Bupati Bima Tidak Berotot
Cari Berita

Advertisement

Bupati Bima Tidak Berotot

Minggu, 21 Oktober 2018

Foto: Bupati Bima, Hj. Indah Dhamayanti Putri
Mayoritas masyarakat Bima menyambung hidup dengan cara bekerja sebagai petani dan nelayan. Dalam pertanian, masyarakat Bima biasanya menanam padi, kedelai, bawang, kacang dan sayur-mayur, baik untuk di konsumsi sendiri maupun untuk dijual. Sementara itu, masyarakat Bima di daerah pesisir berusaha memanfaatkan kekayaan laut sekitar untuk mencari ikan.

Letak geografis daerah Bima bisa dikategorikan sebagai daerah agraris yang luas dan daerah pepsisir yang indah, namun yang menjadi kendati ialah kemampuan pemerintah yang berkuasa untuk mengelolanya dengan baik dan benar, karena baik saja tidak cukup untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur, akan tetapi harus benar asas pemanfaatannya. Untuk mengenlola Bima tidak cukup dengan menyadarkan masyarakat akan pentingnya kerja sama antara rakyat dan pemerintah, namun harus menitip beratkan pada konsep dan implementasi.

Slogam “Bima Ramah” yang diperkenalkan oleh Hj. Indah Dhamayanti Putri pada masa periodesasinya memimpin Kabupaten Bima saat ini, bukan hanya menjadi buaian kata yang terucap oleh bibir, melainkan suatu slogam yang tapat diwujudkan dalam bentuk yang nyata pada lingkungan masyarakat Bima.

Makna kata ramah dalam KBBI benyebutkan “Ramah :baik hati dan budi bahasanya, manis tutur kata dan sikapnya,suka bergaul dan menyenangkan dalam bergaul”, jika dikaitkan dengan kondisi masyarakat Bima saat ini, maka tidak ada kata ramah dan aman di dalamnya. Padahal untuk meningkatkan ekonomi diperlukan kondisi sosial yang tenang dan aman. Sebab, pengkajiannya sederhana bahwa kedamaian sosial yang tinggi akan menimbulkan pembangunan ekonomi yang matang.

Masyarakat Bima hari ini, sangat jauh dari karakter keramahan yang diimpikan oleh Bupati Bima, konflik antar saudara, perkelahian, pembunuhan, pemerkosaan, terorisme, perselingkuhan dan korupsi serta pungli ikut melengkapi kehancuran moral dalam lingkungan masyarakat Bima.

Karakteristik masyarakat Bima bisa dibilang berwatak keras dan pemberani, terlihat dari banyaknya terjadi kekerasan dan pembunuhan, tidak jarang terdengar kabar kadang kita menyaksikan sendiri pola perilaku yang jauh dari sifat yang normatif dan ramah. Dengan keadaan karakter masyarakat Bima yang kental dengan sikap yang agresif membutuhkan pemimpin yang energik dan memiliki ketegasan dalam menentukan sikap.

Sejauh ini, selama kepemimpinan Umi Dinda, sering terjadi perkelahian antara kelompok, dan bahkan antar desa, walaupun jauh sebelum Umi Dinda memimpin telah banyak terjadi keonaran.

Dari tema awal, kenapa saya katakan Bupati Bima tidak berotot, yang pertama Umi Dinda adalah seorang perempuan dan mencoba memimpin masyarakat yang bernotabene berwatak keras, yang kedua, terlihat dari penanganan permasalahan masyarakat Bima, untuk menyelesaikan permasalahan tidak hanya melakukan perbaikan “represif” tetapi harus mampu menjegah “regresif” sesuatu sebelum terjadi. Jika kita lihat bahwa pemerintah hanya menyerukan untuk menghindari perbedaan yang mengakibatkan perpecahan, yang seharunya bagaimana pemerintah melakukan tindakan yang lebih progres lagi untuk mengubah kondisi seperti saat ini.

