Caleg DPRD Provinsi NTB ini Pernah Ditangkap Polisi, Lalu Kabur Menggunakan Ojek
Cari Berita

Advertisement

Caleg DPRD Provinsi NTB ini Pernah Ditangkap Polisi, Lalu Kabur Menggunakan Ojek

Jumat, 12 Oktober 2018


Indikatorbima.com – Calon Anggota Legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Daerah Pemilihan 6 (Dompu, Bima dan Kota Bima) Jubir, SH pernah ditangkap dan diamankan oleh pihak kepolisian pada tahun 2006 karena menghadangan kedatangan rombongan Gubernur NTB, H. Lalu Srinata di perempatan jalan Tawali Indah, Desa Tawali, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, seorang diri, Jum’at (12/10/18).

Cerita itu bermula ketika rombongan Gubernur NTB, H. Lalu Srinata melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Bima pada tahun 2006 silam. Salah satu daerah yang dikunjungi oleh rombongan Gubernur NTB adalah Kecamatan Wera. Mendengar informasi kedatngan rombongan Gubernur NTB itu, Jubir pun tidak mau tinggal diam, menurutnya kehadiran Gubernur adalah kesempatan emas untuk menyampaikan aspirasi rakyat.

“Saya merasa perlu melakukan sesuatu atas rencana hadirnya Gubernur NTB yang hendak melakukan kunjungan kerja di Bima. Saya pun menimbang-nimbang isu yang harus disampaikan dan bagaimana caranya,” kata Jubir kepada Indikator Bima sembari mengenang masa-masa perjuangannya itu, Jum’at (12/10/18).

Jubir merasa perlu untuk melakukan sesuatu untuk rakyat, atas rencana kedatangan Gubernur NTB tersebut, Jubir menuangkan pokok-pokok pemikirannya tentang isu Pemekaran Provinsi Pulau Sumbawa dalam bentuk selebaran kertas. Sambil menunggu kedatangan rombongan Gubrnur NTB, Jubir membagikan selebaran tersebut, kepada masyarakat setempat yang sedang menunggu kedatangan Gubernur di pinggir jalan, di pasar dan disekitar terminal.

“Sebelum Gubernur hadir di Wera, saya menyebarkan pokok-pokok pikiran saya mengenai Pemekaran Provinsi Pulau Sumbawa ke tamu undangan dan masyarakat yang akan menjemput kedatangan Gubernur NTB,” terang Jubir

Setelah selesai membagikan selebaran itu, Jubir yang ditemani oleh 6 orang sahabatnya yang berasal dari desa Nunggi melakukan aksi demonstrasi di perempatan jalan tawali indah dengan berorasi. Setelah beberapa lama berorasi, akhirnya rombongan Gubernur NTB tiba ditempat. Jubir bersama 6 orang sahabatnya pun melakukan aksi blokade jalan/blokir. Melihat aksi blokade jalan tersebut, pihak kepolisian melakukan tindakan pengamanan dan penangkapan. Namun, yang diamankan dan ditangkap hanya Jubir seorang. Jubir diamankan oleh dua orang polisi menggunakan motor menuju kantor Kapolsek Wera.

“Nah, kita sempat berdebat dengan pihak kepolisian saat itu. Tapi, tidak lama kemudian 6 orang sahabat saya dipukuli, dan saya sendiri diangkut menggunakan motor menuju kantor Kapolsek Wera,” tutur Jubir.

Sesampainya di kantor Polsek Wera, Jubir dititipkan kepada salah satu polisi yang sedang bertugas. Lucunya, tanpa pengawasan yang ketat, Jubir berhasil kabur menggunakan ojek. Namun, sebelum kabur Jubir meminta izin kepada Kapolsek Wera.
“Saya pikir ngapain saya duduk diam di kursi Polsek Wera, mending saya pulang menggunakan ojek,” cetusnya.

Namun ditengah jalan, Jubir kembali bertemu dengan dua orang polisi yang membawanya ke kantor Polsek Wera tadi. Ojek yang ditumpangi Jubir pun diberhentikan.

“Ngapain kamu pulang.” Kata Jubir meniru pertanyaan polisi yang mengintimidasinya ditengah perjalanan pulang itu.

“Saya sudah bicara dengan komandan kalian, Kapolsek Wera,” jawab Jubir sambil menyuruh dua orang polisi tersebut bicara dengan Kapolsek Wera melalui telepon.

Setelah lolos dari dua orang polisi tersebut, Jubir kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke desa Sangiang. Semenjak peristiwa itu terjadi, nama Jubir selalu menjadi perbincangan masyarakat sebagai salah satu mahasiswa yang berani menyampaikan aspirasi rakyat.

Sejak menjadi mahasiswa, Jubir memang dikenal sebagai salah satu aktivis asal Bima yang perduli terhadap permasalahan rakyat, Karena jiwa aktivisnya telah terasah di Makassar.

Selain melakukan aksi pemblokiran jalan untuk menghadang rombongan Gubernur NTB diatas, Jubir juga pernah mengadvokasi Potongan Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai dampak kenaikan BBM tahun 2005 di beberapa desa di Kecamatan Wera, Salah satunya di Desa Sangiang.

Reporter: Furkan
Editor    : Fuad