Kisah Jubir Saat Menghadang Rombongan Gubernur NTB dan Mengintrupsi Pidato Bupati Bima
Cari Berita

Advertisement

Kisah Jubir Saat Menghadang Rombongan Gubernur NTB dan Mengintrupsi Pidato Bupati Bima

Selasa, 16 Oktober 2018

Foto: Jubir, SH
Idealnya, seseorang yang ingin terjun ke dunia Politik praktis stidaknya memiliki tiga modal utama, yaitu modal sosial, modal politik dan modal capital. Akan tetapi, dunia kampus dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tempat Jubir belajar selama ini selalu mengajarkan untuk menghadapi Masalah dan memecahkannya.

Karena itu, setelah bergumul dengan kerasnya hidup di ibu kota Jakarta, saya merasa memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup sehingga memutuskan untuk pulang kampung. Jubir pun memutuskan untuk ikut menjadi Caleg Provinsi NTB melalui dapil VI (Kabupaten dan Kota Bima serta Kabupaten Dompu).

Jubir lahir di Bima dari pasangan H. Darsun dan (almarhumah) Hj. Siti Hawa. Kedua orang tuanya adalah pedagang di daratan Flores, Provinsi NTT. Sebelum memutuskan merantau, ayah Jubir adalah seorang penjual madu. Pada tahun 1985, ketika ayahnya menuju ke Jakarta untuk berjualan madu, Jubir di bawa serta oleh ayahnya, Jubir dititipkan ke adik orang tua perempuannya untuk melanjutkan Sekolah Dasar di Jakarta.

Setelah tamat SD di Jakarta, Jubir di jemput kakak sepupunya yang saat itu adalah mahasiswa untuk melanjutkan sekolah Menengah Pertama di Makassar. Setelah tamat di Makassar, Jubir kembali ke Bima untuk melanjutkan sekolah menengah atas di SMAN 1 Wera.

Saat di kampung halaman itulah, Jubir terkesima pada seorang Mantri (tenaga kesehatan) yang hampir setiap hari keluar masuk kampung untuk mengobati masyarakat yang sakit. Karena itu, setelah tamat SMA tahun 1997 dengan penuh kemantapan hati, Jubir melanjutkan kuliah di Malang dan mengambil jurusan Keperawatan.

Ekspektasi Jubir untuk menjadi seorang mantri kandas di tengah jalan. Jurusan Keperawatan yang diambilnya ternyata tidak sesuai dengan karakternya. Jubir pun memutuskan untuk kembali ke kampung dan tentu saja membuat orang tuanya kecewa.

Saat memasuki tahun ajaran baru, sekitar tahun 1999, orang tuanya ingin Jubir kuliah lagi dan hendak mengirimnya ke Bandung. Namun, Jubir menolak dan memilih Makassar untuk melanjutkan kuliah.

Jubir memilih kampus perjuangan Universitas Muslim Indonesia dan mengambil jurusan Hukum. Di kampus inilah Jubir mengenal HMI dan "menenggelamkan diri di dalamnya". Singkat serita, setelah menyandang gelar Sarjana Hukum pada tahun 2005, Jubir pun pulang kampung. Sesampainya di kampung, Jubir ditawari oleh mantan guru SMA-nya untuk menjadi pegawai honorer sambil menunggu waktu pendaftaran CPNS, namun Jubir menolaknya. Jubir memutuskan untuk membuka usaha penjualan pulsa HP dan rental pengetikan.

Saat berada di kampung halamannya di Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima. Jubir sempat membuat masyarakat di kecamatan Wera geleng-geleng atas tindakannya. Jubir dengan gagah berani menghadang rombongan Gubernur NTB yang sedang melakukan kunjungan kerja di kecamatan Wera.

Karena jiwa aktivisnya telah terasah di Makassar, Jubir perlu melakukan sesuatu atas rencana hadirnya Gubernur NTB H. Lalu Srinata yang hendak melakukan kunjungan kerja di Bima tahun 2006. Jubir pun menimbang-nimbang isu yang harus ia sampaikan dan bagaimana caranya.

Akhirnya Jubir memilih isu Pemekaran Provinsi Pulau Sumbawa dan menuangkan pokok-pokok pikiran penting terkait Pemekaran Provinsi Pulau Sumbawa dan mencetaknya dalam bentuk ratusan selebaran. Esoknya dengan penuh gagah berani, sebelum Gubernur hadir di kecamatan Wera, Jubir menyebarkan selebaran yang berisi pokok-pokok pikirannya mengenai Pemekaran Provinsi Pulau Sumbawa ke tamu undangan dan masyarakat yang akan menjemput kedatangan Gubernur NTB.

Rombongan Gubernur NTB pun Tiba dan Jubir bersama rekan-rekannya melakukan penghadangan terhadap iring-iringan. Atas aksinya itu, Jubir kemudian di tangkap dan di amankan di Polsek Wera. Setelah dilepas oleh pihak kepolisian, esok harinya Jubir menuju Ibukota.

Selain itu, Pada rentang waktu yang hampir sama, Jubir juga pernah mengadvokasi permasalahan yang di alami oleh masyarakat Wera, khususnya di desa Sangiang, yaitu, terkait adanya dugaan pemotongan Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai dampak kenaikan BBM tahun 2005 akhir. Saat almarhum bupati Fery Zulkarnain melakukan kunjungan ke Wera di desa Sangiang lewat program Bulan Bumi Gotong Royong (BBGR), Jubir menginterupsi pidato bupati dan menyerahkan temuannya kepada Bupati Bima terkait potongan dana BLT tersebut.

Setelah paripurna di HMI, Jubir melanjutkan perjalanan hidupnya bersama Barisan Muda PAN. Saat ini jubir juga aktif menjadi Tenaga Ahli F-PAN DPR RI.

Penulis: Furkan