Menangani kehidupan masyarakat kontemporer diperlukan langkah yang matang dalam mengatur ketertiban, masyarakat Bima bukan lagi masyarakat yang baru mengenal kehidupan bernuansa hukum rimba, melainkan sudah jadi kelajiman dan meluas, hal itu didukung dengan gejala-gejala yang terjadi dari masa kemasa. Maka sebenarnya, Bima membutuhkan pemimpin yang sigap dalam menanggapi dan pro aktif untuk menghadirkan konsep-konsep baru dalam menata Bima dan memperlihatkan Bima ramah yang diidamkan.

Kabupaten Bim sendiri terdiri dari 18 kecamatan dan 191 Desa. Kabupaten Bima membutuhkan perhatian utuh, pembangunan mental dan pertumbuhan ekonomi yang menyeluruh dari pemerintah, agar mampu bersaing dengan daerah-daerah kabupaten lain di 34 provinsi di Indonesia ini. Umi Dinda selaku Bupati Bima harus banyak belajar dari langkah-langkah yang dilakukan oleh bupati sebelumnya, salah satu contoh yang telah diterapkan oleh mantan bupati yakni almarhum bapak H. Feri Julkarnain, telah banyak memberikan kontribusi besar untuk Bima dan masyarakanya dalam peningkatan pertumbuhan ekononi serta sikap dalam menangani problematika yang ada di tanah Bima.

Antusias masyarakat dalam meningkatkan pertumbuhan kebutuhan hidup dan melawan kebajikan tergantung bagaimana seorang pemimpin, ketika pemimpinnya bagus dalam menjalankan tugasnya, maka pola perilaku masyarakat pun akan bagus, ketika seorang pemimpin mampu memberikan dorongan positif dalam kehidupan masyarakat, tidak menuntut kemungkin masyarakat akan teraliri oleh sikap dan tindakan positif dari pemimpinnya.

Perilaku masyarakat bima yang sangat keras, sebenarnya sangat menguntungkan bagi pertumbuhan bima kedepanya, akan tetapi memerlukan penanganan yang tepat dan progres. Kenapa hari ini banyak kita temukan fenomena-fenomena yang sangat tidak positif di lingkungan masyarakat Bima, itu semua dikarenakan tidak terarahnya pola pemerintah untuk memobilisasi masyarakat menuju kemajuan yang diharapkan.

Telah banyak mahasiswa yang menyatakan sikap dengan melakukan aksi unjuk rasa dan gerakan-gerakan keperdulian terhadap kabupaten bima, namun dinilai tidak baik dan bahkan ditangani dengan sikap yang kurang bermoril. Seharusnya pemerintah harus bersikap dewasa pula dalam menyambut aspirasi-aspirasi yang demikian itu. Jika dikaji dalam konsep politik, maka tindakan diskriminalisasi terhadap rakyat sendiri adalah bentuk ketidakdewasaan dalam berpolitik dan dinilai belum mampu untuk dijadikan sebagai pemimpin.

Untuk memperlihatkan bagaimana seorang pemimpin mampu untuk menjalankan roda pemerintahan, bukan seringnya dipuji dan disanjung melalui media, akan tetapi bagaimana masyarakat merasakan dampak positif dari kinerja pemimpin tersebut, yang dapat dilihat langsung bagaimana antusias masyarakat mendukung pemerintah.

Namun, hari ini sangatlah jauh dari harapan masyarakat, sikap pemimpin yang anti kritik mudah kita jumpai di negeri ini, termasuk pemimpin Kabupaten Bima, tidak mampu menberikan energi positif, belum mampu menuntaskan kemelaratan rakyat, dan masih banyak sekali yang perlu dikoreksi dari arah perjuangan pemerintah pada kepemimpinan bupati Indah Damayanti Putri ini.

Penulis: Defisofian Arwon A.Majid