Jangan Melawan Tuhan Karena Bencana
Cari Berita

Advertisement

Jangan Melawan Tuhan Karena Bencana

Kamis, 04 Oktober 2018

Kondisi Masjid di Palu usai bencana gempa dan Tsunami (foto: Tribunnews)
Dunia merupakan bentuk yang sempurna atas kehadiran cahaya illahi atas mahluk dan segala ciptaanya, tidak semestinya kita memandang hina semut yang berjalan tak memandang arah, karena semua ciptaan memiliki koridor masing-masing. Tidak pula kita sanjungkan keindahan paras wali Allah, melainkan atas batas yang tuhan tetapkan, maka tiada keutuhan rasa syukur yang telah tuhan ciptakan selain hanya kepada yang pantas disyukuri.

Pada waktu yang singkat berjuta peristiwa yang tak pantas diingkar, karena perjalanan waktu begitu berharga yang tidak pantas dilalaikan. Dalam kehidupan manusia, kesenangan dan kesusahan silih berganti datang menghampiri, baik dalam bentuk yang mengarukan, membosankan, memilukan dan bahkan terlihat menyeramkan.

Kondisi masyarakat Indonesia masa kini telah banyak ujian dan hambatan yang menimpa, beribu mayat terkapar dibalik puing-puing bangunan, beribu mayat terbujur kaku yang diombang-ambing oleh lautan besar yang disebabkan kejadian-kejadian alam yang bergejola diluar batas akal manusia.

Gempa Bumi, Tsunami, Banjir dan bencana-bencana dalam bentuk lainnya menghampiri kehidupan manusia inoinesia. Banyak alat canggih yang dapat mendeteksi keberadaan dan kapan kedatangan bencana itu, dan bahkan secara geofisika dapat dengan mudah mengkaji penyebab bencana alam, akan tetapi dunia ini berada bukan tanpa sebab.

Gempa terjadi karena pergeseran lempeng-lempeng bumi, Tsunami datang karena terjadi kekosongan di dasar laut lalu menarik semua air dan seketika akan meluap kepermukaan dan menciptakan gelombang laut yang begitu dasyat, terjadi letusan gunung karena gerakan magma di dalam perut bumi sehingga menghasilkan ledakan yang menciptakan api dan semburan abu fulkanik, itu semua bahkan mampu manusia kaji dan jelaskan, akan tetapi siapakah yang mengadakan laut, siapakah yang menciptakan Magma dan siapakah yang menciptakan lempeng-lempeng bumi sehingga mampu membuat goncangan besar di muka bumi ini.

Semuanya akan kembali pada sang pencipta alam semesta, lalu ketika musibah dan bencana menimpa kita semua karena tuhan marah, benci, dendam, dan murka terhadap ciptaanya?, tentu kita bisa berfikir demikian akan tetapi tuhanlah yang lebih tahu akan segalanya.

Ketika musibah menimpa kita anggap laknat tuhan, orang beriman pun terkena musibah, ketika bencana datang lalu kita marah karena tuhan tidak sayang umatnya, sementara para nabi dan rasul sebagai utusanya pun diberi ujian dengan bencana.

”Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan (Ali‘Imran/3:186).

Setiap saat manusia selalu diberi cobaan oleh Allah, baik dengan perkara besar maupun perkara biasa, yang kesemuanya iyalah sebagai ujia pendewasaan berpikir manusia agar lebih banyak bersyukur dan tidak mepersekutukanya dalam bentuk apapun.

Tsunami di Aceh, Gempa Bumi di Lombok, Gempa dan Tsunami Palu Sulawesi Tengah (SULTENG), merupakan ujian bagi manusia yang beriman dan peringatan bagi yang tidak beriman. Orang beriman akan tahu bagaimana cara bersyukur atas nikmat tuhan dan tahu bagaimana mengahdapi cobaan, dan merupakan contoh bagi manusia yang lain bahwa kuasa tuhan tidak dapat dihindari.

Bukankah tuhan telah menampakan sifatnya yang maha perkasa, bukankah tuhan telah memberikan banyak kenikmatan, masihkah kita ingin mengingkari ikut campur tangan-tangan tuhan disetiap kehidupan kita, tidakah kita jadikan sebagai pembelajaran atas apa yang telah menimpa saudara/saudari kita bahwa kekuasaan Allah terdapat di langit dan di bumi.

Semakin tinggi keimanan kita maka semakin besar ujian yang akan kita hadapi dan tidak akan diuji diluar batas kemampuan kita semua. Lalu bagaimana cara kita untuk mengukur keimanan kita, maka ukurlah seberapa besar ujian dan cobaan yang mengadang, dengan sendirinya kita akan paham seberapa tangguh kita menghadapi ujian dan cobaan selama hidup di dunia ini.

Jangan marah bila ditimpah musibah, bisa saja itu ujian bagi anda untuk mengapus seluruh dosa yang pernah anda lalukan, jangan menjauhi tuhan karena tidak memberi harta benda yang banyak, mungkin saja tuhan telah menyiapkan hadiah besar untuk anda diakhirat kelak, karena kuasa tuhan tidak ada yang berlalu tanpa makna.

Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang tertimpa gangguan berupa penyakit atau semacamnya, kecuali Allah akan menggugurkan bersama dengannya dosa-dosanya, sebagaimana pohon yang menggugurkan dedaunannya,” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Bencana sentiasa menimpa seorang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya, dan hartanya sampai ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada kesalahan pada dirinya,” (HR. At Tirmidzi, dan beliau berkata, “Hasan shahih.”, Imam Ahmad, dan lainnya).

“Sesungguhnya besarnya pahala itu berbanding lurus dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang redha, baginya redha(Nya), namun siapa yang murka, maka baginya kemurkaan(Nya),” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Keberadan bencana dan musibah di negeri ini merupakan suatu jabawan akan pertanyaan kita atas kuasa tuhan, gugurnya saudara/saudari kita di tanah bencana karena tuhan telah menutup usia mereka, dan bagi saudara/saudari kita yang masih hidup merupakan suatu bukti bahwa tuhan tidaklah melaknat manusia, melaikan suatu ujian dan cobaan agar manusia saling ingat-mengingatkan antara yang satu dengan yang lain.

Mari kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan agar Allah swt selalu meridhoi setiap tutur kata dan perbuatan kita semua. Jarum yang patah sudah Allah takdirkan, bencana yang datang sudah Allah tetapkan waktunya, kehidupan sudah Allah tentukan kematianya.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua dan dapat menjadi sarana penyadaran diri kita bahwa Allah adalah tuhan yang pantas disembah. Dan tulisan ini bukan untuk mengkeedilkan sebagaian kaum dan bukan untuk menyanjung sekelompok manusia, tetapi untuk dijadikan bahan perenungan bersama.

Penulis : Defisofian Arwon