Kekuasaan Politik Ulama Dalam Kubangan Lumpur Sekularisme
Cari Berita

Advertisement

Kekuasaan Politik Ulama Dalam Kubangan Lumpur Sekularisme

Minggu, 14 Oktober 2018

Ilustrasi (foto: kaskus)
Ada komposisi yang menarik  sekali dalam pemilu 2019 ini, yakni masuknya ulama sebagai salah satu kandidat calon pemimpin di negeri ini, selain dari identitas sipil dan militer.

Di dalam sistem demokrasi adalah  sistem sekular yang dimana kita ketahui bahwa sistem sekularisme adalah pemisahan agama dari kehidupan terutama dibidang politik.

Presiden Joko widodo dalam kunjangannya ke barus sumatera utara berpesan agar rakyat Indonesia tidak mencampuradukkan politik dengan agama. Hal ini demi mencegah gesekan antar umat beragama.”inilah yang harus kita hindarkan. Jangan sampai dicampuradukkan antara politik dan agama. Dipisah betul sehingga rakyat tahu mana yang agama dan politik” kata Jokowi.

Ungkapan presiden Jokowi tersebut menuai kritikan tajam dari berbagai kalangan. Pidato ini dianggap mempertegas prinsip sekularisme di Indonesia.

Rasulullah telah berpesan kepada para penguasa.” Tidaklah seorang penguasa diserahi urusan kaum muslim, kemudian ia mati, sedangkan ia melantarkan urusan tersebut, kecuali Allah mengharamkan surga untuknya.”(HR.al-Bukhari dan Muslim).

Manusia dilahirkan dan dipilih oleh Allah adalah untuk menjadi sang pengabdi. Allah melarang keras manusia melakukan segala bentuk kezaliman dan kerusakan di muka bumi.

Derajat sang khalifah dalam al-qur’an dimaksudkan bahwa manusia hidup di bumi, apapun perannya, adalah untuk menjaga dan merawat bumi dan kehidupan. Segala aspek kehidupan, baik politik, ekonomi, budaya, pendidikan, dan sosial mestinya berpijak kepada nilai spiritualitas ini. Jika bangsa ini menginginkan keberkahan dan kesejateraan kehidupan kepada Allah sang maha pemurah.

Ilmu dan ulama adalah dua kata yang saling bekaitan. Ulama adalah orang yang berilmu, secara garis besar ulama terbagi tiga, yaitu: (1) yang mengenal Allah, (2) yang memahami perintah Allah, (3) yang mengenal Allah dan memahami perintah-Nya. Ulama yang mengenal Allah adalah mereka yang takut kepada Allah, namun tidak memahami Sunnah.

Ulama yang meahami perintah Allah adalah  mereka yang memahami Sunnah, tetapi tidak takut kepada Allah. Adapun ulama yang mengenal Allah  dan memahami perintah-Nya adalah mereka yang memahami Sunnah dan takut kepada Allah. Inilah yang disebut-sebut dengan kebesaran dikerajaan langit (HR.al-Baihaqi, syu’ab al-Iman).

Nabi SAW. Bersabda,”sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar maupun dinar, tetapi mereka mewariskan ilmu itu, ia mengambil bagian yang banyak.”(HR.Abu Dawud).

Ulama pewaris nabi adalah orang-orang yang mengetahui ajaran Nabi SAW, baik yang menyangkut perkara-perkara akidah maupun syariah. Merekapun berusaha menyifati budi pekerti dan seluruh amal perbuatan beliau dengan ilmu yang bersumber dari al-qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Mereka takut berpaling atau dipalingkan dari syariah islam karena makrifatnya yang sempurna kepada Allah SWT dan sifat-sifat-Nya.

Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali menyatakan,” Ulama terdiri dari tiga kelompok. Pertama: Ulama yang membinasakan dirinya dan orang lain. Mereka adalah ulama yang terang-terangan mencari Dunia dan rakus terhadap Dunia. Kedua: Ulama yang membahagiakan dirinya dan orang lain. Mereka adalah ulama yang menyerukan manusia kepada Allah lahir dan batin. Ketiga: Ulama yang membinasakan dirinya sendiri dan membahagiakan orang lain. Mereka adalah ulama mengajak ke jalan akhirat dan menolak  Dunia secara lahir, tetapi dalam batinnya ingin dihormati manusia dan mendapatkan kedudukan yang mulia. Karena itu perhatikan pada golongan mana Anda beradaa.”(Al-Ghazali, Ihya’Ulum ad-Din, Juz III).

Timbangan ulama dalam segala hal adalah syariat islam, termasuk dalam masalah politik dan kekuasaan. Islam merupakan konsepsi ideal bagi upaya penyelesaian semua permasalahan kehidupan manusia. Islam datang dari Allah yang maha sempurna dan maha mnegetahui permasalahan yang dihadapi manusia. Rasulullah adalah sosok sempurna yang telah mendapat garansi dari  Allah sang pengutus.

Secara normatif islam adalah konsepsi ideal bagi upaya kebaikan kehidupan, dengan kata lain rahmatan lil alamin, secara historis Rasulullah telah mengukir sejarah peradaban cemerlang melalui revolusi agung yang belum pernah ada cacatan sejarah menyamainya.

