Bimaku Diambang Huru-hara
Cari Berita

Advertisement

Bimaku Diambang Huru-hara

Selasa, 09 Oktober 2018

Foto: Penulis (Memegang Pengeras Suara)
Di balik keheningan dan damainya suasana Bima atau “negeri 12 mentari”, ada sepercik harapan yang ingin diraih. Di antara harapan-harapan itu, muncul sepenggal rasa dimana kasih sayang penghuni negeri ingin membangun Bima lebih dari yang lain.

Dalam riak-riuknya suara generasi yang merindukan revolusi, disitu pula suara itu dibungkam dan dibuat kaku oleh penguasa Bima.

Bima dulunya penuh dengan kasih sayang, kini menjadi kota yang penuh dengan khayalan karena suara tak lagi ingin didengar oleh penguasa yang berlabelkan dinasti.

Bima yang semulanya sebagai “negeri 12 mentari”, negeri yang penuh dengan keindahan, ketenangan, dan keharmonisan kini menjadi berbalik menjadi kota pemarah dan berdarah.

Lahirlah ketakutan di dalam hati dan mulai bertanya. Adakah generasi yang tetap berdiri memperjuangkan seribu kisah manis itu?

“Bima Ramah”, hanyalah sebuah slogan Bupatinya dalam mencapai tujuan politik “kendaraan politik”. Bupati Bima mencoba menunjukkan wajah ayunya di depan publik, namun rupanya “Serigala berbulu Domba”.

“Perlu diingat Bima adalah tanah keramat, siapa yang berhati busuk yakin dan percaya dia akan binasa”.

Kamu mencoba pasang antek-antek untuk membungkam generasi penerus negeri 12 mentari “Bima”. Kamu bayar preman untuk melenyapkan generasimu, dan mencoba memangkas ruang gerak generasimu dalam semua bidang.

Akan tetapi, hal itu tidak akan menyurutkan semangat juang anak yang terlahir dari rahim yang tersadarkan akan nilai dalam keharmonisan sosial.

kami akan hadir dengan senjata-senjata kata yang lebih mematikan dari peluru preman yang kamu bayar ibu ratu.

Bima kini menangis melihat penguasa pribuminya saling mengklaim, bahkan saling tumpang tindik demi meraih sebuah kekuasaan yang bersifat sementara. Akhirnya, generasi mudalah yang menjadi korban pembungkaman.

Sadarlah wahai penguasa lalim, jangan sampai generasi muda Bima menjadi negeri komunis sejenak demi membuatmu sadar bahwa jabatan bukan segalanya.

Penulis : Kiliman Ariansyah
Editor   : Jaitun