini "sangat bobrok", dan terlebih khususnya di Desa Wora, dengan nalar ini menjadi sumber utama saya merangkai ba'it demi ba'it tentang politik. Sekian dan semoga bermanfaat Aamiin

Penulis: Defisofian Arwon A.Majid
Editor  : Jaitun