Jebakan Batman: HTI Vs Banser
Cari Berita

Advertisement

Jebakan Batman: HTI Vs Banser

Senin, 29 Oktober 2018

Ilustrasi (foto: Bidikdata)
Saya pikir pembakaran bendera tauhid bisa melahirkan demo berjilid-jilid, syukur bisa menggulingkan Jokowi seperti kasus penistaan agama oleh Ahok, gak tahunya malah cuman direspon dengan jualan topi dan kaos bertulis kalimat tauhid bersaing dengan para pedagang yang jualan di gerai dan emperan badan jalan, hikmahnya adalah: peristiwa politik tidak selalu direspon secara politik pula.

Seruan Imam Besar untuk kembali mengadakan gerakan yang serupa (aksi bela Tauhid) tak juga direspon balik. Isu penistaan agama yang ditabalkan pada BANSER kehilangan bobot politik. Para politisi juga gagal manfaatkan momentum, mengecil seperti bola api, panas diawal kemudian dingin dan menguap menjadi abu.

Politik adalah soal seni sebagaimana perang juga bagian dari seni tingkat tinggi (high-art) begitulah yang saya pahami. Dengannya saya selalu memandang politik sebagai hasil proses kreatif yang indah dan bermartabat. Saya menalar bagaimana Abu Hasan Al Asya'ari delegasi dan juru runding Khalifah Ali ra adu cerdik dengan Amru bin Ash utusan Mu'awwiyah. Dengan hasil akhir: Ali kalah di meja runding meski menang di Medan perang. Artinya realitas politik tidak selalu bebanding lurus dengan hasil akhir. Selalu ada faktor lain yang nimbrung sebagai penentu.

Menggunakan Teori konspirasi atau inviltrasi semua niscaya, dan tak ada yang tak mungkin. Atau perlu melihat bagaimana Bale si-Gala di bakar oleh Kurawa saat Pandhawa kalah bermain dhadhu. Bukankah sejarah berulang dengan karakter tokoh yang kurang lebih sama. Ada kesatria seperti Bhisma yang berperang melawan anak cucunya tapi mati ditangan titisan kekasihnya, Kresna yang terus memberi semangat dan pemegang skenario cerita atau Yudhistira satria polos berdarah putih tapi gemar berjudi atau tokoh culas semisal Sengkuni seorang munafiq penyebar hoaks, Duryudana dan Kurawa seluruhnya yang rakus dan gila kekuasaan atau Abu Hasan yang jujur dan zuhud, Amru bin Ash yang liat dan cerdik. Abu bakar yang amanah dan konsist, Umar yang berani dan tegas. Ustman yang lembut hati dan mudah dimanfaatkan orang dekatnya atau Ali seorang idealis intelek yang selalu kalah.

Semua ada masa dan era nya termasuk para tokoh dan elite penguasa, tinggal kita melihat siapa memerankan yang mana dan ikut siapa. Saran saya, jangan pernah mengunyah mentah peristiwa politik. Meminjam teori drama turgey: politik panggung depan dan politik panggung belakang tidak lah selalu sama.

Elite HTI sedang rehat sebab benderanya telah dikibarkan tetangga sebelah termasuk pembelaan gratis tanpa diminta. HTI telah dengan berhasil menjadikan benderanya tetap berkibar, bahkan dikibarkan oleh para pesaingnya. Klaim sebagai bendera tauhid telah menjadikan 'kekuatan manipulatif' yang cerdas. Mirip Amru Bin Ash saat memenangi logika Abu Hasan.

Di depan ribuan massa Aksi Bela Tauhid, jubir HTI telah berhasil meyakinkan bahwa bendera Al liwa dan Ar ruyah yang diperdebatkan sahihnya menjadi maqbul sekaligus menegasi berbeda dengan bendera HTI. Dan berhasil menjadikan BANSER sebagai pembakar bendera tauhid yang harus dilawan dan rezim berkuasa berikut anteknya sebagai pembohong.

Logika yang dibangun HTI sebenarnya sederhana tetap eksis meski keberadaannya dinafikkan. HTI tak mau tenggelam sendirian bahkan sekarang pembelaan terhadap HTI dilakukan di depan publik. Dan mereka punya cara jitu. Bendera HTI bisa kembali berkibar sekaligus. Cara inviltrasi yang sangat cerdas. Dan kita bisa lihat siapa ormas yang berhitung cerdas dan siapa yang hanya andalkan otot dan keringat.

Abu Nasir memberi catatan khusus yang menarik: Terus menerus melakukan gerakan-gerakan pengibaran bendera tauhid baik melalui rapat-rapat maupun pawai hanya akan membawa kita kedalam jebakan batman berupa narasi HTI. Itu artinya sama dengan mengembangkan dan membesarkan narasi HTI.

Bagi BANSER lain lagi. Pembakaran bendera tauhid bisa dengan jelas menunjukkan siapa lawan siapa kawan. Termasuk siapa saja yang berada dibelakang HTI. HTI keluar dengan kekuatan penuh lantas BANSER bisa hitung satu satu berapa kekuatan HTI.

Kedua, Siapa saja ormas yang membela, bersikap diam atau abu abu. Ini juga bagian dari strategi yang dimainkan. Seperti saat Kurawa membakar Bale si Gala pada permainan dhadhu. Kurawa tahu siapa yang keluar rumah, dan yang mati terbakar atau yang tetap hidup selamat.

Ketiga, Kekuatan politik umat Islam bisa di petakan. Termasuk seruan Imam Besar yang tak mendapat respon cukup atau beberapa tokoh elite Islam yang biasanya kritis tiba tiba puasa komentar terhadap pembakaran bendera tauhid karena tertahan kasus hoaks sebelumnya membuat mereka menahan diri. Semua kita bisa baca dengan jelas.

Pada akhirnya kita juga tak pernah tahu apakah pembakaran bendera HTI itu berjalan natural atau lewat skenario yang disiapkan. Kita juga tak pernah tahu apakah HTI dan BANSER adalah aktor pemain watak yang memerankan skenario sutradara atau martir yang di kurbankan.

Lantas siapa pemegang skenarionya? seperti halnya Umar ra yang mengklaim bahwa pembaitan Khalifah Abu Bakar ra berjalan natural tapi Ali ra dan para pengikutnya menyebut peristiwa pembaiatan lewat skenario yang sudah disiapkan. Sejarah punya kisah yang disembunyikan yang hanya sejarah saja yang tahu termasuk semua periwayatan di atas tanpa kecuali.
Apapun skenarionya, minumnya tetap teh botol. Wallahu a'lam.

Penulis: @nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar