Krisis Sosial Generasi Hari ini, Buah Penerapan Sistem Sekular
Cari Berita

Advertisement

Krisis Sosial Generasi Hari ini, Buah Penerapan Sistem Sekular

Rabu, 17 Oktober 2018

Ilustrasi (foto: Dialektika Nusantara)
Sejatinya remaja adalah tonggak kemajuan bangsa dan pendobrak peradaban. Namun ironis fakta remaja khususnya di Indonesia sebagian besar kehilangan jati dirinya.

Mereka apatis terhadap masalah di lingkungan sekitar mereka dan berbagai problematika yang terjadi di negaranya. Padahal, di tangan-tangan merekalah perubahan besar itu terjadi karena mengingat pemuda adalah pemegang estafet perjuangan untuk peradaban yang gemilang.

Generasi muda telah terjangkit hedonisme sehingga mereka fokus kepada kesenangan yang bersifat duniawi semata, mereka terlanjur dicekoki oleh paham-paham yang datang dari dunia Barat.

Saat ini generasi muda sedang digempur berbagai virus pemikiran dan budaya barat, seperti pacaran, freesex, LGBT, narkoba, aborsi. Hal ini membawa generasi muda ke dalam jurang kehancuran.

Krisis sosial yang melanda generasi muda saat ini tidak terlepas dari pengaruh teknologi barat. teknologi yang canggih memberikan pengaruh sangat ampuh yang akan merusak generasi sekarang dan masa yang akan datang.

Pengguna internet di Indonesia pun paling banyak digunakan oleh remaja, hal ini dibuktikan dengan studi yang dilakukan oleh UNICEF dengan kominfo. The Berkman Center Of Internet And Society Dari Havard University menghasilkan setidaknya terdapat 30 juta remaja di Indonesia mengakses internet secara reguler.

Akhir-akhir ini masyarakat dihebohkan dengan ditemukannya sebanyak 12 orang siswi SMP di salah satu sekolah di Lampung diketahui hamil. Temuan di salah satu daerah di Bumi Ruwa Jurai tersebut menjadi perhatian serius Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).

Sementara itu, komisi perindungan anak daerah kabupaten Bekasi mendapatkan temuan terkait tindak asusila melalui group whatsapp (WA), group tersebut berisikan para siswa di satu sekolah menengah pertama di Cikarang Selatan. Selain tindak asusila, di group yang berisikan 24 orang siswa dan siswi, para anggota saling berbagi video porno dari video tersebut, para anggota saling mengajak untuk berhubungan badan.

Krisis sosial yaang terjadi pada generasi hari ini disebabkan oleh banyak faktor di antaranya adalah keluarga, masyarakat dan negara. Kehidupan liberal membuat banyak orang berumah tangga jauh dari konsep keluarga Islami sehinga mereka tidak mempersiapkan bekal untuk berperan dan bertanggungjawab sebagai orang tua.

Orang tua sebagai madrasah pendidikan pertama bagi anak-anaknya seharusnya mendidik, membina, membimbing, menasehati berlandaskan Islam sehingga menjadi tumpuan anak dalam meniti kehidupan.

Dalam hal ini, seorang ibu sangatlah berperan penting. Namun, peran ibu telah terkikis oleh feminisme khususnya kesetaraan gender yang berusaha menyetarakan hak, peran, dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Sehingga kebanyakan seorang ibu hanya fokus mengejar karir, sementara anak-anaknya dititip pada nenek, bibi, baby sitter, Tempat Penitipan Anak (TPA). Paham ini telah berfungsi sebagai kekuatan yang merusak pernikahan dan peran keibuan dan struktur keluarga.

Kemudian masyarakat semakin kurang peduli. Masyarakat sekarang bersikap individualistik; tidak ada lagi yang peduli dengan apa yang dilakukan oleh tetanggan kanan-kiri. Akibatnya, perilaku seks bebas di lingkungan masyarakat.

Masyarakat pun sudah menganggap pacaran adalah hal yang biasa. Yang menjadi akar permasalahan ini adalah negara memberlakukan sistem sekular-liberal. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan seolah-olah agama Islam hanya mengatur hubungan individu dengan Tuhannya saja padahal Islam adalah agama yang mengatur seuruh aspek kehidupan. Maka tak heran lahir geneasi yang jauh dari nilai-nilai Islam.

Dalam sistem ini, setiap individidu bebas melakukan apa saja yang dia inginkan, termasuk perilaku seks bebas dan perilaku menyimpang lainnya. Nilai-nilai sekular itu telah masuk ke tengah-tengah masyarakat lewat tontonan, bacaan, dan sebagainya.

Pemerintah sendiri telah melakukan berbagai upaya perbaikan, salah satunya adalah mengganti kurikulum. Saat ini, kurikulum pendidikan Indonesia sudah berganti 11 kali sejak tahun 1947.

Kurikulum yang terakhir yang diterapkan adalah Kurikulum 2013, yang bertujuan untuk mempersiapkan manusia indnesia agar beriman, produktif, kreatif, inovatif, afektif, serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.

Pertanyaannya, apakah langkah ini berhasil membawa perbaikan? Inilah yang seharusnya menjadi renungan kita bersama. Negara seharusnya lebih intens lagi dalam hal pembinaan moralitas remaja karena melihat fakta persoalan moral dipandang sebagai urusan personal atau urusan orang tuanya saja bukan menjadi tanggung jawab negara. Singkatnya negara lebih banyak mengambil tindakan kuratif daripada preventif (pencegahan).

Langkah pemerintah untuk memperbaiki kualitas generasi memang patut diapreasi. Tetapi, kita juga perlu melihat hasil dari usaha tersebut. Jika dilihat fakta yang terjadi sekarang, problematika generasi dari masa ke masa malah justru meningkat.

Pencegahan pergaulan bebas pada remaja harus dimulai dari keluarga. Orang tua patut mewaspadai tontonan, bacaan penggunaan teknologi pada anak-anak masyarakat tak boleh membiarkan lingkungan tercemari pergaulan bebas khusnya dikalangan generasi muda. Negara harus berperan aktif dalam menjaga akhlak masyarakat, memproteksi penggunaan media sosial sehingga mencegah perbuatan yang menjurus ke arah kemaksiatan termasuk perzinaan dan dengan kekuasaannya negara akan memberan sanksi yang setimpal kepada yang melanggar aturan tersebut.

Di sisi lain, negara juga menerapkan kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam. Dari sini lah, akan lahir generasi unggul yang tak hanya menguasai sains dan teknologi saja akan tetapi juga menguasai tsaqofah Islam yang akan membentengi diri dari pengaruh-pengaruh buruk atau pemahaman yang datang dari dunia Barat.

Pendidikan Islam berbasis akidah Islam telah terbukti berhasil melahirkan ribuan ulama sekaligus ilmuwan pada berbagai disiplin ilmu seperti pada masa kejayaan khilafah Islam di antaranya Ibnu Sina (seorang ahli kedokteran), Ibnu Bathutah (ilmuwan geografi), al-Khawarizmi (penemu angka nol) al-Kindi, al-Farabi dan lainnya.

Penulis: Reni Mardianti (Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Univ. Muhammadiyah Mataram)