Kepemimpina negara dalam pandangan islam adalah amanah dari Allah. Jika seseorang pemimpin negara berkhianat terhadap suatu urusan yang telah diserahkan maka ia telah terjatuh pada dosa besar dan akan dijauhkan dari surga. Penelantaran itu bisa berbentuk tidak menjelaskan urusan-urusan agama kepada umat, tidak menjaga syariah Allah  dari unsur-unsur yang bisa merusak kesuciannya, mengubah-ubah makna ayat-ayat Allah dan mengabaikan Hudud (hukum-hukum Allah).

Penelantaran itu juga bisa berwujud pengabaian tehadap hak-hak umat, tidak menjaga keamanan mereka, tidak berjuang untuk mengusir musuh-musuh mereka dan tidak menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka. Setiap orang yang melakukan hal ini dipandang telah berkhianat kepada umat.

Sikap amanah seorang penguasa terlihat dari tatacaranya dalam mengurusi masyarakat berdasarkan aturan-aturan Allah. Ia juga berusaha dengan keras untuk menghiasi dirinya dengan budi pekerti yang luhur dan sifat-sifat kepemimpinan. Penguasa amanah tidak akan merusak masyarakat karena bertentangan dengan syariat islam.

Sebab pengabaian terhadap sistem hukum Allah akan mengakibatkan kesempitan dan kesengsaraan hidup. Hal ini sejalan dengan firman Allah,”Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Q.S. Thahaa:124).

Sejak diutusnya Rasulullah SAW, tidak ada sistem kemasyarakatan yang mampu melahirkan para penguasa yang amanah, agung, dan luhur, kecuali dalam masyarakat islam. Kita mengenal khulafaur Rasyidin yang terkenal dengan ketegasannya dalam membela islam dan kaum muslim.

Bandingkan fragmen agung diatas dengan fenomena praktik kenegaraan di negeri ini. Para penguasa tak lagi peduli dengan nilai-nilai islam. Ali-alih melaksanakan hukum Allah menata kehidupan berbangsa dan bernegara, sekedar untuk mengikuti nilai dan norma dalam bersikap dan berperilaku saja tidak  terbersit dalam benak mereka.

Akhirnya kondisi keterpurukan dan hampir semua bidang kehidupan di negeri ini adalah akibat ulah para pemimpin negeri ini yang abai terhadap hukum Allah. Islam hanya dibawa saat mereka di masjid, sedangkan saat mereka mengurus ekonomi negara meggunakan sistem ribawi. Saat mereka mengurus pendidikan menggunakan sistem kapitalisme sekuler. Saat mereka mengurus urusan budaya mereka mengabaikan nilai-nilai islam. Saat menata sistem sosial, mereka menggunakan sistem sosial. Dan aspek-aspek kenegaraan lain yang sekuleristik.

Dalam arus sekularisme yang telah menjalar dihampir semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara bangsa  ini, telah melahirkan kehampaan kehidupan. Cara berpolitik para pemimpin negeri ini tak lagi berpijak kepada nilai-nilai spiritual. Pijakan spiritual menghajatkan sebuah kesadaran mendalam bahwa apapun tugas yang diemban hakikatnya adalah bentuk penghambaan kepada Allah sang maha pencipta. Sebab Allah meciptakan manusia memilki tujuan spiritual, yakni penghambaan dan pengabdian kepada sang pencipta.

Paradigma sekularistik pada intinya adalah bentuk pengabaian nilai-nilai islam dalam mengatur urusan negara dan mengatur urusan rakyat. Sebaliknya mereka menggunakan logika dan konsesus manusia atas nama demokrasi. Suara terbanyak dijadikan acuan kebenaran meskipun jelas-jelas bertentangan dengan islam. Padahal Allah melarang umat islam menggunakan pertimbangan suara terbanyak sebagai tolak ukur kebenaran. Sebab kebenaran hanyalah milik Allah bukan suara rakyat yang terbanyak.

Masihkah kita mempertahankan hukum jahiliyah ini, sementara Allah telah memberikan alternatif terbaiknya. Islam secara normatif dan historis telah menjadi cahaya kebaikan bagi manusia. Islam telah menjadi rahmat bagi alam semesta. Mungkinkah hari ini islam menjadi rahmat bagi Dunia jika diterapkan.

Karena itu tugas ulama adalah mencerahkan dan meluruskan masyarakat, bangsa dan negara agar senantiasa berjalan di atas hukum syariat Allah serta menjauhkan sekularisme. Visi politik Rasulullah adalah upaya membangun dan menerapkan syariat Allah dalam berbangsa dan bernegara demi menebar rahmat bagi alam semesta.

Inilah narasi yang harus dibangun oleh seorang ulama, apapun resikonya. Visi mulia ini dilakukan semata karena Allah, bukan karena kedudukan dan materi duniawi. Sikap tegas Rasulullah menolak kekuasaan rezim Abu jahal yang menerapkan sistem hukum jahiliyah adalah contoh terbaik bagi kesadaran politik umat islam hari ini.

Penulis: Heti Kurniawati (Mahasiswi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Mataram).